Wednesday, 17 Rabiul Akhir 1442 / 02 December 2020

Wednesday, 17 Rabiul Akhir 1442 / 02 December 2020

Cerita Pengalaman Liputan Wartawan Republika

Persib Vs Persija: Jangan Ada Lagi Darah di Sepak Bola

Rabu 30 Sep 2020 09:23 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Kasatreskrim AKBP M. Yoris Maulana menunjukkan barang bukti penganiayaan yang mengakibatkan warga Jakarta meninggal saat pertandingan Persib Vs Persija.

Kasatreskrim AKBP M. Yoris Maulana menunjukkan barang bukti penganiayaan yang mengakibatkan warga Jakarta meninggal saat pertandingan Persib Vs Persija.

Foto: Zuli Istiqomah / Republika
Satu suporter Persija meninggal usai dikeroyok saat laga Persib vs Persija.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Hartifiany Praisra, Jurnalis Republika

BANDUNG -- Jangan ada lagi darah di sepak bola. Mungkin kalimat ini terlalu berlebihan, tapi inilah harapan saya selama saya masih ada di kompartemen Olahraga di Republika. Saya masih ingat darah yang saya lihat di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung pada 23 September 2018 silam.

Iya, tanggal itu tidak asing lagi bagi para pecinta sepak bola tanah air. Laga antara Persib kontra Persija yang berakhir dengan skor 3-2 itu bak mimpi buruk bagi saya.

Saya ingat satu hari sebelum pertandingan ada konferensi pers prapertandingan yang digelar di Graha Persib, Jalan Sulanjana, Kota Bandung. Konferensi pers Persib memang selalu ramai tidak hanya oleh media tapi juga suporter Persib, tapi itulah awal mimpi buruk saya.

Pelatih Persija Jakarta saat itu, Stefano 'Teco' Cugurra mendapatkan kecaman dari salah satu oknum suporter Persib yang sengaja datang. Bahkan pemainnya, Maman Abdurrahman mendapat sindiran untuk bertindak 'sopan' selama di Bandung.

Keesokan harinya, saya yang biasanya pergi ke Stadion GBLA dengan menggunakan motor sendiri lebih memilih untuk ikut teman saya dari media lain, Ferdyan. Ketika Ferdyan datang, dia memakai motor lama daripada motor sport-nya. Ia mengaku hatinya tidak akan terlalu sakit jika motor lama itu rusak ketika pertandingan itu berujung rusuh, dibandingkan dengan kehilangan motor sport kesayangannya.

Kami memang sengaja datang lebih cepat, tapi kami tetap terlambat. Bahkan kami sempat kesulitan masuk dan parkir di area ring keempat, hanya khusus ofisial dan keamanan, kata petugas penjaga gerbang.

photo
Anggota Polres Indramayu mengangkat keranda jenazah Haringga Sirila menuju tempat pemakaman di Desa Kebulen, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu, Senin (24/9). Suporter Persija itu tewas dikeroyok saat hendak menonton pertandingan Persija vs Persib. - (dok. Humas Polres Indramayu)
Kartu identitas liga saya saat itu dipinjamkan ke fotografer Republika, Abdan yang belum sempat mendaftarkan diri sebagai pewarta kompetisi. Namun insting wartawan dan perempuan saya bekerja dengan baik saat itu, tidak menoleh saat dipanggil penjaga gerbang untuk memperlihatkan identitas saya. Sebuah sikap yang harus dimiliki perempuan ketika kesal dengan pasangannya.

Biasanya sembari menantikan laga dimulai, saya berkeliling menemani Ferdyan untuk mencari berita sisi lain. Tapi karena suasana sudah ramai, saya memilih untuk diam di ruang pers. Wartawan yang bertugas untuk meliput dari tribun pun diarahkan naik ke tribun media lebih cepat dari biasanya.

Inilah yang saya tidak suka dari setiap pertandingan Persib di Stadion GBLA, tribun media tidak pernah steril dari non media. Entah itu siapa, atau siapanya siapa, atau dalam istilah sunda, 'sebagai', ada di tempat media. Saya mendapatkan kursi Chitose dari teman media yang sadar bahwa saya terganggu dengan para 'sebagai' ini.

Ketika kedua tim hendak pemanasan, suara riuh terdengar dari suporter untuk menyuraki tim tamu. Tiba-tiba suara riuh itu menjadi suara batuk yang menyakitkan.

Ternyata di luar stadion, polisi sedang melemparkan gas air mata untuk mengurai kerumunan masa, yang disinyalir tidak memiliki tiket, untuk membubarkan diri.

Saya yang belum pernah merasakan gas air mata, terlambat menyadari bahwa ada yang salah dari organ penglihatan dan pernapasan saya. Mata saya tiba-tiba berair, hidung saya seperti mencium bau menusuk dan dada saya sesak.

Tribun media yang tadinya penuh, semakin penuh karena tribun lain menitipkan anaknya untuk diamankan. Bahkan ada beberapa penonton yang ternyata sudah menyiapkan pasta gigi sebagai pertolongan pertamanya.

photo
Kasatreskrim AKBP M. Yoris Maulana menunjukkan barang bukti penganiayaan yang mengakibatkan warga Jakarta meninggal saat pertandingan Persib Vs Persija. - (Republika/Zuli Istiqomah)
Saya hanya menonton selama 25 menit pertama, selain tubuh saya masih beradaptasi dengan gas air mata, saya merasa risih dengan beberapa orang di belakang saya. Beruntung saya bekerja di Republika, saya meminta redaktur saya untuk tidak membuat jalannya pertandingan, terlebih sinyal di Stadion GBLA yang bapuknya tidak ada yang menandingi.

Sisa laga saya hanya duduk di ruang media, berusaha menonton melalui streaming atau sekadar bercengkrama dengan awak media lain yang juga risih berada di tribun media. Menit 70 jika saya tidak salah ingat, polisi yang awalnya berjaga di ring dua, mendadak hilang.

Bahkan di ruang keamanan yang biasanya diisi pimpinan kepolisian pun mendadak ramai. Sama seperti tubuh saya, otak saya lambat peka dengan kejadian yang tidak biasa itu.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA