Mantan Presiden Tunisia Serukan Protes Terhadap Kais Saied

Mantan Presiden Tunisia Moncef Marzouki meminta Kais Saeid mengundurkan diri.

AP/Slim Abid/Tunisian Presidency
Presiden Tunisia Kais Saied mengacungkan tinjunya ke orang-orang yang melihat saat dia berjalan di sepanjang jalan Bourguiba di Tunis, Tunisia, Minggu, 1 Agustus 2021.
Rep: Dwina Agustin Red: Agung Sasongko

IHRAM.CO.ID,  TUNIS -- Mantan Presiden Tunisia Moncef Marzouki telah meminta warga Tunisia untuk menggelar protes pada Ahad (10/10), untuk menentang perebutan kekuasaan oleh Presiden Kais Saied. Marzouki meminta semua pihak untuk mengesampingkan afiliasi politik mereka dan turun ke jalan untuk memprotes pemerintahan Saeid.

Baca Juga

"Saya menyerukan kepada semua warga Tunisia untuk berkumpul pada Ahad untuk membela konstitusi, demokrasi, kebebasan dan kedaulatan nasional. Saya meminta Anda semua untuk mengesampingkan afiliasi politik Anda dan mengambil bagian dalam protes ini. Sudah waktunya untuk bertindak," ujar Marzouki, dilansir Aljazeraa, Ahad (10/10).

Seruan Marzouki merupakan gerakan protes yang dikenal sebagai Warga Melawan Kudeta. Dia menyerukan demonstrasi pada Ahad untuk menentang langkah Saied yang mengendalikan semua bagian negara.

Marzouki meminta Saeid mengundurkan diri. Dia mengatakan, ketua parlemen Rached Ghannouchi dan konvensi majelis merupakan jalan keluar dari krisis politik di Tunsia saat ini.

“Pemilu awal yang bebas dan transparan dapat diadakan setelah masa transisi 45 hari di mana kedaulatan dapat dikembalikan kepada rakyat,” kata Marzouki.

 

 

Pada bulan Juli, Saeid menjerumuskan Tunisia ke dalam krisis konstitusional dengan menangguhkan parlemen terpilih, memberhentikan perdana menteri dan mengambil alih otoritas eksekutif. Bulan lalu, Saeid mengesampingkan sebagian besar konstitusi dan mengatakan bahwa dia bisa mengesahkan undang-undang melalui dekrit. Saeid bersikeras bahwa langkah yang dia ambil bertujuan untuk menyelamatkan negara. Sementara para kritikus menuduh Saeid telah mengatur kudeta.

Mayoritas partai di Tunisia menolak perebutan kekuasaan Saied. Beberapa partai menuduh Saeid mendalangi kudeta terhadap konstitusi. Namun, pihak lain telah mendukung keputusan Saied sehubungan dengan krisis politik, ekonomi, dan kesehatan yang dihadapi negara.

Awal bulan ini, ribuan pendukung Saied berkumpul di ibu kota untuk menunjukkan dukungan mereka atas penangguhan parlemen dan janji untuk mengubah sistem politik. Saied melakukan intervensi karena terjadi stagnasi ekonomi dan kelumpuhan politik selama bertahun-tahun. Kondisi tersebut semakin diperparah oleh penguncian, kampanye vaksinasi yang lambat, dan aksi protes di jalanan.

Sebagian besar orang Tunisia menuding elit politik yang korup menjadi penyebab stagnansi ekonomi negara. Rakyat Tunisia menilai Saied yang terpilih pada 2019, sebagai juara bagi rakyat. Tunisia sebelumnya dipandang sebagai satu-satunya kisah sukses di antara negara-negara Arab dalam menuju transisi demokrasi. Rizky Jaramaya

 

 

 
Berita Terpopuler