Taliban Pisahkan Ruang Kuliah Perempuan dan Laki-Laki

Mahasiswi di Afghanistan juga diwajibkan mengenakan pakaian Islami dan berhijab

AP Photo/Rafiq Maqbool
Kaum perempuan Afghanistan, ilustrasi
Rep: Kamran Dikarma Red: Nur Aini

REPUBLIKA.CO.ID, KABUL – Menteri pendidikan tinggi di pemerintahan Taliban, Abdul Baqi Haqqani, mengungkapkan, kaum perempuan di Afghanistan diperkenankan menempuh pendidikan di perguruan tinggi, bahkan tingkat pasca-sarjana. Namun, ruang kelas mereka bakal dipisah dengan laki-laki.

Baca Juga

Dilaporkan lamana Al Arabiya, Ahad (12/9), Haqqani mengatakan, selain ruang kelas dipisah berdasarkan gender, perempuan yang mengikuti studi di perguruan tinggi wajib mengenakan pakaian atau busana Islami. Haqqani menyebut mereka harus memakai hijab.

Namun, dia tak menjelaskan secara detail apakah hijab yang diwajibkan hanya berarti menutupi kepala atau turut menyertakan wajah. Sebelumnya universitas-universitas di Afghanistan mesti bersiap menerapkan peraturan Taliban perihal segregasi mahasiswa berdasarkan gender di ruang kelas. Ke depan, perguruan tinggi di sana tampaknya akan merekrut dosen sesuai dengan gender para mahasiwa yang mereka ajar. 

Wakil Rektor Universitas Bakhtar Waheed Roshan mengatakan, pihaknya akan mematuhi peraturan Taliban perihal segregasi gender di ruang kelas. Saat ini, universitas swasta yang berlokasi di Kabul itu memiliki dua ribu mahasiwa. Sebanyak 20 persen di antaranya adalah perempuan. 

Roshan mengungkapkan, universitasnya dapat mengadakan kelas untuk mahasiswa laki-laki dan perempuan dalam giliran terpisah. Namun, dia menilai perguruan tinggi lain mungkin kesulitan memperoleh partisi di dalam ruang kelas mereka. 

Oleh sebab itu, dia berpendapat, untuk banyak perguruan tinggi, mereka tampaknya bakal menghadapi kendala logistik ketika ingin mematuhi peraturan Taliban perihal segregasi gender dalam kegiatan belajar mengajar. Peraturan Taliban itu pun menuai reaksi beragam dari kalangan mahasiswa. 

Baca juga : Ratusan Wanita Bercadar Lakukan Aksi Dukung Taliban

 

Sahar (21 tahun), misalnya, mengaku senang Taliban tak melarang kaum perempuan untuk mengikuti pendidikan akademis. Namun, dia menilai, aturan segregasi gender itu terlalu ekstrem. 

Sahar mengungkapkan, ada begitu banyak mahasiswi di Kabul yang tumbuh di lingkungan bebas. Mereka memiliki kesempatan memilih baju apa yang ingin dikenakan dan ke universitas mana mereka ingin menempuh studi. 

Sahar mengatakan, mahasiswa perempuan di sana pun punya kehendak bebas untuk duduk di kelas dengan laki-laki atau tidak. "Tapi sekarang akan terlalu sulit. Sulit bagi mereka beradaptasi dengan aturan ekstrem ini," ucapnya, dikutip CNN, Rabu (8/9). 

Saat Taliban memerintah Afghanistan pada 1996-2001, mereka melarang perempuan dan anak perempuan bersekolah serta bekerja. Saat pemerintahan Taliban tumbang pada 2001, kaum perempuan di sana dibebaskan untuk kuliah dan bekerja. 

Baca juga : Taliban Kibarkan Bendera di Istana Kepresidenan

 

 
Berita Terpopuler