Kamis 04 Jun 2020 10:56 WIB

Bahaya Perang Biologi, TNI Bentuk Satuan Nubika Gabungan

TNI harus mampu menghadapi dinamika lingkungan strategi global.

TNI Angkatan Darat membangun satuan Nuklir Biologi Kimia (nubika).
Foto:

Pusziad beberapa kali meminta ke Mabes TNI agar menerima sarjana dengan latar belakang nuklir, biologi, fisika dan kimia. Hal itu untuk  penerimaan sekolah perwira prajurit karier TNI yang akan ditempatkan di satuan zeni nubika. Namun belum diberikan sesuai permintaan. Masih menunggu kebutuhan lainnya. 

Zeni Nubika bekerja sama dengan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapetan), Badan Penelitian Venteliner (Balivet), dan Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan). Rutin mengadakan latihan bersama mengantisipasi bahaya nubika.  

Dalam dua tahun belakangan, TNI AL dan TNI AU bergelombang mengirimkan personelnya untuk belajar nubika di pusdik zeni Angkatan Darat maupun kompi zeni nubika, Bogor. Rencananya korps marinir TNI AL segera membentuk satu kompi zeni nubika marinir. Korps Pelaut TNI AL pun serius mengantisipasi penyelamatan ancaman nubika di kapal perang.

Mengapa mereka belajar di Pusdik Zeni? Karena Zeni Angkatan Darat memiliki sembilan tugas pokok, yakni: konstruksi (pembangunan), destruksi (perusakan), rintangan, samaran, penyeberangan, penyelidikan zeni, perkubuan, penjinakan bahan peledak (jihandak), serta nubika pasif.

Senjata pemusnah massal

Mereka juga rutin mewakili TNI mengikuti konferensi militer dunia tentang nubika. Konferensi antara lain membahas tentang senjata pemusnah massal (SPM). Dalam bahasa Inggris disebut Weapons of Mass Destruction/WMD). Senjata yang dirancang membunuh manusia dalam skala besar. Biasanya menargetkan masyarakat awam dan personel militer di lokasi umum, seperti pasar, mall, stadion, rumah sakit dan lain-lain.

Dari konferensi mengenai perlindungan terhadap senjata pemusnah massal Kimia, Biologi, Radiologi dan Nuklir (CBRN), Pusziad melaporkan. Ada sejumlah senjata biologi yang paling mematikan, seperti: antrax, botulism, plague, cacar (small pox), tularemia, dan viral hemorrhagic fever (VHF). 

Anthrax adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan bakteri berbentuk spora Bacillus Anthracis. Spora tersebut menghasilkan racun yang fatal. Dapat menyebar melalui udara, pencernaan makananan atau kontak dengan kulit yang lecet.

Botulism dihasilkan bakteri Clostridium Botulinum. Penyebaran melalui udara atau pencernaan akibat makanan atau minuman yang terkontaminasi. Kematian dapat disebabkan kelumpuhan otot pernapasan hanya dalam 24 jam.

Plague disebabkan oleh Yersinia pestis yang ditemukan pada binatang pengerat dan kutunya. Penyebaranya melalui udara akibat ludah dari mereka yang terinfeksi. Plague dapat mengakibatkan kematian dalam dua hingga empat hari.

Cacar atau small pox penyebabnya adalah virus Variola yang telah dianggap musnah di dunia sejak 1977. Cacar air muncul dalam dua bentuk yaitu Variola minor dan Variola Mayor yang lebih mematikan. Penyebaranya melalui udara dan percikan ludah dari mereka yang terinfeksi. Kematian dapat terjadi dalam dua minggu pertama.

Tularemia disebabkan oleh Francisella tularensis yang dianggap sebagai bakteri patogen dengan penularan tercepat. Manusia dapat terinfeksi Tularemia melalui gigitan anthropods yang terinfeksi, kontak dengan makanan atau air yang terkontaminasi, serta melalui udara. Kematian dapat terjadi dalam dua pekan.

VHF sebagian virus ini diketahui menetap dalam binatang atau serangga. Namun beberapa inang virus VHF lainya masih belum diketahui, termasuk ebola dan virus marburg. Beberapa virus VHF dapat disebarkan cairan tubuh mereka yang terinfeksi. Beberapa tipe VHF dapat mengakibatkan kegagalan ginjal.

Lindungi masyarakat

Komandan tertinggi NATO Jenderal William Puttmann mengungkapkan, konflik militer besar di Eropa diduga tidak akan terjadi. Namun semua negara tidak boleh mengendurkan upaya dalam mendidik prajurit spesialis nubika. Hal ini untuk melindungi masyarakat terhadap senjata pemusnah massal dalam perkembangan teknololgi militer.

Karena itu pula, pasukan beladiri Jepang, mempersiapkan pasukan Nubika menghadapi Olimpiade Tokyo. Ahli militer Jepang Utsonomiya Shoei mengatakan negaranya menganggap serangan teror dengan senjata biologi dan kimia sebagai yang paling berbahaya. “Tokyo memperkuat peran pasukan bela diri nubika dalam perlindungan warga sipil saat olimpiade.”

Negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura, sudah lebih dahulu menyiapkan pasukan nubika. Jika Indonesia baru memiliki sekitar dua batalyon, maka Malaysia dan Singapura telah memiliki satu divisi pertahanan nubika.

Kini ada sekitar 40 militer negara di dunia yang sudah mempersiapkan diri menghadapi perang biologi. Termasuk Filipina dan Myanmar dari Asia Tenggara.

Ya, perang masa datang tidak lagi menggunakan biaya mahal dan pasukan yang banyak. Cukup menggunakan kemajuan teknologi dan personel militer yang mampu mengawakinya. TNI harus adaptif menghadapi perubahan tersebut.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement