Saturday, 26 Zulqaidah 1443 / 25 June 2022

Jerman Janjikan Bantuan 100 Juta Euro untuk Palestina

Kamis 16 Sep 2021 21:50 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nur Aini

Bendera Jerman dibentangkan. Pemerintah Jerman menjanjikan bantuan sebesar 100 juta euro untuk Palestina.

Bendera Jerman dibentangkan. Pemerintah Jerman menjanjikan bantuan sebesar 100 juta euro untuk Palestina.

Foto: EPA
Jerman mendukung Palestina menggelar pemilu, termasuk di daerah yang diduduki Israel

REPUBLIKA.CO.ID, RAMALLAH – Pemerintah Jerman menjanjikan bantuan sebesar 100 juta euro untuk Palestina. Dana itu bakal digunakan untuk membiayai proyek-proyek penting di Jalur Gaza dan Tepi Barat, termasuk Yerusalem.

Pedana Menteri Palestina Mohamed Shtayyeh menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada Jerman atas bantuan tersebut. Berlin, dalam pandangan Shtayyeh, juga konsisten mendukung hak-hak rakyat Palestina, termasuk memperoleh kemerdekaan.

Baca Juga

"Kami berharap teman-teman kami di Jerman, Uni Eropa, dan masyarakat internasional akan membantu menekan Israel untuk mengizinkan pemilu diadakan di semua wilayah Palestina, termasuk Yerusalem," kata Shtayyeh pada Rabu (15/9), dilaporkan kantor berita Palestina, WAFA.

Sementara itu, utusan khusus Jerman untuk Palestina, Oliver Owcza, memuji hubungan historis serta bilateral antara Palestina dan Jerman. Owcza menegaskan, negaranya mendukung penyelesaian konflik Israel-Palestina melalui mekanisme solusi dua negara. Jerman pun mendukung Palestina menggelar pemilu, termasuk di daerah yang diduduki Israel.

 

Baru-baru ini, Perdana Menteri Israel Naftali Bennett mengatakan dia menolak dengan tegas pembentukan negara Palestina. Menurutnya, hal itu merupakan kesalahan mengerikan. “Saya menentang negara Palestina. Saya pikir itu akan menjadi kesalahan mengerikan,” kata Bennett kepada lembaga penyiaran publik Israel, Kan, pada Selasa (14/9).

Bennett pun menegaskan kembali penolakannya bertemu Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas. Ia mengaku masih belum bisa menerima langkah Palestina menggugat pasukan negaranya ke Mahkamah Pidana Internasional (ICC).

“Saya tidak melihat alasan logis dalam bertemu seseorang yang menggugat IDF (Israeli Defence Forces) di Den Haag dan menuduh mereka melakukan kejahatan perang, dan pada saat yang sama membayar gaji kepada teroris. Saya tidak melihat logika dalam bertemu dengannya (Abbas),” ujar Bennett.

Kata “teroris” dalam pernyataan Bennett merujuk pada kelompok Hamas yang mengontrol Jalur Gaza. Bennett mengatakan moto kelompok Hamas adalah memerangi negaranya sampai akhir. Dia berkomitmen menghadapi setiap ancaman dari kelompok tersebut.

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA