Thursday, 8 Jumadil Akhir 1442 / 21 January 2021

Thursday, 8 Jumadil Akhir 1442 / 21 January 2021

Turki Dituding Perpanjang Konflik Nagorno-Karabakh

Jumat 23 Oct 2020 09:05 WIB

Rep: Zainur Mahsir Ramadhan/ Red: Christiyaningsih

Foto selebaran yang disediakan oleh Kementerian Pertahanan Armenia pada (6/10/2020) menunjukkan tentara Armenia yang diduga selama bentrokan militer dengan tentara Azeri di sepanjang garis kontak Republik Nagorno-Karabakh yang memproklamirkan diri (juga dikenal sebagai Artsakh). Bentrokan bersenjata meletus pada 27 September 2020 dalam konflik teritorial yang membara antara Azerbaijan dan Armenia atas wilayah Nagorno-Karabakh di sepanjang garis kontak Republik Nagorno-Karabakh yang memproklamirkan diri.

Foto selebaran yang disediakan oleh Kementerian Pertahanan Armenia pada (6/10/2020) menunjukkan tentara Armenia yang diduga selama bentrokan militer dengan tentara Azeri di sepanjang garis kontak Republik Nagorno-Karabakh yang memproklamirkan diri (juga dikenal sebagai Artsakh). Bentrokan bersenjata meletus pada 27 September 2020 dalam konflik teritorial yang membara antara Azerbaijan dan Armenia atas wilayah Nagorno-Karabakh di sepanjang garis kontak Republik Nagorno-Karabakh yang memproklamirkan diri.

Foto: EPA-EFE/ARMENIA DEFENCE MINISTRY PRESS
Konflik lanjutan sejak 32 tahun lalu itu sebagian besar dipicu ambisi regional Turki

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Analis dari Center for Security Policy, Washington DC dan kandidat MA Kontraterorisme dari IDC Herzliya di Israel, Maya Carlin, menyebut Turki adalah pihak yang memperpanjang konflik di Nagorno-Karabakh. Dia menilai konflik lanjutan sejak 32 tahun lalu itu sebagian besar dipicu ambisi regional Turki.

Dalam tulisan yang ia unggah di National Interest pada Kamis (22/10), bukan hanya kedekatan budaya antara Turki dan Azerbaijan dalam konflik itu yang memicu hasrat Turki ikut campur. Melainkan, karena Turki ia sebut juga telah menggunakan tentara bayaran, propaganda, bantuan militer, dan ekspor senjata untuk membantu mendorong Azerbaijan berperang dengan Armenia.

Dia menambahkan, ekspor tenaga militer Ankara ke Azerbaijan itu telah meningkat secara dramatis sejak tahun lalu. Terlebih mengutip data ekspor, kata Carlin, penjualan drone termasuk amunisi dan senjata telah naik menjadi lebih dari USD 76 juta (Rp 1,1 triliun).

Tak hanya itu, Azerbaijan menurutnya juga telah menerima USD 123 juta (Rp 1,8 triliun) dalam bentuk teknologi militer dan penerbangan lainnya dari Turki pada awal 2020. Ankara dan Baku juga mengadakan latihan militer gabungan antara 29 Juli dan 5 Agustus tahun ini. Atas dasar itu jelas, kata dia, kedua negara telah melakukan koordinasi militer yang erat.

Selain ekspor senjata, Turki disebutnya juga menggunakan perangkat media pemerintahnya untuk membuat laporan palsu tentang "ancaman" dari Armenia sebelum gejolak di Nagorno-Karabakh kembali meletus.

"Sumber media arus utama di Ankara menggembar-gemborkan berita utama yang mengklaim bahwa Armenia telah membantu transfer teroris PKK (Partai Pekerja Kurdistan) dari Suriah dan Irak ke wilayah Nagorno-Karabakh, sebuah narasi yang memainkan penggunaan lama Turki atas "ancaman PKK" untuk membenarkannya. operasi militan di seluruh dunia," ungkap dia.

Menurutnya kontribusi Ankara dalam konflik lanjutan Nagorno-Karabakh juga tidak hanya pada penjualan senjata dan koordinasi militernya dengan Baku. Bukti bahwa Turki menggunakan pemberontak Suriah untuk melawan perang proksi semakin meningkat.

Hal itu menghasilkan milisi yang didukung Turki dan dikerahkan ke Suriah, Libya, serta yang terbaru Azerbaijan. Di Libya, Rusia dan Turki juga disebutnya telah sama-sama menggunakan tentara bayaran Suriah. Khususnya, sebagai alat proksi untuk bertempur di sisi berlawanan dalam perang saudara.

"Mayoritas tentara bayaran Suriah di Libya dipekerjakan oleh Turki, yang mendukung milisi yang berjuang untuk menggulingkan Presiden Bashar al-Assad dari kekuasaan di Suriah," katanya.

Menghubungkan dengan Israel, Turki menurut Carlin juga telah melanggar kedaulatan Israel. Termasuk, Libya, Irak, Suriah, dan Yunani. Pada 21 Oktober kemarin, ia menegaskan Wakil Presiden Turki Fuat Oktay berjanji akan memberikan dukungan militer penuh untuk Azerbaijan jika diperlukan.

"Oktay juga mengecam upaya internasional untuk memadamkan eskalasi konflik di Nagorno-Karabakh. Padahal, OSCE Minsk Group yang terdiri dari Amerika Serikat, Prancis, dan Rusia, dibentuk untuk membantu menengahi konflik," tambah dia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA