Thursday, 18 Zulqaidah 1441 / 09 July 2020

Thursday, 18 Zulqaidah 1441 / 09 July 2020

Bahaya Perang Biologi, TNI Bentuk Satuan Nubika Gabungan

Kamis 04 Jun 2020 10:56 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

TNI Angkatan Darat membangun satuan Nuklir Biologi Kimia (nubika).

TNI Angkatan Darat membangun satuan Nuklir Biologi Kimia (nubika).

Foto: Pusziad
TNI harus mampu menghadapi dinamika lingkungan strategi global.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Selamat Ginting, Wartawan Senior Republika

JAKARTA -- Siang hari, tepat pukul 12.00 waktu Markas Besar Angkatan Darat (Mabesad). Jarum jam membentuk sudut 0 derajat. Pada saat itulah Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Andika Perkasa menerima penulis di ruangan kerjanya. Wawancara dilakukan dalam suasana menjaga jarak sosial atau fisik. Menggunakan protokol kesehatan menghadapi perang melawan covid-19. Penyakit menular yang disebabkan virus corona dan ditemukan pertama kali di Wuhan, Cina, Desember 2019.

Duduk tegak di kursi kerjanya. Jenderal Andika Perkasa mengenakan kaos loreng dan celana panjang loreng pakaian dinas lapangan. Penuh senyum keakraban memancarkan optimisme. Ia didampingi kepala dinas Penerangan Angkatan Darat, Nefra Firdaus Lubis. Nefra masih menggunakan pangkat kolonel (Infanteri), karena surat keputusan naik pangkat menjadi brigadir jenderal, belum turun.

Jenderal Perkasa mengungkapkan betapa pentingnya TNI Angkatan Darat membangun satuan Nuklir Biologi Kimia (nubika). Apalagi di tengah pandemi covid-19. Satuan Nubika menjadi salah satu ujung tombak, seperti juga dilakukan negara-negara lain. Memang bukan seperti sudut nol derajat.

“Kami membangun tidak dari nol ya. Karena TNI AD sudah memiliki satuan kompi nubika di bawah Pusat Zeni Angkatan Darat (Pusziad). Kami akan terus mengikuti perkembangan teknologi militer dan mengembangkan satuan nubika,” kata jenderal bintang empat dengan tubuh perkasa, tegap, dan berotot itu, pada pertengahan Mei 2020 lalu.

Mantan panglima Kostrad itu mengakui, ke depan pola operasi militer tidak selalu menghadapi kemungkinan ancaman militer konvensional yang bersifat high intensity war. Karena itu pihaknya perlu menciptakan struktur organisasi yang mampu memberikan survivavibility dan sustainability dalam skenario perang nubika.

Apa yang dikemukakan mantan Komandan Kodiklatad itu memang benar jika melihat perbandingan militer di negara-negara maju. Presiden Amerika Serikat Donald Trump, misalnya. Ia memerintahkan Komandan Jenderal (Danjen) Zeni Angkatan Darat Letnan Jenderal Todd T Semonite.

Perintah mengambilalih hotel-hotel dan bangunan pabrik yang tidak berfungsi selama covid-19.  Pasukan Zeni  Amerika Serikat diperintahkan membuat beberapa rumah sakit darurat di hotel-hotel dan pabrik-pabrik tersebut. Selain itu untuk antisipasi perang nubika.

Hal yang sama dilakukan Presiden Rusia Vladimir Putin. Ia juga memerintahkan Pasukan Nubika Rusia mengambilalih pengamanan di pelabuhan udara dan pelabuhan laut, stasiun kereta, dan terminal bus. Pengamanan nubika untuk antisipasi perang biologi selama pandemic covid-19. Pasukan nubika Rusia dengan masker gas dan bersenjata khusus, berada di lokasi-lokasi transportasi umum.

Kemampuan Zeni
Covid-19 membuka cakrawala, betapa pentingnya sebuah negara memiliki satuan nubika, selain militer medis untuk menghadapi bahaya nubika. Mantan Panglima Kodam Tanjungpura itu mengakui pada saat reorganisasi tahun 1985, karena keterbatasan dan perampingan organisasi, TNI memangkas Pusat Nubika Kobangdiklatad. Kobangdiklatad kini menjadi Kodiklatad. 

“Saya ingin kelak di tiap Kodam ada satu kompi Zeni Nubika BS (berdiri sendiri). Bertanggung jawab kepada Panglima Kodam. Sekaligus memperkuat satuan Nubika Pusziad di bawah koordinasi Mabesad,” kata Jenderal Perkasa, abituren Akademi Militer (Akmil) 1987.

Menurut Kepala Pusziad Mayjen Muhammad Munib, satuan Nubika intinya adalah korps zeni dibantu korps kesehatan. Walau dahulu berbentuk Pusat Nubika Kobangdiklatad, tetapi belum memiliki pasukan lapangan. Barulah pada 1986, TNI Angkatan Darat membentuk Kompi Zeni Jihandak dan Kompi Zeni Nubika.

Embrio pasukan dua kompi itu diambil dari prajurit empat kesatuan Yonzikon (11, 12, 13, dan 14) Resimen Zeni. “Itulah sebuah satuan yang dirancang menjadi batalyon zeni reaksi cepat nubika. Namun, hingga 34 tahun berlalu, satuan ini tetap sebagai kompi saja,” ungkap Mayjen M Munib. Wawancara berlangsung di Markas Pusziad, Matraman, Jakarta Timur, pertengahan Mei 2020 lalu.

Dikemukakan, seperti kompi zeni jihandak, berkali-kali pula sebenarnya kompi zeni nubika diusulkan ditingkatkan menjadi detasemen zeni nubika, sebelum menjadi batalyon. Namun selalu kandas dengan alasan anggaran pertahanan yang minim. “TNI menghormati keputusan negara,” kata mantan komandan Yonzikon 12 di Palembang.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA