Wednesday, 17 Zulqaidah 1441 / 08 July 2020

Wednesday, 17 Zulqaidah 1441 / 08 July 2020

Al-Furqan Juga Nama Lain Alquran, Apa Bedanya?

Selasa 30 Jun 2020 23:30 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Alquran mempunyai nama salah satunya adalah Al-Furqan, Membaca Alquran. (Ilustrasi)

Alquran mempunyai nama salah satunya adalah Al-Furqan, Membaca Alquran. (Ilustrasi)

Foto: Antara/Iggoy el Fitra
Alquran mempunyai nama salah satunya adalah Al-Furqan,

REPUBLIKA.CO.ID,  Oleh Prof Dr Nasaruddin Umar, Imam Besar Masjid Istiqlal

Baca Juga

 

 

 

Dalam pandangan sufistik makna Alquran dan al-Furqan berbeda penekanan. Secara harfiah Alquran berasal dari akar kata qara`ayaqrau berarti menghimpun atau mengumpulkan (al-jam') dan membaca (al-nuthq). Dari akar kata tersebut lahirlah kata qur'an berarti himpunan atau kumpulan (solidifications). 

 

Dari akar kata yang sama lahir kata Alquran yang berarti Kitab Suci yang ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Jibril untuk dijadikan tuntunan hidup bagi umatnya. Disebut Alquran karena kitab itu berisi bacaan (qur'an) dan kandungannya menghimpun keseluruhan inti ajaran kitab-kitab suci sebelumnya.  

 

Sedangkan, al-furqan secara harfiah berasal dari kata farraqayufarriqu- furqan berarti membedakan, memisahkan, membagi-bagi, dan memperhadap-hadapkan. Dari akar kata ini lahir kata al-Furqan, nama lain dari Alquran, berarti memisahkan antara yang hak dan batil, baik dan buruk.  

 

Secara populer Alquran dan al- Furqan mempunyai arti sama (bi mana wahid), yakni kitab suci Alquran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantaraan Jibril, kemudian menjadi sebuab Kitab tuntunan hidup bagi umat Islam. Namun, dalam pandangan tafsir sufistik (isyari) keduanya memiliki arti yang berbeda.  

 

Dalam pandangan tasawuf, sebagaimana dijelaskan Dawud al-Qushairi, salah seorang musyarrih kitab Fushush al-Hikam karya Ibn Arabi, alqur'an di maknai sebagai himpunan dari berbagai realitas dan entitas yang ada.

Alquran sering dijadikan istilah untuk maqam lebih tinggi (al-maqam al-'ulya) atau sering menjadi atribut bagi 'manusia langit' (al-insal alsamawi), yaitu orang-orang yang sudah memandang pluralitas kehidupan dan heterogenitas alam semesta sebagai wujud entitas ilahi (al-jam'iyyah alilahiyyah/ single divine-entity). 

 

Alquran menjadi atribut bagi orang yang sudah sampai kepada maqam atas, yang tidak terganggu lagi dengan kahadiran enti tas-entitas yang bermacam-macam, bahkan cenderung berkontradiksi satu sama lain.  

 

Sementara, al-Furqan menurut Ibn 'Arabi digunakan sebagai lambang identitas bumi dan maqam rendah (almaqam al-sufla). Disebut "manusia bumi" (al-insan al-ardh) atau al-insan al-furqan karena paradigmanya masih memandang realitas alam ini sebagai makhluk dan entitas yang beraneka ragam. Belum masuk ke wilayah maqam kesatuan (al-maqam al-jam').  

 

Manusia langit (al-insan alsamawi) yang biasa disebut manusia Qurani (al-insan al-qur'ani) tidak lagi sibuk mencari identitas setiap entitas yang ada karena mereka sudah sampai pada kesadaran bahwa pluralitas kehidupan dan heterogenitas entitas yang ada sesungguhnya adalah satu (the oneness) atau biasa disebut almaqam al-jam' atau al-jam'iyyat al- Ilahiyyat

 

Apa yang tampak sebagai the whole entity dalam alam semesta ini, baik makrokosmos maupun mikrokosmos, tidak lain adalah pengejawentahan (tajalli) diri-Nya Sang Maha Esa. Orang yang sampai kepada maqam ini disebut maqam al-qurb alnawafil.  

 

Ada orang yang sampai kepada puncak penyaksian bahwa sesungguhnya yang ada ini tidak ada siapa pun dan apa pun selain Dia Yang Maha Esa (ahadiyyah/the one and only). Sebetulnya masih ada lagi satu maqam yang lebih puncak, yaitu maqam Alqurb al-faraid, tetapi berbagai kalangan sudah dianggap masuk ke wilayah "al-Qurb".  

 

Manusia Qurani tidak lagi tersedot enenrginya untuk mengidentifikasi entitas-entitas yang berbeda yang ada di sekitarnya karena mereka melihat apa yang ada sesungguhnya adalah hanya sebuah realitas. 

 

Tantangan kita sekarang bagaimana beranjak dari manusia bumi menjadi manusia langit. Apakah karakter 'manusia bumi' dan 'manusia langit', masih diperlukan pembahasan tersendiri. 

 

Keanekaragaman realitas ini kemudian menyedot energi untuk melakukan identifikasi, mencari perbedaan dan persamaan antara satu realitas dengan realitas lain. Bahkan, perbedaan itu memengaruhi karakter dan kepribadiannya. Ada yang disukai berlebihan dan ada yang dibenci secara berlebihan. Mereka menikmati, tetapi sekaligus terbebani dengan pluralisme kehidupan dan heterogenitas alam semesta.  

 

Namun, lebih banyak energinya tersedot untuk melakukan penyesuaian di antara berbagai pluralitas yang ada. Manusia bumi sulit merasakan kebahagiaan dan dan kedamaian secara permanen karena paradigmanya masih lebih sering memperhadap-hadapkan antara identitas satu entitas dan entitas yang lain. Akhirnya, ia merasa tidak pernah merasa penuh dan puas karena sehari-hari mengejar bayangan fatamorgana. Allahu a'lam.

 

 

 

 

sumber : Harian Republika
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA