Sunday, 14 Rabiul Akhir 1442 / 29 November 2020

Sunday, 14 Rabiul Akhir 1442 / 29 November 2020

Studi: Dampak Jangka Panjang Corona Bisa Ganggu Kinerja Otak

Jumat 30 Oct 2020 03:44 WIB

Rep: Kiki Sakinah/ Red: Dwi Murdaningsih

Ilustrasi Covid-19

Ilustrasi Covid-19

Foto: Pixabay
Studi menyebut penyintas cobid-19 mungkin mengalami gangguan kognitif yang signifikan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah penelitian baru mencoba meneliti dampak panjang dari virus corona. Dalam laporan penelitian baru itu mengungkap, bahwa pasien virus corona yang telah sembuh dapat mengalami gangguan kognitif yang signifikan bahkan beberapa bulan setelah diagnosis awal mereka.

Dilansir di BGR, Kamis (29/10), penelitian tersebut melibatkan lebih dari 84.000 orang. Penelitian itu tengah dalam proses peninjauan sejawat (peer-reviewed) dan telah dipublikasikan di medRixv awal pekan ini.

Sebelumnya, terdapat laporan yang menyoroti bagaimana pasien virus corona yang sembuh dapat mengalami berbagai masalah kognitif seperti kehilangan ingatan dan kesulitan berkonsentrasi. Penelitian baru ini adalah studi pertama yang mengukur sejauh mana fungsi otak terganggu oleh virus corona.

Beberapa temuan studi tersebut mengejutkan dan menakutkan. Studi tersebut menemukan bahwa orang-orang yang mengidap Covid-19 tampil lebih buruk pada tes kognitif di beberapa domain daripada yang diperkirakan mengingat usia dan profil demografis mereka yang terperinci.

Masalah kognitif tidak hanya diamati pada pasien yang mengalami infeksi Covid-19 pada saat itu, tetapi juga pada pasien yang telah sembuh beberapa pekan dan bulan sebelumnya.

Dalam kasus di mana pasien mengalami gejala virus corona parah yang memerlukan rawat inap, para peneliti menemukan bahwa virus corona dapat menuakan otak sekitar 10 tahun, yang menurut penelitian itu setara dengan penurunan IQ 8,5 poin.

Sementara itu, sebuah studi yang agak serupa dari Northwestern yang melibatkan 509 pasien virus corona yang dirawat di rumah sakit menemukan bahwa 31 persen mengalami ensefalopati. Penyakit ini merupakan istilah yang mencakup semua hal yang mencakup berbagai fungsi otak yang berubah, termasuk kebingungan, kehilangan memori, masalah konsentrasi, dan bahkan sedikit perubahan kepribadian.

Penelitian itu menyebutkan, setelah keluar dari rumah sakit, hanya 32,1 persen pasien dengan ensefalopati yang dapat merawat dirinya sendiri, dibandingkan dengan 89,3 persen dari mereka yang tidak mengalami ensefalopati. Ada juga kematian yang lebih tinggi pada pasien dengan ensefalopati (21,7 persen) dibandingkan dengan 3,2 persen pada mereka yang tidak mengalami gejala demikian.

Salah satu aspek yang paling menakutkan dari virus corona adalah kemampuannya yang nyata untuk mempengaruhi kesehatan dan fungsi kognitif seseorang beberapa bulan setelah sembuh. Namun demikian, masih belum jelas, pada titik ini, apakah pasien yang mengalami penurunan kognitif yang terlihat akan dapat kembali ke tingkat fungsi otak sebelum virus corona di kemudian harinya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA