BI Pastikan Ketersediaan Uang Tunai

BI mengajak nasabah bertransaksi secara nontunai

Antara/Aditya Pradana Putra
Warga menarik uang tunai dari mesin anjungan tunai mandiri (ATM). ilustrasi
Rep: Lida Puspaningtyas Red: Nidia Zuraya

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) menjamin ketersediaan uang tunai yang beredar baik di pusat maupun daerah. Gubernur BI, Perry Warjiyo menyampaikan, BI sudah menambah pasokan uang di ATM dengan uang baru sejak awal Maret penetapan masa darurat Covid-19.

"Kami sudah siapkan front loading, kami gantikan uang dengan yang cetakan baru, masyarakat tidak perlu khawatir ketersediaan dan higienitasnya," katanya, Kamis (26/3).

Uang yang diedarkan telah melewati penanganan kehigienisan dan melewati masa karantina sehingga terbebas dari virus. Perry mengatakan stok uang tunai jauh lebih dari cukup yakni sekitar enam bulan kebutuhan uang beredar, atau senilai Rp 450 triliun.

Meski demikian, Perry mengimbau agar masyakarat lebih menggunakan uang non-tunai. Kegunaannya, tidak hanya mencegah penyebaran Covid-19 yang bisa menempel di uang kertas, tapi juga membuat transaksi bisa lebih mudah dan singkat.
 
Transaksi elektronik seperti melalui mobile banking, dan dompet digital, juga bisa dilakukan dari rumah. Sehingga mendukung upaya pencegahan penyebaran wabah Covid-19. Sistem non-tunai juga sudah digunakan untuk program pemerintah, seperti memberikan bantuan sosial.

Perry terus mengampanyekan sistem pembayaran dengan metode QRIS. Mekanisme pembayaran dengan pindai kode QR ini bisa dilakukan melalui dompet digital, maupun mobile banking apa saja yang sudah berpartisipasi.

Baca Juga

 
Berita Terpopuler