Liputan TNI ke Pesantren: Bikin Kesal Rombongan KSAD

Karena keasyikan wawancara Kiai Hasyim Muzadi, saya nyaris ditinggal pesawat KSAD.

Daan Yahya/Republika
M Subroto, Jurnalist Republika
Red: Karta Raharja Ucu

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Subroto, Jurnalis Republika

Jangan terlambat. Itu pesan penting buat wartawan. Terlambat membuat kita akan kehilangan momen, kehilangan berita.

Jangan juga membuat narasumber menunggu kita. Menunggu itu membosankan, bahkan menjengkelkan.

Ini pengalamanku ditunggu narasumber, orang nomor satu di TNI Angkatan Darat. Tahun 2000 aku mengikuti kunjungan kerja Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jendral Tyasno Sudarto ke Malang, Jawa Timur. Lokasi kunjungan adalah Pesantren Mahasiswa Al Hikmah yang diasuh oleh KH Hasyim Muzadi (kini almarhum). Rombongan berangkat dengan pesawat Hercules dari Base Ops Halim Perdana Kusuma Jakarta.

Sampai di Lanud Abdulrachman Saleh Malang, rombongan yang terdiri dari wartawan dan pejabat KSAD langsung menuju Pesantren Al Hikmah. Jaraknya cukup jauh dari bandara. Kami berangkat dengan mobil.

Wartawan berada satu mobil bersama personel Dinas Penerangan TNI AD. Kami diingatkan agar nanti jangan terpisah dari rombongan.

Di Pesantren Al Hikmah, KSAD melakukan peninjauan. Tyasno juga menyerahkan bantuan kepada pesantren. Untuk melengkapi berita aku ingin mewawancarai KH Hasyim Muzadi. Kesempatan untuk wawancara sendiri agak sulit karena kiai masih sibuk mendampingi KSAD.

Usai acara, kudatangi Kiai Hasyim sendiri. Anggota rombongan lain masih sibuk makan. Aku bertanya soal ini dan itu. Wawancara cukup lama dan panjang lebar.

Begitu selesai wawancara, aku menikmati makanan yang disediakan pihak pesantren. Perut sudah kelaparan. Aku asyik saja makan sampai lupa bahwa sedang liputan bersama rombongan.

Selesai makan kuperhatikan suasana pesantren sudah mulai sepi. Tamu-tamu sudah pulang sebagian. Aku cari-cari rombongan KSAD, tapi sudah tidak ada yang kelihatan.

“Sepertinya sudah berangkat ke bandara Mas. Tadi memang ada yang nyari-nyari wartawan dari Jakarta,”  kata salah seorang pengurus pesantren.

Baca Juga

Wah aku ditinggal. Aku bingung mau bagaimana. Beberapa kali kucoba telepon personel Dispen TNI AD, tapi tak diangkat. Wartawan yang sama-sama berangkat dari Jakarta HP-nya juga tidak ada yang nyaut.

Semoga saja rombongan masih ingat kalau ada satu wartawan yang tertinggal. Semoga saja KSAD masih mau menunggu. Melihat aku yang kebingungan, seseorang menghampiri.

"Masnya rombongan yang dari Jakarta tadi?" tanya seorang bapak berpakaian rapi.

“Iya Pak. Saya rombongan Pak Jenderal Tyasno. Bapak bisa bantu saya ngejar rombongan ke bandara?” todongku.

Dia kelihatan bingung. Tapi akhirnya dia bersedia membantu. Aku naik mobilnya melesat ke bandara. Perjalanan cukup lama karena macet di beberapa titik.

Personel Dispen TNI AD berhasil kukontak. Dia bilang KSAD dan rombongan sudah siap menuju pesawat. Jika masih lama, aku akan ditinggal. Soalnya KSAD harus segera kembali ke Jakarata. Ada acara penting yang harus dihadiri.

Setelah itu sinyal hilang timbul. Tak ada lagi kontak-kontakan. Aku sudah bayangkan, betapa kesalnya anggota rombongan menunggu di bandara.

Sopir bapak sang penolong tak tahu jalan arah ke bandara. Kami berdua juga tidak tahu. Terpaksa di jalan bertanya sana-sini, membuat perjalanan makin lama. Aku makin cemas jika ditinggal rombongan.

Perjalanan melelahkan itu akhirnya berakhir. Mobil masuk ke parkiran bandara dengan selamat. Aku mengucap terima kasih tak terhingga pada bapak si penolong. Kulihat rombongan sudah berjajar siap naik pesawat. Mesin pesawat pun sudah dinyalakan.

Terlihat wajah-wajah kesal memandang ke arahku. Mungkin mereka baru tahu yang ditunggu ternyata  bukan pejabat atau jenderal, tapi wartawan junior berbadan kurus.  ”Wuuuuu.......,” teriak seorang perwira.

Mereka pantas kesal. Anggota rombongan yang sebagian berpangkat jenderal itu terpaksa berpanas-panas menunggu kedatanganku. Aku berusaha tenang saat bergabung dengan mereka. Mau memberi senyum khawatir dikira meledek. Jadi aku pasang wajah seperti orang kelelahan saja.

Kuhampiri Jenderal Tyasno yang juga sudah siap-siap naik pesawat. “Maaf Pak terlambat, tadi wawancara Pak Kiai dulu,” laporku.

“Yang penting nggak ditinggal kan,” katanya. Wajahnya datar saja. Aku tak tahu dia marah atau tidak. Tak terlalu ku pikirkan, yang penting tak ditinggal.

“Penumpang VVIP-nya sudah datang, ayo berangkat,” teriak seorang perwira meledek.

“Huuuu,.....” sambut yang lain. Anggota rombongan tertawa tergelak-gelak sambil berjalan naik ke pesawat. Aku cuma bisa cengengesan.

Tips agar tak terlambat saat liputan

- Perhatikan baik-baik jadwal liputan, jangan lupa tanggal dan jamnya

- Jika Anda termasuk wartawan yang susah bangun usahakan minta dibangunkan orang lain

- Pertimbangkan secara cermat waktu tempuh dari lokasi Anda ke lokasi liputan

- Gunakan angkutan umum yang paling cepat dan aman

- Jika Anda bepergian, jangan lupa catat nomor kontak anggota rombongan Anda.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
 
Berita Terpopuler