Wednesday, 11 Rabiul Awwal 1442 / 28 October 2020

Wednesday, 11 Rabiul Awwal 1442 / 28 October 2020

MPR Raih WTP, Sesjen MPR: Saya Apresiasi Kerja Keras Semua

Kamis 24 Sep 2020 10:54 WIB

Red: Gita Amanda

Sesjen MPR Ma’ruf Cahyono yang mengikuti acara penyerahan penghargaan WTP (Wajar Tanpa Pengecualian) secara daring.

Sesjen MPR Ma’ruf Cahyono yang mengikuti acara penyerahan penghargaan WTP (Wajar Tanpa Pengecualian) secara daring.

Foto: MPR
MPR sudah lebih dari 10 kali meraih WTP dari Kementerian Keuangan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Keuangan Republik Indonesia menggelar ‘Rapat Kerja Nasional Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Tahun 2020’. Sebab di Jakarta berlaku masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk mencegah penularan Covid-19, maka acara yang digelar itu dilakukan lewat video conference atau daring.
 
Salah satu agenda dari kegiatan yang dibuka oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani itu adalah penyerahan penghargaan WTP (Wajar Tanpa Pengecualian). Dalam rapat kerja yang bertema, ‘Tantangan Akuntabilitas Keuangan Negara dalam Penanganan Pandemi Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional’, MPR menjadi salah satu lembaga negara yang meraih WTP.
 
Sesjen MPR Ma’ruf Cahyono yang mengikuti acara itu secara daring dari Ruang Delegasi, Komplek Gedung MPR/DPR RI, Senayan, Jakarta, menuturkan dirinya bersyukur sekaligus bangsa sebab MPR dipercaya mengelola keuangan secara baik, akuntabel, dan transparan. “Penghargaan pada tahun ini membuat kita selama sepuluh kali secara berturut-turut meraih WTP,” ungkapnya. Di luar katagori peraih penghargaan kepada entitas pelaporan peraih Opini WTP minimal 10 kali, menurut Ma’ruf Cahyono, MPR sebenarnya juga sudah lebih dari 10 kali meraih WTP.
 
Dikatakan, apa yang telah diraihnya itu menjadi tanggung jawab dan tantangan ke depan agar MPR bisa mempertahankan predikat itu. “WTP merupakan predikat tertinggi dalam pengelolaan keuangan negara,” ungkap alumni Universitas Jenderal Sudirman, Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah. Dengan meraih WTP menurutnya MPR mampu melaksanakan tugas-tugas pemerintahan yang baik, good governance. “Ke depan tugas kita tidak ringan bila ingin tetap mempertahankan WTP,” paparnya.
 
Apa yang diraih dikatakan sebagai motivasi dan stimulus kepada apparatus sipil negara (ASN) di Setjen MPR. “Bahwa kerja itu harus berprestasi”, ujarnya. Reformasi Birokrasi dan indikator penilaiannya disebut harus ditingkatkan. Baginya Reformasi Birokrasi harus memberi dampak dan manfaat yang lebih terasa bagi ASN. “Kita harus mewujudkan pelayanan publik yang lebih baik kepada masyarakat, bangsa, dan negara,” tuturnya.
 
Ke depan menurut Ma’ruf Cahyono tantangan yang dihadapi oleh ASN adalah semakin komplek. ASN dituntut terus beradaptasi dengan lingkungan yang maju. “Hidup kita sekarang sudah serba elektronik,” ungkapnya. Dari sinilah maka institusi pemerintahan harus bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman dan kebutuhan masyarakat. Pelayanan publik sekarang harus praktis, cepat, dan akurat. Bisa menjawab yang demikian menurutnya adalah teknologi informasi. “Oleh karena itulah Setjen MPR berupaya terus meningkatkan Sistem Pemerintahan Berbasis Eleketronik,” ungkapnya.
 
Ada tiga aspek dalam pengelolaan atau manajemen. Tiga aspek itu adalah SDM yang handal, benar dalam mengelola uang, dan benar dalam mengelola barang. Bila ketiganya bisa dilakukan maka Setjen MPR mampu melakukan pelayanan secara akuntabel, transparan, dan terbuka, yang pada gilirannya meningkatkan pelayanan yang maksimal kepada MPR dan masyarakat. “Itu harapan saya,” ujar Ma’ruf Cahyono.
 
Bagi Ma’ruf Cahyono untuk melakukan kerja yang baik diperlukan kerja keras dan kerja sama yang kuat. Disebut saat ini dalam bekerja harus berpegang pada prinsip kolaborasi. Dalam menghadapi tantangan, memanfaatkan peluang, dan menyelesaikan masalah harus dilakukan dengan kolaborasi. “Saya canangkan bahwa kolaborasi tidak hanya di level pemimpin tetapi juga semua stakeholder. Tidak hanya di internal kesetjenan namun juga eksternal kesetjenan sebab MPR juga memerlukan kemitraan untuk mendukung tugas-tugasnya,” paparnya.
 
Ma’ruf Cahyono mengatakan agar bisa mempertahankan WTP, yang perlu dilakukan adalah meningkatkan kualitas SDM. Tidak bisa mengerakkan orang bila SDM yang ada tidak handal. Untuk menggerakan orang perlu usaha dan kerja keras. “Selain kolaborasi, sinergitas dari seluruh SDM perlu dibangun,” tuturnya. Dirinya mengapresiasi kerja keras semua yang pada akhirnya menghasilakan sesuatu yang baik untuk kemajuan Setjen MPR.
 
Selain kerja keras dan kerja sama, yang perlu dilakukan agar WTP tetap dipertahankan menurut Ma’ruf Cahyono adalah komitmen dan dukungan para leader, termasuk top manajer yang kuat mendorong, memotivasi, agar SDM terus bekerja untuk meraih prestasi. “Lakukan tugas sesuai dengan ketentuan yang ada supaya tidak terjadi penyimpangan,” tuturnya. Penting juga adalah mengefektifkan apparat pengawas internal yang selama ini juga menjadi bagian yang sangat penting dalam rangka mewujudkan pemerintahan yang baik dan bersih.
 
Tak kalah penting dikatakan Ma’ruf Cahyono adalah terbangunnya semangat dan dedikasi. Tidak mungkin semua kerja bisa berjalan dengan baik tanpa tanggung jawab dan tanggung jawab itu memerlukan kesadaran. “Dedikasi itu penting untuk mengabdi kepada bangsa dan negara,” tuturnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 
 
Terpopuler