Wednesday, 17 Rabiul Akhir 1442 / 02 December 2020

Wednesday, 17 Rabiul Akhir 1442 / 02 December 2020

Studi Sebut Mamalia Menghilang di Area Konservasi Panda

Selasa 04 Aug 2020 16:32 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Dwi Murdaningsih

panda

panda

Foto: AP
Upaya melindungi panda tidak otomatis menjaga populasi mamalia besar.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Studi menemukan di sejumlah area konservasi panda, sejumlah hewan mamalia besar lainnya menghilang. Penelitian menunjukkan macan tutul dan serigala berada diantara yang mungkin gagal terlindungi dalam konservasi tersebut.

Panda selama ini dikenal sebagai hewan asal China yang dilindungi. Sejak upaya konservasi dimulai, pemerintah Negeri Tirai Bambu telah menindak pemburu liar, melarang perdagangan panda, dan memetakan puluhan habitat yang dilindungi.

Strategi ini dianggap sebagai salah satu program yang paling ambisius dan terkenal untuk menyelamatkan panda dari kepunahan. Langkah itu berhasil. Panda kemudian dihapus dari daftar spesies langka di Uni Internasional untuk Konservasi Alam pada 2016 meski tetap dinilai rentan.

Namun, sebuah studi baru yang diterbitkan di jurnal Nature Ecology and Evolution pada Senin (4/7) meragukan gagasan bahwa upaya untuk melindungi panda secara otomatis membantu semua hewan lain di wilayahnya. Para peneliti menemukan bahwa macan tutul, macan tutul salju, serigala, dan dhole  atau anjing liar Asia  hampir menghilang dari sebagian besar habitat panda yang dilindungi sejak 1960-an.

Temuan menunjukkan kurangnya konservasi panda untuk melindungi spesies karnivora besar lainnya. Para penulis membandingkan data survei dari 1950-an hingga 1970-an dengan informasi dari hampir 8.000 perangkap kamera yang diambil antara 2008 hingga 2018.

Tim menemukan bahwa macan tutul telah menghilang dari 81 persen area konservasi panda raksasa, kemudian macan tutul salju 38 persen, serigala dari 77 persen, dan dhole 95 persen.

Temuan dalam studi menyebut bahwa predator menghadapi ancaman dari pemburu liar, penebangan dan penyakit. Para peneliti mengatakan tantangan utama adalah panda mungkin memiliki jangkauan hingga 13 kilometer persegi, di mana empat hewan karnivora lainnya dapat berkeliaran di area yang melebihi 100 kilometer persegi.

Sheng Li, dari School of Life Sciences di Universitas Peking, yang memimpin penelitian mengatakan cadangan panda individu biasanya sekitar 300 hingga 400 km persegi. Ini terlalu kecil untuk mendukung populasi karnivora besar seperti macan tutul atau dhole. Meski demikian, konservasi panda tetap membantu melindungi sejumlah hewan lainnya, termasuk karnivora kecil seperti pheasants (burung pegar) dan songbirds (burung penyanyi).

“Gagal melindungi spesies karnivora besar tidak menghapus kekuatan panda raksasa sebagai payung efektif yang melindungi banyak spesies lain," ujar Li seperti dilansir Phys, Selasa (4/8).

Tetapi, Li menyerukan konservasi di masa depan untuk fokus pada pemulihan habitat alam yang lebih luas. Ia berharap ini dapat dicapai sebagai bagian dari Taman Nasional Panda Raksasa baru, program jangka panjang yang akan menghubungkan habitat yang ada lebih dari ribuan kilometer untuk memungkinkan populasi yang terisolasi untuk berbaur dan berpotensi berkembang biak.

Pemulihan populasi karnivora besar akan meningkatkan ketahanan dan keberlanjutan ekosistem tidak hanya untuk panda raksasa tetapi juga untuk spesies liar lainnya. Diperkirakan di Cina terdapat antara 500 dan 1.000 panda dewasa di wilayah Sichuan, Shaanxi dan Gansu.

Kelompok konservasi mencatat macan tutul dan macan tutul salju sebagai spesies yang rentan di seluruh wilayah yang diteliti. Sementara, dhole termasuk hewan yang terancam punah.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA