Putranya Kena Sindrom Peradangan Multisistem, Ibu di AS Ingatkan Bahaya Covid-19

Seorang anak berusia 12 tahun di AS kena MIS-C setelah positif Covid-19.

Pixabay
Ilustrasi Covid-19. Seorang anak asal Amerika Serikat (AS) mengembangkan sindrom peradangan multisistem (MIS-C) setelah positif Covid-19.
Rep: Desy Susilawati Red: Reiny Dwinanda

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Seorang ibu di Michigan, Amerika Serikat (AS) menceritakan kisah memilukan tentang cobaan yang dialaminya setelah putranya yang berusia 12 tahun menderita gagal jantung. Hal ini terjadi akibat efek samping dari kasus Covid 19 yang awalnya "ringan".

Anita Phillips mengatakan, putranya Jon mulai mengalami gejala Multisystem Inflammatory Syndrome (MIS-C) alias sindrom peradangan multisistem sekitar empat pekan setelah dinyatakan positif Covid-19. Menulis di Facebook, Anita mengatakan bahwa ia membawa Jon ke dokter anak yang kemudian mendiagnosisnya dengan Mono atau Glandular Fever lalu meresepkannya steroid.

"Mereka mengatakan kepada saya bahwa Jon perlu beberapa hari untuk mulai merasa lebih baik," tulisnya, seperti dilansir laman Mirror, Kamis (13/1/2022).

Menurut Anita, Jon sempat mengatakan bahwa dia tidak merasa lebih baik beberapa hari kemudian. Jon mengeluh dadanya terasa seperti terbakar.

Baca Juga

"Saya membawanya ke unit gawat darurat. Dokter lalu melakukan rontgen dan pemindaian dada dan mengatakan bahwa semuanya tampak baik-baik saja," kata Anita.

Jon kemudian melanjutkan pengobatan steroidnya, menindaklanjuti saran dokter. Tapi, pada sore hari berikutnya, bola mata Jon tampak merah.

Anita mengungkapkan, saat itu Jon mulai tidak mau makan dan minum. Jon hanya ingin tidur.

Jon sempat menyesap cairan, tapi cairan itu langsung keluar. Karena khawatir akan dehidrasi, Anita segera membawa putranya ke unit gawat darurat dan tim medis langsung memberinya cairan. Pada titik inilah keseriusan situasi Jon menjadi jelas.

"Ada delapan sampai 10 dokter menunggu di ruangan, semuanya mulai menangani anak saya," ujar Anita.

Ada dua ahli jantung, dua dokter penyakit menular, kepala UGD anak, kepala unit perawatan intensif anak, beberapa dokter lain, dan empat perawat. Saat itulah dokter memberi tahu Anita bahwa Jon menderita MIS-C.

"Dan dia mengalami gagal jantung," kata Anita.

Tekanan darah Jon turun dan detak jantungnya 145. Jantungnya tidak mendapatkan cukup darah.

Jon kemudian menjalani lima hari di unit perawatan intensif pediatri untuk melawan MIS-C. Kabar baiknya, ia kini sudah berada dalam masa menuju pemulihan.

Anita mengatakan, putranya masih perlu menjalani pemeriksaan jantung dan pemeriksaan lanjutan dengan spesialis penyakit menular. Sekitar empat pekan setelah hasil positif Covid-19, tubuh Jon berusaha melawan virus dan itu mengguncang sistem kekebalannya.

Jantungnya mulai meradang. Akan tetapi, inilah yang pada awalnya dilewatkan oleh dokter. Kondisi termasuk langka.

"Tapi itu nyata dan sangat berbahaya," kata Anita memperingatkan.

Dr Anna Sick-Samuels dari John Hopkins Medicine menjelaskan sindrom ini adalah reaksi peradangan dalam tubuh sekitar empat pekan setelah infeksi SARS-CoV-2. Peradangan dapat memengaruhi jantung, pembuluh darah dan organ lain, yang dapat membuat beberapa anak sangat sakit dan membutuhkan perawatan segera.

"MIS-C dapat diobati jika terdeteksi, gejalanya awalnya ialah demam, ruam, mata merah, diare, dan muntah" ujar dr Anna, dikutip dari hopkinsmedicine.org.

 
Berita Terpopuler