Thursday, 25 Syawwal 1443 / 26 May 2022

Bangladesh Kekurangan Pasokan Oksigen untuk Pasien Covid-19

Rabu 07 Jul 2021 12:44 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nur Aini

Sejumlah warga menaiki becak saat hari pertama pemberlakuan lockdown di Dhaka, Bangladesh, Senin (28/6). Pihak berwenang Bangladesh memberlakukan lockdown total secara nasional karena terjadinya peningkatan lonjakan kasus Covid-19. EPA-EFE/MONIRUL ALAMPutra M. Akbar

Sejumlah warga menaiki becak saat hari pertama pemberlakuan lockdown di Dhaka, Bangladesh, Senin (28/6). Pihak berwenang Bangladesh memberlakukan lockdown total secara nasional karena terjadinya peningkatan lonjakan kasus Covid-19. EPA-EFE/MONIRUL ALAMPutra M. Akbar

Foto: EPA
Kapasitas rumah sakit di ibu kota Dhaka, Bangladesh mendekati jumlah maksimal

REPUBLIKA.CO.ID, DHAKA -- Pasokan oksigen di rumah sakit rujukan Covid-19 di Bangladesh mulai menipis. Sementara, kapasitas rumah sakit di ibu kota Dhaka mendekati jumlah maksimal di tengah gelombang pandemi yang cukup parah.

Pejabat kesehatan Bangladesh mengatakan, pihaknya mengalami kesulitan untuk memenuhi permintaan pasokan oksigen, jika kasus harian tetap berada pada angka 7.000 selama berhari-hari. Bangladesh mencatat rekor kasus harian tertinggi yaitu 11.525 infeksi pada Selasa (6/7). Dengan demikian total kasus Covid-19 menjadi 966.406.

Baca Juga

Menurut Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan (DGHS), sekitar 163 orang meninggal dalam 24 jam terakhir sehingga total jumlah kematian menjadi 15.392. Bangladesh memiliki total 1.217 tempat tidur unit perawatan insentif (ICU). Dari total tersebut, pada Selasa (6/7) hanya tersisa sekitar 356 tempat tidur di ICU. Sementara, ibu kota Dhaka memiliki 839 tempat tidur ICU, yang kapasitasnya hampir penuh.  

Seorang warga distrik Jhenaidah barat daya, Belal Hossain Rahat, mengatakan, ayah dan ibunya mengalami kesulitan bernapas dan demam tinggi karena Covid-19. Kedua orang tua Rahat saat ini menjalani isolasi mandiri di rumah, karena tidak ada fasilitas ICU di distrik tersebut. 

“Kondisi yang tidak memungkinkan di rumah sakit kabupaten telah memaksa kami untuk mengatur perawatan (orang tua) di rumah.  Kami sudah melakukan persiapan yang diperlukan. Dan, jika kondisinya tidak berubah, kami harus pindah ke Dhaka untuk perawatan yang lebih baik,” ujar Rahat, dilansir Anadolu Agency, Rabu (7/7).

 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA