Review JESEDEF: Saat Jatuh Cinta Bukan Hanya Dirasakan Anak Muda

JESEDEF berkisah tentang seseorang yang mengungkapkan perasaan pada pujaannya.

Republika/ Meiliza Laveda
Aktris Nirina Zubir saat menghadiri special screening Jatuh Cinta Seperti di Film-Film (JESEDEF).
Rep: Meiliza Laveda Red: Friska Yolandha

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nuansa film tanah air didominasi oleh dua genre, yaitu romance dan horror. Film romance sering memiliki alur yang mirip. Kebanyakan memperlihatkan kisah romansa di usia remaja, seperti pertemuan pada cinta pertama.

Baca Juga

Film dengan alur sejenis ini menimbulkan pertanyaan, bagaimana kisah romansa yang terjalin di usia 30-an ke atas? Apakah banyak memperlihatkan adegan romantis yang membuat penonton merasakan “Butterfly in the stomach”?

Jatuh Cinta Seperti di Film-Film (JESEDEF) akan menjawab pertanyaan di atas. Film yang di bawah naungan rumah produksi Imajinari akan memberikan sebuah kisah romantis berbeda dari kebanyakan film romance.

JESEDEF mengisahkan Bagus (Ringgo Agus Rahman), seorang penulis film dengan tekad bulat untuk menyampaikan perasaannya kepada temannya sejak SMA, Hana (Nirina Zubir). Namun, Bagus tidak melakukan itu dengan cara biasa.

Dia memilih untuk merangkai cinta dalam bentuk skenario film. Di sisi lain, film juga menggambarkan Hana yang kehilangan warna saat dia harus kehilangan pasangan hidup yang sangat ia cintai. Kembalinya Bagus dalam kehidupan Hana yang tengah berduka menjadi sebuah kesempatan untuk memulai lembaran baru bersama.

Yandy Laurens menunjukkan kejeniusannya sebagai sutradara dan penulis skenario yang andal. Film tidak terasa bosan dengan visual 80 persen hitam-putih setelah Siti rilis pada 2016 lalu. Dialog yang dibuat terasa lucu sekali karena relate dengan kehidupan sehari-hari. Bahkan, Yandy tidak membiarkan penonton terlarut dalam kesedihan dan keharuan karena banyak komedi yang dia selipkan.

Semua aktor memberikan penampilan terbaik. Rata-rata dari mereka memiliki jam terbang tinggi di dunia perfilman. Yang menarik adalah Yandy bisa mendobrak stereotipe peran dari suatu aktor di JESEDEF. Misalnya, Sheila Dara yang sering memainkan film dengan hubungan toksik. Di JESEDEF, dia harus membawakan karakter berbeda dari peran yang selama ini dia ambil.

Kisah cinta yang dirasakan....

 

 

Sementara itu, kisah cinta yang dirasakan pada karakter berusia 40 tahun tidak terasa cringe. Bahkan, JESEDEF memberikan perspektif baru tentang rasanya jatuh cinta di usia yang terbilang tidak muda. Kesederhanaan proses pendekatan antara Bagus dan Hana lewat dialog-diaog mereka tidak menghilangkan unsur romantis. Justru, kesederhanaan itulah yang menunjukkan bahwa cinta merupakan hal yang bisa dirasakan semua orang tanpa melihat usia.

Meskipun bergenre comedy-romance, JESEDEF sarat akan kritik terhadap kondisi industri perfilman saat ini. Kritik tersebut dibalut dengan dialog-dialog ringan sehingga terasa menohok dan lucu di saat yang bersamaan.

Dengan proses pengerjaan yang berlangsung lama (lima tahun) dan biaya pengeditan film hitam putih lebih mahal, JESEDEF patut mendapat sorotan publik. JESEDEF bisa menjadi angin segar bagi mereka yang jenuh dengan genre yang itu-itu saja. Pada akhirnya, penonton akan belajar bahwa cinta bukan hal sulit yang diungkapkan.

JESEDEF merupakan salah satu film berkesan dan tidak boleh dilewat sebelum tahun 2023 berakhir. JESEDEF tayang di bioskop-bioskop seluruh Indonesia mulai 30 November 2023. Sebelum mulai tayang di bioskop, trailernya dapat ditonton di YouTube Imajinari dan sosial media Instagram @imajinari.id.

 

 

 
Berita Terpopuler