PM Italia: Pandemi Covid-19 Picu Krisis Pangan

Jumlah warga kelaparan dan kekurangan gizi dunia meningkat sekitar 118 juta orang

EPA/ETTORE FERRARI
Perdana Menteri Italia Mario Draghi.
Rep: Kamran Dikarma Red: Nur Aini

REPUBLIKA.CO.ID, ROMA – Perdana Menteri Italia Mario Draghi mengatakan dunia harus memastikan akses terhadap pangan sama seperti vaksin. Menurutnya hal itu tak kalah penting di tengah pandemi yang masih berlangsung.

Baca Juga

 

“Krisis kesehatan (Covid-19) telah menyebabkan krisis pangan,” kata Draghi saat berbicara di acara pembukaan United Nations Food Systems Pre-Summit di Roma, Senin (26/7). Draghi menyebut data menunjukkan kekurangan gizi dalam segala bentuknya telah menjadi penyebab utama sakit dan kematian di dunia.

 

Setelah hampir tidak berubah selama lima tahun, jumlah warga kelaparan dan kekurangan gizi dunia meningkat sekitar 118 juta orang tahun lalu. Peningkatan itu membuat total warga dunia yang menghadapi krisis pangan menjadi 768 juta. Menurut laporan PBB, sebagian besar peningkatan kemungkinan disebabkan oleh pandemi Covid-19.

Di pasar perdagangan internasional, harga pangan dunia naik 33,9 persen pada Juni. Hal itu menurut indeks harga badan pangan PBB. United Nations Food Systems Summit dijadwalkan digelar pada September mendatang. Konferensi itu merupakan momentuk untuk meningkatkan upaya diplomatic guna mengatasi kelaparan, kekurangan gizi, dan krisis iklim.

 

Selain itu, tujuan lain konferensi itu adalah memberi kemajuan pada tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) 2030. Menurut data terbaru PBB, sistem pangan dunia, yang melibatkan penebangan hutan untuk penanaman tanaman, bertanggung jawab atas sepertiga dari emisi gas rumah kaca global.

 

Hal itu menjadikannya penyebab utama perubahan iklim. “Kita berada di luar jalur untuk mencapai SDGs,” kata Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.

Menurut Guterres, pra-KTT akan menilai kemajuan menunju pencapaian SDGs dengan mengubah sistem pangan global. Sebab, Guterres menyebut sistem saat ini turut bertanggung jawab atas 80 persen hilangnya keanekaragaman hayati dunia. 

 
Berita Terpopuler