Tuesday, 29 Zulqaidah 1443 / 28 June 2022

Cara Menghindari dan Mengatasi Coronasomnia

Senin 13 Sep 2021 22:38 WIB

Rep: Rahma Sulistya/ Red: Reiny Dwinanda

Susah tidur (Ilustrasi). Sejak pandemi melanda, banyak orang yang mengalami coronasomnia.

Susah tidur (Ilustrasi). Sejak pandemi melanda, banyak orang yang mengalami coronasomnia.

Foto: Republika/Wihdan
Coronasomnia merujuk pada insomnia akibat pandemi Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah istilah baru diciptakan untuk merujuk pada insomnia akibat pandemi penyakit akibat infeksi virus corona tipe baru (SARS-CoV-2) yang disebut coronasomnia. Gaya hidup yang berubah adalah salah satu faktor yang paling menonjol yang memengaruhi kondisi ini.

Insomnia ini ditandai dengan ketidakmampuan seseorang untuk tidur atau istirahat yang sekarang disebut coronasomnia, istilah yang diciptakan karena merujuk pada insomnia akibat pandemi Covid-19. Pandemi Covid-19 memang telah membebani pikiran orang-orang.

Baca Juga

Sejak pandemi, kehidupan masyarakat terganggu akibat kegaduhan yang diakibatkan oleh peristiwa-peristiwa setelah pandemi Covid-19. Peningkatan masalah kesehatan mental disaksikan selama pandemi termasuk insomnia dan depresi.

Gaya hidup yang berubah adalah salah satu faktor yang paling menonjol memengaruhi kondisi ini. Beberapa orang yang paling terpengaruh termasuk perempuan, pekerja garis depan, pasien Covid-19, dokter, pengasuh, dan pelajar.

Gejala coronasomnia mirip dengan insomnia, seperti:

- Kesulitan untuk tertidur

- Sakit kepala

- Kegelisahan

- Bangun di tengah malam

- Ketidakmampuan untuk istirahat

- Lelah

- Merasa tertekan

- Sifat mudah emosi

- Kurang konsenterasi

- Perubahan suasana hati

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA