Tuesday, 21 Zulhijjah 1441 / 11 August 2020

Tuesday, 21 Zulhijjah 1441 / 11 August 2020

Seni Berceramah dan Perkembangannya

Sabtu 01 Aug 2020 19:46 WIB

Rep: Yusuf Asiddiq/ Red: Muhammad Hafil

Seni Berceramah dan Perkembangannya. Foto: Ilustrasi Ceramah

Seni Berceramah dan Perkembangannya. Foto: Ilustrasi Ceramah

Foto: Foto : MgRol_92
Ada kalanya pidato, ceramah, atau khotbah diberikan sebagai mata pelajaran.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tak hanya para sarjana dan ilmuwan yang berkontribusi dalam memajukan peradaban Islam pada masa kekhalifahan, tapi juga para ulama. Mereka melakukan serangkaian inovasi pada perkembangan seni berceramah. Mereka telah menerapkan konsep ataupun sistematika yang baik.

Ceramah atau wa'zh berarti berpidato di depan umum untuk menyampaikan nasihat atau pesan agama. Ini masuk lingkup filsafat moral. Terdiri atas dua jenis, yaitu khotbah pada hari Jumat di masjid-masjid dari khathib dan pidato yang disampaikan seorang penceramah dalam sebuah halaqah.

Ada kalanya pidato, ceramah, atau khotbah diberikan sebagai mata pelajaran. Fungsi lainnya, yakni sebagai teguran atau nasihat bagi penguasa. Pada masa itu, khathib diangkat oleh penguasa. Sedangkan status seorang penceramah datang dari pengakuan masyarakat.

George Makdisi dalam Cita Humanisme Islam mencatat dua jenis pidato tadi sebagai yang terpenting. Perbedaan keduanya juga bisa ditilik dari sumber masing-masing. Menurut dia, wa'zh berbeda dari qashash (kisah). Begitu pula, tadzkir (peringatan).Wa'zh biasa disampaikan dalam forum-forum resmi.

Sedangkan qashash atau ceramah umum dilakukan di jalan-jalan, taman, atau tempat terbuka. Penyampainya disebut qashsh (juru kisah) dan mudzakkir (pemberi peringatan). Makdisi menegaskan, pembedaan itu perlu sebab ketiga istilah tersebut mempunyai arti sama, yaitu berceramah dan sering tertukar dalam penulisan naskah.

Al-Jawzi merupakan orang yang pertama kali menyinggung masalah ini dalam Kitab al- Qushshash wa al-Mudzakkirin  (Buku tentang Juru Kisah dan Pemberi Peringatan). Pada bagian awal, al-Jawzi sudah memaparkan definisi ketiga istilah tersebut. Ia menjelaskan, juru kisah mengupas sejarah masa lalu.

Sementara itu, mudzakkir mengingatkan dan menasihati khalayak tentang perintah dan larangan dalam agama. Al-Jawzi melihat kedua istilah kerap tertukar dalam penerapannya. Adapun tujuan berceramah, yakni mengilhami para pendengarnya dengan ketakwaan yang bisa melembutkan hati yang keras.

Kaum tradisionalislah yang mengembangkan tradisi berceramah ini. Muncul beberapa tokoh kondang. Di antaranya yang berpengaruh adalah Barbahari. Dia bukan seorang penceramah. Namun, dia memelopori kaum tradisionalis untuk menumbuhkan semangat berpidato pada abad ke-11.

Warisan intelektualitas Barbahari, yakni kitab tentang akidah berjudul Syarh Kitab al- Sunnah (Uraian Seputar Kitab al-Sunah).

Perkembangan seni berceramah menjadi kian jelas melalui karya biografi seorang ulama fikih mazhab Hanbali, yaitu Ibnu Aqil. Disebutkan, bahwa ceramah merupakan bidang garapannya. Tradisi ini terus terjaga di antara para pengikut Hanbali dari abad ke-10 hingga 12.

Terjadi proses pewarisan dan pengaruh dari seorang tokoh ke tokoh lain. Sebagai kreasi kalangan tradisionalis, ceramah, khotbah, serta tasawuf, memiliki pijakan kuat pada Alquran dan hadis.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA