Sunday, 3 Jumadil Awwal 1444 / 27 November 2022

Industri China Pulih, Tarif Angkutan Udara Meroket

Rabu 11 Mar 2020 14:10 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Friska Yolandha

Tarif angkutan udara meroket seiring dengan keterbatasan tempat di pesawat kargo akibat adanya peningkatan permintaan dari jasa pengiriman muatan (shippers).

Tarif angkutan udara meroket seiring dengan keterbatasan tempat di pesawat kargo akibat adanya peningkatan permintaan dari jasa pengiriman muatan (shippers).

Foto: dok. JAS
Tarif kargo China-AS meningkat 27 persen selama dua pekan terakhir

REPUBLIKA.CO.ID, LOS ANGELES – Tarif angkutan udara meroket seiring dengan keterbatasan tempat di pesawat kargo akibat adanya peningkatan permintaan dari jasa pengiriman muatan (shippers). Peningkatan terjadi mengingat penerbangan penumpang di Asia yang selama ini digunakan shipper digrounded (larangan penerbangan sementara).

Sekitar setengah dari kargo udara yang dibawa ke seluruh dunia biasanya terbang di bagian perut jet penumpang dibandingkan kapal barang khusus. Tapi, penurunan penerbangan dalam menanggapi wabah virus corona telah membuat pasar kini harus tergantung pada pengangkut barang.

Baca Juga

Perusahaan pengangkut barang, Agility Logistics, mengatakan, kapasitas kargo udara Cina turun 39 persen pada Februari dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu. Penyebabnya, penurunan penerbangan penumpang akibat virus corona.

Kepala eksekutif Unicargo yang berbasis di Israel, Refael Elbaz mengatakan, peningkatan permintaan shipper ini terjadi karena produksi industri China diprediksi akan dimulai kembali. Perusahaan pengangkut ingin segera menyerbu produk-produk dari China. "Harganya tiga kali lebih tinggi, setidaknya, karena memang tidak ada kapasitas," ujarnya seperti dilansir Reuters, Rabu (11/3).

Sementara itu, Freight Investor Services mengatakan kepada klien, Senin (9/3), harga kargo dengan rute China ke AS telah mencapai ketinggian yang abnormal. Hal ini dibarengi dengan peningkatan lalu lintas intra-Asia hingga 22 persen dibandingkan pekan sebelumnya.

Data indeks TAC menunjukkan, tarif kargo China-AS meningkat 27 persen selama dua pekan terakhir menjadi 3,50 dolar AS per kilogram. Tren lonjakan harga diprediksi akan menguntungkan pengangkut barang dan membantu maskapai penerbangan Asia berkapasitas berat seperti Cathay Pacific Airways, Korean Air Lines dan Ana Holdings Jepang. Keuntungan ini mampu mengimbangi kerugian pendapatan curam karena menghentikan banyak penerbangan penumpang.

Chris Mu, yang menjalankan perusahaan logistik kecil di Shenzhen, China, sering menggunakan transportasi udara untuk memasok penjual Amazon di Eropa. Ia juga mengangkut suku cadang mobil buatan Inggris untuk perakitan di China.

Mu mengatakan, harga angkutan kini telah naik tiga kali lipat sejak sebelum Tahun Baru Imlek dan terus meningkat setiap jam. “Dengan opsi yang kini semakin berkurang, kami harus mengambil apa yang bisa kami dapatkan. Kami menerbangkan barang dari Inggris ke Belanda, kemudian dari Liege di Belgia ke Nangchang di provinsi Jiangxi, hanya untuk membawanya ke pabrik di Shanghai,” tuturnya.

Kondisi tersebut mungkin tidak akan berdampak bagi maskapai. Tapi, Mu menjelaskan, untuk shippers atau perantara seperti dirinya, peningkatan harga menjadi beban besar karena mereka harus menanggung biayanya.

Di sisi lain, shippers juga tidak bisa serta merta menaikkan harga signifikan untuk menjaga margin. "Kami tidak ingin pergi ke pelanggan setiap hari dan memberi tahu mereka bahwa harganya sudah naik," ujar Mu.

Perusahaan multinasional dalam bidang kurir ekspres dan logistik DHL mencatat pemulihan volume ekspres di China. Menurut Kepala Keuangan Deutsche Post AG, Melanie Kreis, armadanya kini menjadi aset utama mengingat banyak pesawat penumpang yang digrounded.

Di daratan China, jumlah kedatangan kapal barang sudah meningkat dalam beberapa pekan terakhir karena pabrik-pabrik sudah melanjutkan produksinya. Regulator penerbangan China mengatakan, jumlah penerbangan karbo diprediksi mencapai 870 pada pekan ini, naik tipis dibandingkan pekan lalu, 788 unit.

Chief Growth Officer (CGO) Seko Logistics, Brian Bourke juga menyebutkan tren serupa. Perusahaan pengirim barang yang berbasis di Chicago itu menyebutkan, jumlah permintaan charter udara yang mereka dapatkan dalam sepekan terakhir sudah membaik. Bourke menjelaskan, sebagian besar permintaan tersebut merupakan pemindahan barang dari China ke AS.

"Angkanya lebih dari jumlah yang kami terima dari kuartal normal," katanya. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA