Friday, 2 Zulhijjah 1443 / 01 July 2022

Buku yang Menguak Dugaan Kekejaman Ottoman di Madinah

Kamis 25 Mar 2021 16:02 WIB

Rep: Imas Damayanti/ Red: Muhammad Hafil

Buku yang Menguak Dugaan Kekejaman Ottoman di Madinah. Foto: Kota Madinah tempo dulu.

Buku yang Menguak Dugaan Kekejaman Ottoman di Madinah. Foto: Kota Madinah tempo dulu.

Foto: Wikipedi.org/ca
Buku menguak dugaan kekejaman Ottoman di Madinah ditulis penulis Arab Saudi.

REPUBLIKA.CO.ID, JEDDAH – Sebuah buku berjudul “Seferberlik: Seabad setelah kejahatan Ottoman di Madinah” yang ditulis oleh penulis Saudi Mohammad Al-Saeed, menguak kisah kisah kekejaman Dinasti Ottoman. Yakni deportasi penduduk kota suci oleh Jenderal Ottoman Fakhri Pasha.

Dilansir di Arab News, Kamis (25/3), meskipun pembusukan telah lama terjadi, itu adalah permulaan Perang Dunia Pertama pada tahun 1914 yang benar-benar mengungkap kelemahan, keterbelakangan, dan ketidakmampuan Kekaisaran Ottoman untuk mengendalikan ekstremitasnya yang jauh.

Baca Juga

Ketika sejarawan menggunakan istilah "Seferberlik", kata Ottoman untuk "mobilisasi", sering diasumsikan bahwa mereka membahas pembersihan etnis Armenia di Anatolia pada tahun 1915, ketika jutaan orang dibantai atau dikirim ke pengasingan.

Tetapi Seferberlik juga digunakan untuk merujuk pada episode lain dari perpindahan massal yang kurang dikenal yang terjadi sekitar waktu yang sama di tempat yang sekarang menjadi Arab Saudi.

Buku-buku sejarah menceritakan tentang "pertahanan heroik" Fakhri Pasha atas kota tersebut dalam Pengepungan Madinah tahun 1918. Peristiwa ini menangkis serangan berulang kali oleh pejuang Arab yang didukung Inggris dari Hussein bin Ali, Sharif of Makkah.

Apa yang sering diabaikan oleh buku-buku itu adalah kejadian tahun 1915, sebelum pengepungan, ketika Fakhri Pasha memaksa penduduk Madinah naik kereta dan membawa mereka ke utara menuju Suriah, Turki, Balkan, dan Kaukasus saat ini.

Baca juga : Siapa Bertanggung Jawab atas Wafatnya Cucu Nabi Muhammad?

Selain itu, versi peristiwa yang diceritakan di Turki saat ini cenderung mengabaikan pemindahan barang-barang berharga kamar suci Nabi Muhammad oleh Utsmaniyah, penghancuran bangunan untuk memberi jalan bagi pertahanan dan jalur pasokan, serta korban kelaparan yang disebabkan oleh kelaparan manusia pada warga sipil yang tersisa di Madinah.

"Kejahatan Seferberlik adalah upaya untuk mengubah Madinah menjadi pos militer terdepan," kata Al-Saeed.

Turki, kata dia, mencoba untuk memisahkan kota dari lingkungan Arabnya dan mencaploknya ke Kekaisaran Ottoman untuk membenarkan apa yang tersisa dari dunia Arab.

Bertentangan dengan keinginan Khalifah Utsmaniyah Sultan Mehmed V, kaum muda Turki yang mendominasi urusan kekaisaran pada saat itu berpihak pada Jerman dan Kekuatan Sentral. Etno-nasionalisme Turki mereka menyebabkan bencana bagi kelompok etnis lain di kekaisaran.

Kereta api Hijaz yang sangat strategis, yang menghubungkan Damaskus dan Madinah, sangat penting bagi upaya perang Ottoman, yang menjadikannya sering menjadi sasaran pemberontak Arab dan sekutu Inggris mereka, T.E. Lawrence.

Begitu pentingnya jalur rel ini untuk pergerakan pasukan dan amunisi sehingga pasukan Utsmaniyah bersiap untuk menggusur penduduk sipil Madinah dan garnisun di situs tersuci, tidak peduli bahaya dan tidak menghormati tindakan mereka yang ditimbulkan ke tempat peristirahatan Nabi Muhammad.

"Jenderal Fakhri Pasha datang untuk membuktikan kekuatan Kekaisaran Ottoman atas Madinah, tidak peduli berapa biayanya," kata Al-Saeed.

Dia, menurut Al-Saeed, mengambil Masjid Nabawi dan kesuciannya dan mengubahnya menjadi gudang senjata dan kamp tentara. Fakhri Pasha pun dituding mengubah menara kota menjadi posisi artileri, tidak peduli tentang pengaruh Masjid Nabawi, kubah, dan Makam Nabi.

Baca juga : Tangisan Rasulullah SAW Saat Ziarah Makam Ibundanya

“Selain itu, dia menyita harta benda penduduk, pertanian kurma dan hasil panen mereka, dan menyerahkannya kepada upaya militer dan tentaranya, yang diperkirakan berjumlah sekitar 70 ribu tentara bayaran. Mereka menodai Madinah dengan meminum alkohol di jalanan,” ungkap Al-Saeed.

Pada fase kedua kampanye Fakhri Pasha, pihaknya mengungkapkan bahwa Ottoman menghancurkan rumah dan memperluas rel kereta api ke dalam Masjid Nabawi. Ottoman kala itu tidak menghormati kesucian masjid dalam kejahatan lain, dengan tujuan memfasilitasi pengangkutan barang berharga dan barang-barang di Kamar Nabi dan istri-istrinya.

Sumber:

https://www.arabnews.com/node/1831386/saudi-arabia

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA