Tanda-Tanda Kanker Bisa Dideteksi dari Kebiasaan Buang Air Besar

Biasakan mencermati kebiasaan buang air besar agar tahu kapan harus periksakan diri.

www.freepik.com
Perut mulas (Ilustrasi). Cermati frekuensi buang air besar hingga konsistensi kotoran sebagai bentuk kewaspadaan akan gejala kanker.
Rep: Shelbi Asrianti Red: Reiny Dwinanda

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mencermati kebiasaan buang air besar (BAB) merupakan hal yang perlu dilakukan karena bisa menjadi langkah awal mendeteksi kondisi kesehatan serius. Salah satunya, tanda-tanda kanker yang bisa dideteksi dari kebiasaan BAB.

Dokter umum Sarah Jarvis menyarankan setiap orang untuk mengawasi kebiasaan buang air besar agar tahu kapan harus memeriksakan diri. Direktur klinis di Patientaccess.com itu menyebutkan perlunya mencermati frekuensi BAB hingga konsistensi kotoran.

Jarvis mengutip sebuah studi yang mengungkap bahwa 98 persen orang buang air besar antara tiga kali sehari dan tiga kali sepekan dalam kondisi normal. Sebagian besar orang cenderung buang air besar pada waktu yang hampir sama.

"Beberapa kondisi medis, seperti penyakit radang usus atau penyakit divertikular, dapat menyebabkan sering buang air besar. Tetapi, jika tidak ada kondisi medis mendasar yang secara langsung memengaruhi usus, ada banyak faktor yang berhubungan dengan pola makan dan gaya hidup," kata Jarvis.

Salah satu penentunya adalah aktivitas fisik. Aktif bergerak dapat membantu merangsang peristaltik, yakni gerakan terkoordinasi dari cincin otot di sekitar usus yang mendorong makanan melalui sistem pencernaan. Selain baik untuk kebugaran, aktif secara fisik juga dapat membantu BAB teratur.

Kondisi kesehatan secara keseluruhan berperan pada konsistensi kotoran. Berdasarkan pedoman "Bristol Stool Chart"  ada tujuh jenis kotoran yang tergantung pada berapa lama waktu pemrosesannya di usus.

Baca Juga

Cek sehat dari buang air besar - (republika)


Tipe satu berupa benjolan keras yang terpisah. Tipe dua menggumpal dan seperti sosis. Tipe tiga berbentuk sosis dengan retakan di permukaan. Tipe empat seperti sosis atau mengular dengan tekstur halus dan lembut. Tipe lima berupa gumpalan lunak dengan tepi yang jelas.

Tinja tipe enam punya konsistensi lembek dengan tepi tidak rata. Tipe tujuh konsistensinya cair tanpa potongan padat. Menurut pedoman, tipe satu dan dua menandakan sembelit, tipe tiga dan empat adalah kotoran ideal, sedangkan tipe lima hingga tujuh menunjukkan diare.

Jarvis mengingatkan bahwa sejumlah obat-obatan dapat menyebabkan feses lebih encer atau memicu efek samping konstipasi. Contohnya adalah obat penghilang rasa sakit berbasis kodein, obat penghilang rasa sakit kombinasi seperti co-codamol dan co-dydramol, serta obat penghilang rasa sakit yang sangat kuat seperti morfin. Begitu juga antidepresan, tablet zat besi, obat untuk kandung kemih yang terlalu aktif, serta obat untuk penyakit parkinson.

"Kotoran terdiri dari kombinasi makanan yang belum diserap ke dalam sistem tubuh, produk limbah, bakteri yang hidup secara alami di usus, dan air. Jika Anda minum obat dan merasa itu mungkin terkait dengan sembelit, apoteker akan dengan senang hati memberi saran," tutur Jarvis.

Mengonsumsi lebih banyak makanan yang mengandung serat dapat membantu membuang kotoran, memungkinkan BAB lebih teratur, dan lebih sedikit mengejan. Contoh makanan kaya serat meliputi sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, dan lentil.

Minum air juga sangat penting agar tubuh tetap terhidrasi. Pasalnya, ketika seseorang mengalami dehidrasi, lebih banyak air dari usus akan diserap kembali ke dalam sistem. Kondisi demikian membuat kotoran berukuran lebih kecil, lebih keras, dan lebih sulit untuk dikeluarkan.

Adapun lima tanda mengkhawatirkan dari kebiasaan BAB yang bisa mengarah ke kanker usus meliputi pendarahan dari dubur atau darah di kotoran, perubahan kebiasaan BAB menjadi lebih sering, nyeri atau benjolan di perut, kelelahan kronis, serta kehilangan berat badan. Jika mengalaminya, segera periksakan diri ke dokter, dikutip dari laman The Sun, Kamis (29/9/2022).

 
Berita Terpopuler