Friday, 13 Rabiul Awwal 1442 / 30 October 2020

Friday, 13 Rabiul Awwal 1442 / 30 October 2020

Apa Jadinya Jika Label Nutrisi Ada di Kemasan Depan Makanan?

Kamis 01 Oct 2020 23:03 WIB

Rep: Desy Susilawati/ Red: Qommarria Rostanti

Label nutrisi makanan (ilustrasi)

Label nutrisi makanan (ilustrasi)

Foto: blog.foodnetwork.com
Bisa jadi, ada perubahan besar menuju pola makan yang lebih sehat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Saat sebagian orang melewati lorong makanan di swalayan dan ada produk yang menarik perhatiannya, kemungkinan besar mereka akan memasukkannya ke troli. Sebagiannya lagi mungkin akan meluangkan waktu untuk memutar kemasan makan.

Mereka akan melihat lebih dulu informasi nutrisi yang terkandung di dalam makanan tersebut. Pernahkan membayangkan, apa jadinya apabila rincian nutrisi dari sekantong keripik kentang ada di bagian depan bungkusnya, bukan di bagian belakangnya?

Mungkinkah peralihan ke pelabelan front of package (FOP) diyakini bisa membuat Anda berhenti dan membaca informasi nutrisi terlebih dulu sebelum membelinya. Sebuah studi baru dari North Carolina State University menganalisis data selama 16 tahun pada puluhan ribu produk, seperti energy bar dan sup. Penelitian memeriksa secara dekat dampak label FOP pada produk makanan individu dan kategori makanan yang lebih besar.

Bagaimana tepatnya studi ini bekerja? Peneliti melihat makanan yang menyertakan pelabelan nutrisi FOP gaya Fact Up Front. Anda mungkin tidak mengetahui hal ini, tapi sebenarnya ini adalah program sukarela yang diikuti oleh banyak perusahaan di industri makanan.

Produsen yang berpartisipasi dalam program tersebut mencantumkan kalori, lemak jenuh, gula, dan natrium per ukuran sajian produk makanan mereka di bagian depan kemasan makanan. Bukan di bagian belakang.

Para peneliti mengevaluasi setidaknya satu produk makanan per kategori makanan tertentu sebelum dan setelah label FOP diadopsi. Mereka mencatat ada beberapa perubahan ketika menghitung kandungan nutrisi produk menggunakan sistem Profil Gizi.

Mereka menemukan merek premium dengan lini produk yang lebih sempit sebenarnya lebih meningkatkan kualitas gizi makanan dibandingkan merek nonpremium dalam kategori yang sama. Produk dalam kategori yang sering kali tidak sehat seperti makanan ringan mendapat respons besar.

Secara keseluruhan, ada pengurangan 13 persen kalori, lemak jenuh, dan gula, serta pengurangan natrium sebesar 4 persen dalam kategori makanan yang mengadopsi label FOP.

Temuan kunci ini menunjukkan label nutrisi yang sangat terlihat mungkin saja menyebabkan perubahan besar menuju pola makan yang lebih sehat. Perusahaan makanan besar ingin produk makanan mereka menjadi yang paling sehat karena konsumen akan melihat informasi ini pada pandangan pertama.

Jadi jika secara keseluruhan pilihan yang lebih sehat ditawarkan untuk memulai, ini secara alami akan menyebabkan orang pada umumnya makan lebih baik.
"Kami ingin tahu apakah perusahaan makanan menanggapi peningkatan minat publik pada makanan yang lebih sehat," kata Rishika Rishika, salah satu penulis studi dan profesor pemasaran di Poole College of Management, North Carolina State University, seperti dilansir di laman Yahoo Health, Kamis (1/10).

"Bagi konsumen, kami menemukan bahwa kehadiran label FOP pada kemasan secara umum berarti bahwa produk tersebut memiliki profil nutrisi yang lebih baik daripada produk pesaing yang tidak memiliki label FOP," kata dia.

Ini adalah program sukarela, jadi tidak semua perusahaan makanan di luar sana terdaftar, tapi akan menarik untuk melihat apakah ini menjadi norma baru.


BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA