Thursday, 5 Syawwal 1441 / 28 May 2020

Thursday, 5 Syawwal 1441 / 28 May 2020

Kiat Penuhi Kebutuhan Gizi Anak

Senin 18 May 2020 21:45 WIB

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Satya Festyiani

Menu Sahur

Menu Sahur

Foto: Republika
Anak membutuhkan protein dan zinc.

REPUBLIKA.CO.ID, Anak-anak yang sedang latihan berpuasa tetap harus dipenuhi kebutuhan gizinya. Mereka membutuhkan kebutuhan gizi yang seimbang.

Baca Juga

Konsultan gizi Royal Sport Performance Center (RSPC) Senayan City, dr. Rita Ramayulis mengingatkan kebutuhan gizi anak dalam usia berapa pun sedang bertumbuh. Karena itu, mereka membutuhkan protein dan zinc. Protein hewani bisa berasal dari ikan, daging, ayam, telur, dan susu.

“Enam bahan makanan itu, bahan untuk hormon pertumbuhan. Itu menjadi prioritas,” ujar dr. Rita.

Ketua Indonesia Sport Association (ISNA) itu mengatakan penyajian enam bahan makanan tersebut harus pas, baik saat sahur, makan malam, camilan jelang tidur, maupun camilan jelang imsak. Ada empat kali pemenuhan makan untuk anak-anak.

Selain itu, dr. Rita mengatakan, anak-anak membutuhkan mikronutrien untuk meningkatkan hormon pertumbuhan, yakni dari sayur dan buah-buahan. Buah-buahan bisa diberikan saat berbuka, menjelang tidur, dan sahur. Sementara sayuran diberikan dua kali, yakni saat makan malam dan sahur.

“Dengan cara itu, kebutuhan gizi akan terpenuhi,” kata dia.

Terkait karbohidrat, pemberiannya itu menyesuaikan kebutuhan anak. Karena itu, masalah teknik penyajian sangat personal. Orang tua juga harus tahu makanan apa yang digemari anak. Orang tua perlu masak makanan itu secara menarik.

“Anak mau makan kalau makanan itu familiar dan menjadikan makanan itu menurut dia enak, jadi itu kebiasaan anak makanan itu,” ujar dia.

Misalnya, jika fenomena sekarang ayam goreng, tidak masalah menyajikan itu. Yang penting, berikan juga sayur dan buah pada mereka. Kemudian, buat sajian itu menjadi menarik. Bisa dari bentuk potongan dan alat saji anak, misalnya berganti-ganti warna.

Saat makan sahur, anak kesulitan bangun tidur. Karena itu, orang tua harus mengolah makanan saat anak akan dibangunkan. Dengan begitu, anak bisa mendapat makanan hangat dan aroma enak.

“Tidak dibenarkan memanasi makanan dari berbuka ke sahur. Itu tak akan menarik mereka,” kata dia.


Dokter Rita memperbolehkan sajian frozen food, tetapi bukan junk food. Orang tua harus cerdas memilah frozen food. Tentukan produk makanan dengan mempertimbangkan bahan penguat rasa, pengolahan, dan lain-lain.


Saat berbuka, jangan berikan anak makanan manis berlebihan. Itu bisa memberi mereka rasa kenyang palsu karena gula. Jangan biarkan anak mengkonsumsi dalam porsi besar saat berbuka. Cukup dengan menyajikan segelas jus dengan cemilan karbohidrat, misalnya lontong isi, roti bakar keju atau selai, atau juga yogurt.

Saat tidak berpuasa, anak harus makan enam kali sehari. Tentunya saat berpuasa, kebutuhan itu tak bisa dilakukan. Maka, bagi frekuensi sebanyak mungkin.

Dia menyarankan anak mendapat asupan mikronutrien dan makronutrien saat berbuka, dari buah dan karbohidrat pada cemilan. Kemudian, snack jelang tidur bisa memberi protein dan buah, misalnya pisang panggang keju.

Jangan sampai ada penurunan berat badan anak selama berpuasa. Strategi memberikan lima makan itu jangan terlalu besar dalam satu porsi. Jangan diberikan semua saat berbuka. Bagi-bagi porsinya.

Indikator anak kekurangan gizi itu bisa dilihat dari berat badan dan bagaimana dia menghasilkan energi saat siang hari. Jika anak terlihat lemas dan lelah, maka kebutuhan mikronutrien tak terpenuhi. Jika berat badannya yang berkurang, maka kebutuhan makronutrien tak terpenuhi.
 
 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA