Saturday, 9 Safar 1442 / 26 September 2020

Saturday, 9 Safar 1442 / 26 September 2020

Pandemi Dorong Startup China Jajal Produksi Bakso Nabati

Selasa 15 Sep 2020 19:05 WIB

Red: Reiny Dwinanda

Bakso berbahan nabati menjadi pangan alternatif yang dilirik warga China sejak pandemi Covid-19.

Bakso berbahan nabati menjadi pangan alternatif yang dilirik warga China sejak pandemi Covid-19.

Foto: Republika/Indira Rezkisari
Sejak pandemi, warga China makin melirik produk nabati sebagai pengganti daging.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Sejumlah kecil perusahaan China menjajal bisnis produk "daging" nabati karena konsumen lebih memerhatikan kesehatan mereka setelah pandemi Covid-19. Perusahaan rintisan Zhenmeat yang berbasis di Beijing adalah salah satu dari banyak perusahaan kecil China yang memasuki pasar.

Bakso nabati yang diproduksi perusahaan itu sekarang tersedia di toko makanan berkuah China, Hope Tree, di Beijing. Sebelumnya, Zhenmeat memasok bakso nabati, daging sapi, steak, pinggang babi, udang karang, dan pangsit.

"Sekarang setelah Covid-19 konsumen lebih peduli tentang kesehatan dan merek restoran menanggapi hal ini," ujar pendiri dan CEO Zhenmeat Vince Lu kepada Reuters dalam sebuah wawancara seraya menyebut bahwa penjualan naik pesat sejak Juni.

Banyak pelanggan yang penasaran di restoran Beijing Hope Tree mengatakan bahwa bakso yang terbuat dari bahan dasar kacang polong dan protein kedelai itu rasanya seperti tahu.

"Sebenarnya Anda bisa tahu bahwa itu bukan daging tetapi rasa di mulut Anda sangat mirip dengan daging sapi. Dan saya rasa daging nabati sedikit lebih sehat daripada daging sapi," kata Audrey Jiang (30).

Meskipun masih merupakan bisnis khusus dibandingkan dengan rantai pasokan daging raksasa China, alternatif vegetarian untuk daging semakin meningkat menyusul kekhawatiran kesehatan seperti virus corona baru dan demam babi Afrika, menurut para analis dan orang dalam industri.

Beyond Meat Inc yang berbasis di AS mengatakan pekan lalu telah menandatangani kesepakatan untuk membuka fasilitas produksi di dekat Shanghai dan awal tahun ini meluncurkan kemitraan dengan Starbucks Corp untuk produk daging nabati yang akan dijual oleh raksasa kafe di China. Direktur Grup Riset Pasar China Ben Cavender mengatakan kunci masa depan pasar daging nabati adalah rasanya.

"Saat kami mewawancarai konsumen, sebagian besar mengatakan bahwa mereka terbuka untuk mencoba produk ini," kata dia.

"Tetapi pertanyaan besarnya adalah bagaimana mereka menyukainya? Apakah mereka melihat bagaimana mereka bisa memasukkannya ke dalam makanan mereka setiap hari, apakah itu memasak di rumah atau di restoran? Tetapi jika mereka menyukainya, mereka akan terus membeli."

CEO Zhenmeat Vince Lu mengatakan, ada banyak persaingan di pasar. Akan tetapi, pesaing sebenarnya adalah industri daging itu sendiri.

"Yang terpenting adalah pesaing sejati kita bukanlah raksasa global yang sudah mencapai sukses besar seperti Beyond Meat atau Impossible Foods. Pesaing kami sebenarnya adalah seluruh sektor peternakan. Ini adalah industri protein hewani," ujar dia.

Baca Juga

sumber : Antara, Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA