Monday, 9 Syawwal 1441 / 01 June 2020

Monday, 9 Syawwal 1441 / 01 June 2020

Wakil Ketua MPR Respons Studi Dunia Terkait Corona Indonesia

Jumat 27 Mar 2020 13:46 WIB

Rep: Febrianto Adi Saputro/ Red: Gita Amanda

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat meminta pemerintah mengevaluasi kebijakannya terkait penanganan kasus corona di Indonesia.

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat meminta pemerintah mengevaluasi kebijakannya terkait penanganan kasus corona di Indonesia.

Foto: mpr
Pemerintah diminta melakukan evaluasi atas kebijakan yang diambil terkait corona

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah studi yang dilakukan akademisi di the London School of Hygiene & Tropical Medicine memperkirakan baru dua persen kasus positif corona di Indonesia yang sudah terlaporkan. Menanggapi itu, Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat menilai pemerintah perlu menjelaskan adanya analisa yang beredar dari berbagai pihak.

"Saya rasa pemerintah perlu  menjelaskan dan menanggapi munculnya sejumlah analisa dari berbagai pihak ini. Sehingga tidak terjadi kebingungan dan kita semua memahami kondisi saat ini, termasuk menerima pertimbangan yang mendasari langkah yang diambil pemerintah," kata Lestari dalam keterangan tertulisnya, Kamis (26/3) lalu.
 
Legislator yang akrab disapa Rerie ini juga meminta pemerintah melakukan evaluasi atas langkah-langkah dan kebijakan yang telah diambil berkenaan dengan penanganan wabah Covid-19. Dirinya juga mendorong pemerintah untuk mengambil langkah-langkah lanjutan, termasuk langkah radikal bila diperlukan.

Selain itu, Rerie juga menyoroti data yang dikeluarkan oleh laman web worldometers pada Selasa (24/3) lalu. Ia memaparkan, dalam data tersebut diketahui Indonesia menduduki peringkat empat dunia dalam rasio kematian pasien positif corona.

Posisi pertama ditempati oleh negara San Marino dimana rasio kematiannya 11,2 persen, yakni dari 187 pasien positif corona, 21 meninggal dunia. Posisi kedua ditempati oleh Italia dengan 69.176 pasien positif, 6.820 meninggal (9,8 persen).

Di posisi ketiga adalah Iraq dengan rasio kematian 8,5 persen, yakni dari 316 pasien positif Covid-19, 27 meninggal. Berdasarkan data dari 24 provinsi, Indonesia di posisi ke empat dengan rasio kematian 8 persen, yakni dari 686 positif Covid-19, 55 meninggal dunia.

Menurut Rerie, statistik yang dirilis oleh worldometers terhadap fenomena penyebaran Covid-19 itu patut menjadi perhatian semua kalangan. Sebab, eskalasi penularan virus belum menunjukkan tanda-tanda menurun.

Baca Juga

Ia menjelaskan, rasio kematian Covid-19 ini tidak bisa dilepaskan dari kualitas perawatan pasien sesaat setelah divonis positif, di samping sistem imunitas pasien itu sendiri. "Menekan rasio kematian Covid-19 tergantung bagaimana kesiapan semua pihak dalam menyediakan perawatan pasien positif dengan standar yang  baik," ujar politikus Partai Nasdem itu.

Menurutnya upaya menekan rasio kematian tidak hanya menjadi tugas pemerintah, melainkan juga perlu didukung oleh peran masyarakat. Masyarakat harus mampu menjaga diri dan lingkungannya, dengan demikian diharapkan angka terpapar bisa ditekan dan sekaligus menekan angka kematian juga.

Selain  itu, Rerie mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bergotong royong membantu pemerintah agar dapat menyiapkan jumlah tenaga medis yang memadai, fasilitas kesehatan yang mumpuni, hingga persediaan alat perlindungan diri (APD) yang cukup hingga masa darurat yang ditentukan pemerintah berakhir. Rerie juga mengapresiasi langkah pemerintah dalam pemenuhan kebutuhan dasar dalam menangani wabah Covid-19 ini.

"Pemerintah sudah membebaskan pajak alat kesehatan penanganan corona, juga terus menambah tenaga medis di wilayah-wilayah yang tertular wabah corona tertinggi. Dan yang paling penting juga pemerintah telah menyediakan insentif bagi masing-masing pelaksana tugas," ungkapnya.

Sebelumnya, para akademisi di the London School of Hygiene & Tropical Medicine memperkirakan baru dua persen kasus positif corona di Indonesia yang sudah terlaporkan. Itu artinya, masih ada 34 ribu kasus yang belum terdeteksi.

“Keganasan (Covid-19) sangat berkorelasi terhadap usia, yang artinya kami harus menghitung itu agar lebih akurat," ujar Timothy Russell, penulis utama kajian dari the London School of Hygiene & Tropical Medicine.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 
 
Terpopuler