Kisah Islamnya Raja Yamamah

Rasulullah SAW menulis surat kepada Tsumamah bin Utsal Al-Hanafi, Raja Yamamah.

MgIt03
Ilustrasi Sahabat Nabi
Red: Agung Sasongko

REPUBLIKA.CO.ID, Rasulullah SAW menulis surat kepada Tsumamah bin Utsal Al-Hanafi, Raja Yamamah. Rasulullah SAW memasukkan Tsumamah dalam daftar raja-raja yang perlu dikirimi surat karena ia seorang raja yang berpengaruh di kalangan rakyatnya.

Baca Juga

Ia adalah pemimpin Bani Hanifah yang memiliki pandangan luas dan disegani serta sukar ditentang kehendaknya. Tsumamah menerima surat Rasulullah SAW dengan sikap menghina dan perilaku tidak terpuji.

Bahkan, ia memperlihatkan keangkuhan dan kesombongan. Telinganya tertutup untuk mendengar seruan Rasulullah SAW.

Ia tidak hanya menolak ajakan itu, tapi bertekad untuk menghabisi Rasulullah dan mengubur dakwah Islamiyah serta memadamkan cahayan Ilahi itu. Tsumamah hampir saja berhasil melaksanakan keinginannya. Ia nyaris berhasil membunuh Rasulullah. Namun, Allah SWT selalu melindungi nabi-Nya.

Tsumamah hanya berhasil mencelakai beberapa orang sahabat beliau, dan membunuh mereka dengan buas dan kejam. Karena itu Rasulullah mengumumkan kepada kaum Muslimin, bahwa halal menumpahkan darah Tsumamah.

 

Suatu ketika Tsumamah bermaksud melaksanakan umrah, la berangkat ke Makkah untuk melaksanakan tawaf dan menyembelih kurban sesuai dengan adat jahiliyah. Namun tanpa diduga sebelumnya, di perbatasan Madinah, ia dipergoki sebuah pasukan patroli kaum Muslimin.

Mereka membawa Tsumamah ke Madinah dan mengikatkannya pada sebuah tiang masjid, menunggu keputusan Rasulullah. Regu patroli itu tidak mengetahui kalau yang mereka tangkap adalah orang yang darahnya dihalalkan oleh Rasulullah, Tsumamah bin Utsal, Raja Yamamah.

Sungguh tak dinyana, tatkala memasuki masjid dan mengetahui keadaan Tsumamah dan siapa dia, Rasulullah memperlakukannya dengan baik dan memerintahkan kepada para sahabat untuk tidak menyakiti Raja Yamamah itu.

“Sediakan makanan dan susu. Kirimkan kepada Tsumamah bin Utsal di masjid!” pinta Rasulullah kepada para sahabatnya.

Ketika dalam keadaan diikat di tiang masjid, Tsumamah diperlakukan dengan baik. Dengan kedua mata kepalanya sendiri ia dapat melihat bagaimana indahnya kehidupan kaum Muslimin, begitu erat tali persaudaraan mereka, dan betapa mulia ibadah yang mereka lakukan. Kaum Muslimin selalu shalat berjamaah, bertasbih dan sujud kepada Allah dalam setiap kesempatan.

 

Setelah bebas, Tsumamah pergi ke sebuah perkebunan kurma di pinggiran Kota Madinah. Di tempat itu terdapat sebuah perigi dan memancar sebuah mata air. Tsumamah turun dari untanya dan mandi sebersih mungkin.

Setelah itu, ia duduk merenungi apa yang telah ia alami. Merenungi segala tindak tanduk dan perlakuan Nabi serta kaum Muslimin terhadapnya. “Alangkah damainya mereka. Betapa erat tali persaudaraan mereka.” ujar Tsumamah dalam hati.

Cahaya ilahi mulai manyinari kalbunya. Perlahan ia bangkit berdiri dan memutuskan untuk kembali ke Kota Madinah.

Ketika tiba di depan masjid, Tsumamah berpapasan dengan kaum muslimin. Di hadapan mereka ia berseru mengucapkan syahadat, “Asyhadu an la ilaha illallah. Wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah."

Para sahabat segera membawanya menemui Rasulullah. Di hadapan beliau Tsumamah berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah, dulu tidak ada orang yang paling kubenci selain engkau, sekarang tidak ada orang yang paling kucintai selain dirimu. Demi Allah, tidak ada agama yang paling kubenci selama ini selain agamamu.”

 

 

“Sekarang, agamamulah yang paling kucintai dari segala agama. Demi Allah, tidak ada negeri yang paling kubenci selama ini selain negerimu. Sekarang negeri inilah yang paling kucintai di antara segala negeri. Saya telah banyak menewaskan para sahabatmu. Hukuman apa pun yang hendak engkau jatuhkan, saya terima!”

Rasulullah SAW menjawab, “Tidak ada lagi hukuman atasmu, Tsumamah. Islam telah menghapus segala dosa yang telah engkau perbuat sebelum masuk Islam.”

Kemudian Rasulullah memberi kabar gembira kepada Tsumamah berupa kebaikan dan kebahagiaan yang dijanjikan Allah karena dia telah masuk Islam. Wajah Tsumamah cerah dan berseri-seri begitu mendengar uraian Rasulullah.

Ia pun berkata, “Demi Allah, saya berjanji akan menebus segala kesalahan yang pernah saya lakukan. Saya berjanji akan menghabisi kaum musyrikin yang mengancammu dan agama Allah. Saya dan rakyat Yamamah berjanji akan membela agama Allah sampai titiik darah penghabisan.”

“Semoga Allah memberkatimu, Tsumamah!” jawab Rasulullah.

 

“Wahai Rasulullah, ketika pasukan patroli Kaum Muslimin menangkap saya, saya dalam perjalanan pergi umrah. Bolehkan saya meneruskannya?” tanya Tsumamah penuh harap. 

 

“Boleh!” jawab Rasulullah, “Tapi hendaklah dikerjakan sesuai dengan syariat dan ajaran Allah dan Rasul-Nya.” Kemudian beliau mengajarkan cara-cara ibadah umrah dan haji menurut ajaran Islam kepada Tsumamah.

 
Berita Terpopuler