Penumpang Dilarang Sembarang Tutup Bagasi Kabin Pesawat, Ini Alasannya

Penumpang diminta tidak menutup bagasi kabin pesawat.

ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA
Pramugari berada di dalam kabin pesawat udara maskapai penerbangan Super Air Jet di Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat (17/3/2023). Penumpang diminta tidak menutup bagasi kabin pesawat.
Rep: Gumanti Awaliyah Red: Reiny Dwinanda

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Saat ini, banyak wisatawan yang memilih untuk terbang dengan membawa tas jinjing saja karena dianggap lebih simpel. Alhasil, bagasi kabin pesawat biasanya sangat penuh.

Dalam keadaan itu, penumpang tidak diperkenankan menutupnya sendiri. Pakar perjalanan asal Inggris, Rosie Panter, menjelaskan bahwa bagasi kabin hanya boleh ditutup oleh pramugari.

Itu karena awak kabin sudah terlatih untuk menata tas dan koper. Semua area penyimpanan di bagasi kabin pun bisa terisi optimal.

Baca Juga

"Jika bagasi kabin ditutup oleh penumpang, padahal masih ada penumpang lain yang akan masuk pesawat, maka itu bisa memperlambat proses boarding, karena penumpang harus membuka kembali loker untuk menemukan ruang untuk menyimpang barang mereka," kata Panter, seperti dilansir Express, Jumat (21/4/2023).

Panter mengatakan, guna membantu memaksimalkan ruang penyimpanan di loker, penumpang juga dapat menyimpan barang-barang kecil di bawah kursi depan. Jika loker kabin pesawat penuh, beberapa penumpang akan diminta untuk menyimpan tas mereka di ruang tunggu.

Jika ukuran tasnya sesuai dengan batasan ukuran untuk masuk kabin, penumpang tidak perlu membayar dan tinggal menunggu di pengambilan bagasi. Awak kabin juga akan memastikan semua loker kabin terkunci, sehingga tidak ada barang yang terjatuh selama penerbangan.

"Jika loker tidak ditutup dengan benar, tas bisa jatuh dan berpotensi melukai penumpang atau petugas," kata Panter.

Selain itu, penumpang juga harus memastikan bahwa mereka mampu mengangkat tas kabin di atas kepala sebelum naik ke pesawat. Pasalnya, pramugari tidak akan dapat membantu penumpang untuk mengangkatkan tas, sehingga penumpang harus meletakkannya sendiri di loker kabin.

Panter juga menjelaskan alasan penumpang diminta untuk membantu anak-anak mengenakan masker oksigen setelah melakukannya untuk diri sendiri. Dalam keadaan darurat, masker oksigen akan dijatuhkan dari langit-langit pesawat untuk dipakai penumpang.

Orang dewasa selalu diingatkan untuk mengenakan masker oksigen terlebih dahulu sebelum membantu anak-anak yang bepergian bersama mereka. Ketika masker oksigen dijatuhkan, itu berarti kabin bisa kehilangan tekanan.

Di ketinggian, menurut Panter, tidak akan ada cukup oksigen di udara untuk membuat Anda tetap terjaga dan berpikir jernih. Anda mungkin hanya memiliki waktu 30 detik sebelum menjadi bingung atau pingsan.

"Anda tidak akan dapat memakaikan masker pada anak jika Anda tidak sadarkan diri," kata Panter.

Panter menjelaskan, masker oksigen akan memberikan oksigen yang menyelamatkan nyawa penumpang dan awak pesawat jika tekanan kabin turun. Meskipun sangat kecil kemungkinannya untuk terjadi, penumpang harus selalu menonton video keselamatan untuk memastikan mereka tahu apa yang harus dilakukan.

Masker oksigen biasanya akan memberikan sekitar 10 hingga 13 menit udara. Waktunya diperkirakan cukup bagi pilot untuk turun ke level ketinggian yang lebih rendah.

 
Berita Terpopuler