Mesir Tagih Janji Dana Bantuan Penanganan Perubahan Iklim

Dana 100 miliar dolar AS dijanjikan negara maju untuk bantu negara miskin.

EPA-EFE/KHALED ELFIQI
Petugas lalu lintas polisi Mesir mengarahkan mobil di pintu masuk Pusat Konvensi Internasional Sharm El Sheikh, selama pembukaan KTT iklim COP27, di Sharm el-Sheikh, Mesir, 06 November 2022. Konferensi Perubahan Iklim PBB 2022 (COP27), berjalan dari 06 hingga 18 November di Sharm El-Sheikh, diharapkan menjadi tuan rumah salah satu peserta dengan jumlah terbesar dalam konferensi iklim global tahunan dengan lebih dari 40.000 peserta yang diperkirakan termasuk kepala negara dan pemerintahan, masyarakat sipil, media, dan pemangku kepentingan terkait lainnya. Acara tersebut akan mencakup KTT Implementasi Iklim, hari tematik, inisiatif unggulan, dan kegiatan Zona Hijau yang terkait dengan iklim dan tantangan global lainnya.
Rep: Kamran Dikarma Red: Friska Yolandha

REPUBLIKA.CO.ID, KAIRO -- Mesir selaku tuan rumah United Nations Climate Change Conference (COP27) mendesak para delegasi negara yang berpartisipasi dalam acara tersebut untuk segera mengimplementasikan janji-janji penanganan perubahan iklim. Hal itu termasuk dana yang dijanjikan oleh negara-negara maju untuk membantu negara-negara miskin mengatasi perubahan iklim.

Baca Juga

“Beralih dari negosiasi dan janji ke era implementasi adalah prioritas,” kata Presiden COP27 Sameh Shoukry, Ahad (6/11/2022), dikutip laman UN News. Shoukry saat ini juga menjabat sebagai menteri luar negeri Mesir.

Shoukry mengungkapkan, dana 100 miliar dolar AS yang dijanjikan negara maju untuk membantu negara miskin menangani perubahan iklim harus direalisasikan. “Negosiasi (selama dua pekan ke depan) mudah-mudahan akan membuahkan hasil. Saya mendesak Anda semua untuk mendengarkan dengan seksama dan berkomitmen untuk implementasi serta mengubah komitmen politik menjadi kesepakatan dan pemahaman serta teks dan resolusi yang dapat kita semua implementasikan,” ucapnya.

Dia memperingatkan, implikasi dari negosiasi di COP27 akan mempengaruhi kehidupan dan mata pencaharian jutaan orang di seluruh dunia yang menderita dampak perubahan iklim. “Kita tidak dapat menanggung kelalaian atau kekurangan apa pun; Kita tidak bisa mengancam masa depan generasi mendatang,” kata Shoukry.

Peningkatan bantuan keuangan ke negara-negara miskin untuk menangani perubahan iklim telah menjadi salah satu isu utama dalam COP27. Isu utama lainnya adalah membatasi pemanasan global hingga 1,5 derajat Celcius. Terkait pendanaan ke negara-negara miskin, Wakil Sekretaris Eksekutif UN Framework Convention on Climate Change, Ovais Sarmad, telah sempat menyinggung hal tersebut dalam sebuah wawancara khusus dengan Anadolu Agency yang dipublikasikan Kamis (3/11/2022) pekan lalu.  

Dia menekankan, janji pendanaan iklim sebesar 100 miliar dolar AS dari negara-negara maju ke negara-negara berkembang perlu dipenuhi. "Janji-janji itu telah dibuat dan perlu dipenuhi. Kami di PBB berusaha sangat keras untuk menyatukan pihak-pihak terkait guna menemukan sumber daya, dana yang dibutuhkan oleh negara-negara berkembang, untuk benar-benar memenuhi janji itu,” ucap Sarmad.

Dia menilai, dana tersebut sangat penting dalam strategi adaptasi menghadapi perubahan iklim. “Adaptasi adalah bagian yang sangat penting dalam mengatasi perubahan iklim karena mereka adalah negara-negara yang rentan, negara-negara di selatan global yang terkena dampak sangat parah oleh perubahan iklim,” katanya.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
Berita Terpopuler