Thursday, 5 Syawwal 1441 / 28 May 2020

Thursday, 5 Syawwal 1441 / 28 May 2020

Terkubur Pandemi

Senin 06 Apr 2020 11:40 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Terkubur Pademi.

Terkubur Pademi.

Foto: Thoudy Badai/Republika
Saya akan menjagamu sampai jiwa ini tercerabut dari jasad

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Teguh Firmansyah*

Semalam kami masih bercanda mesra, kini ia harus terbaring di rumah sakit tak berdaya. Dering ponsel berbunyi nyaring. Aku bangun dengan tergagap. Tak biasanya ada telepon pagi-pagi buta seperti ini. Kucoba menengok ke arah dinding.  Jarum jam baru menunjukkan waktu pukul 04.00 pagi. Sayup-sayup terdengar suara orang mengaji dari masjid tak jauh dari apartemenku tinggal.

Aku berdiri dan langsung melihat telepon genggam di atas meja yang biasa kupakai untuk menulis. "Randi," nama itu terlihat di layar ponsel.
Seketika jantung ini langsung berdegup cepat. Rasa kantuk hilang, dan kubertanya-tanya di dalam hati. "Ada apa Randi pagi-pagi ini menelepon?" "Apakah ada suatu hal yang darurat?" 

Pertanyaan itu terus muncul di kepala, sampai akhirnya aku pun mengangkat telepon itu. "Assalamualaikum, ada apa Randi?" tanyaku dengan pelan. 

Namun bukan Randi yang menjawab, melainkan suara seorang wanita yang sudah tak asing bagiku. Ya, suara mezosopran dan campuran logat jawa khas Solo yang membuatnya selalu mudah diingat. 

"Dik Rima, nuwun sewu enggeh, mau mengabarkan, Randi mendadak masuk ke rumah sakit di ICU," ujar wanita itu dengan suara sedikit terbata-bata.

Wanita tersebut tak lain adalah bulik Randi. Kami biasa memanggil beliau Bulik Jum. Sontak aku kaget mendengar kabar itu, bak sambaran petir di siang bolong. Aku coba menarik nafas, dan berusaha menenangkan diri.

"Ada apa dengan Randi, Bulik? Kenapa bisa ia sampai ke ICU?," tanyaku.

"Anu, nuwun sewu Dik, Randi sesak nafas, nafasnya susah, sekarang di rumah sakit umum Tangerang," jawab Bulik.

Bulik tak banyak bicara lagi. Ia hanya menyarankanku agar segera datang ke rumah sakit.

Aku pun tak pikir panjang, mengambil kerudung hitam yang biasa ku gantung di balik pintu. Kubalut kaos tidur kebanggaanku dengan jaket merah marun pemberian Randi.

Kubuka layanan aplikasi transportasi daring, dan memesan layanan taksi dengan tujuan Rumah Sakit Umum Tangerang. Jarak antara rumah sakit dan apartemenku di kawasan Serpong sekitar tujuh kilometer.

Pada jam kerja, mungkin butuh sekitar 45 menit untuk sampai ke rumah sakit. Namun karena waktu masih sangat pagi perjalanan bisa jauh lebih cepat.

Dan beruntung, aku langsung mendapatkan driver. Kubuka pintu taksi daring itu dan kemudian memberi pesan ke sopir, "Cepat ya pak," pintaku.

Sang driver mengiyakan. Dia tancap gas tanpa ragu. Polisi tidur diterabasnya dengan hanya sedikit menurunkan kecepatan. Spedometer menunjukkan kecepatan 60 km per jam. Goyangan cukup terasa.

Aku berusaha untuk tenang. Namun tetap saja, pikiran ini berkelibat ke mana-mana. Ya, baru semalam kami saling bercanda mesra di ujung telepon, meski Randi sebetulnya memang tidak dalam kondisi prima. Ia sempat demam, dan sedikit batuk.

Namun Randi berbicara tetap dengan gayanya yang jenaka. Anak pertama dari dua bersaudara itu bahkan tak sekalipun menyinggung penyakitnya. Dan lagi-lagi, ia kembali membuatku tersenyum dan tertawa.

"Sebelum ketemu kamu, aku kehilangan sesuatu, tapi setelah ketemu kamu. Aku menemukannya," kata Randi.

"Apa itu mas," tanyaku dengan penuh penasaran.

"Tulang rusuk," goda Randi dengan gombalannya.

"Ah dasar kamu mas!! gombalannya basi. Kamu nyontek di Google ya? hahaha ..." 

Kami pun tertawa lepas melepaskan kepenatan akibat kerja di rumah yang sudah berjalan tiga hari ini. Kami tertawa seolah hanya kami berdua di dunia ini. Tapi, bagaimanaa pun aku tetap menghargai usaha Randi.

"Terima kasih usahanya mas, aku kasih nilai 7,5 deh .. hihihi ..," candaku.

Randi sedikit menahan tawanya. Tapi ia belum berhenti. Kini Insinyur jebolan universitas ternama di Bandung itu pun melanjutkan gombalan-gombalannya dengan syair-syair yang lebih romantis. 

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, Dik … seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu… Aku ingin mencintaimu dengan sederhana… seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada… ”

Sekarang aku terenyuh. Aku benar-benar tak kuasa menitikan air mata. Aku terharu dengan kesungguhannya. Aku terharu akan kerja kerasnya. Aku terharu dengan buaian-buaiannya yang membuatku merasa sangat teristimewakan.

Ia selalu membuatku tersenyum. Kalau pun sedang bersedih, Randi memilih untuk menahan diri dan tetap tegar di hadapanku. 

"Mas kali ini, aku kasih kamu nilai 10, syair yang indah mas. Dan aku berharap kamu akan mencintaiku apa adanya. Seperti syair yang kau lantunkan," kataku seraya menambahkan, "Semoga Allah meridhoi kita, Mas."

Syair cinta ini merupakan kutipan penyair legendaris Indonesia Sapardi D Darmono. Syair yang berjudul ‘Aku Ingin’ ditulis Sapardi pada 1989. Pada tahun yang sama Sapardi juga membuat puisi fenomenal  ‘Hujan di Bulan Juni’.

"Saya selalu berjanji, Dik, saya akan menjagamu sampai nafas ini terhenti. Saya akan menjagamu sampai jiwa ini tercerabut dari jasad. Kita akan senang bersama, kita susah bersama, kita bangun mimpi kita bersama," tutur Randi meyakinkan.

Kami berbicara sekitar 20 menit. Berbicara dari satu topik ke topik lainnya. Dari rencana satu ke rencana lainnya.  Kami pun sejatinya akan menikah pada bulan April ini. Namun akibat pandemi virus Corona, semua rencana itu gagal dan kami terpaksa menundanya hingga Desember.

Kami meminta penjadwalan ulang ke pihak gedung dan katering. Undangan yang sudah siap kami edarkan pun terpaksa kami tahan dulu.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA