Friday, 8 Jumadil Awwal 1444 / 02 December 2022

Baret dan Tongkat di Kementerian ATR/BPN Dinilai Bagian dari Transformasi Mental

Kamis 28 Jul 2022 17:42 WIB

Red: Teguh Firmansyah

Seragam ATR BPN yang baru.

Seragam ATR BPN yang baru.

Foto: Instagram Kementerian ATR/BPN
Penggunaan baret dan tongkat dianggap bagian transformasi mental lawan mafia tanah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Indonesia Government and Parliament Watch M Huda Prayoga menilai penggunaan baret dan tongkat pada seragam baru jajaran Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) merupakan transformasi mental Kementerian ATR/BPN untuk melawan mafia tanah. Menteri Hadi ingin membawa ATR-BPN baru.

"Perubahan penanda organisasi itu biasa sebagai batas sebuah periode. Kita ambil positifnya, Pak Hadi ingin membawa ATR-BPN yang baru, dengan menggunakan penanda baru," kata Huda melalui keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis.

Baca Juga

Dia menambahkan bahwa semestinya publik menangkap pesan penting dari Menteri Hadi kepada seluruh jajarannya yang bermuara pada terjadinya transformasi mental ASN Kementerian ATR/BPN."Selama ini yang memang dirasakan kurang adalah disiplin dan kewibawaan aparat ATR/BPN dalam melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai penjaga hak-hak pertanahan dan koordinasi tata ruang di Indonesia. Ini tugas konstitusional yang memerlukan self esteem dari setiap personal yang melaksanakannya," kata Huda.

Menteri Hadi Tjahjanto memiliki waktu kurang dari dua tahun untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diamanatkan oleh Presiden Joko Widodo dalam pelantikannya. Tugas-tugas tersebut adalah percepatan program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL), Reforma Agraria, pemberantasan mafia tanah dan dukungan untuk IKN.

"Sepertinya pak Hadi tidak ingin business as usual. Beliau ingin ada perubahan mentalitas dari bawahannya dan melihat urgensi dari penugasan ini. Lihat saja gebrakan Pak Hadi di 30 hari kepemimpinannya, sejauh ini sangat bagus. Dia juga membuka hotline pengaduan yang menunjukkan kepemimpinannya tidak antikritik dan terbuka," katanya.

Huda mengibaratkan penggunaan baret seperti seorang alim ulama yang memakai kopiah untuk memberikan kesan agamis."Ini seperti kalau kita memakai kopiah, tentunya akan merasa lebih menjaga kesalehan, wajar pakai perhiasan merasa lebih prima dalam penampilan, kalau pake warna hitam terlihat lebih kurus. Maka wajar juga kalau pakai baret terlihat lebih berwibawa," kata Huda.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA