Wednesday, 12 Muharram 1444 / 10 August 2022

Batal Jadi Dokter, Getol Bantu UMKM

Senin 27 Jun 2022 17:51 WIB

Rep: Shabrina Zakaria/ Red: Andi Nur Aminah

Okta Yudhi Kusuma

Okta Yudhi Kusuma

Foto: Jagalilin
Dia getol membantu UMKM agar produknya awet tanpa menggunakan pengawet.

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Okta Yudhi Kusuma, atau yang akrab disapa Okta, berhasil menepis julukan “dokter gila” yang sempat diterimanya. Itu terjadi setelah dia mengundurkan diri saat menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas, Padang.

Saat ini, Okta justru membantu banyak pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) agar produknya awet tanpa menggunakan pengawet. Seperti produk opor, gudeg, kepala manyung, tongseng, bahkan sambal bisa dinikmati tanpa menghilangkan rasa aslinya.

Baca Juga

Kini, melalui Okwi Food yang berada di bawah Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), Okta membantu para pelaku UMKM mengemas produknya menggunakan kaleng. Tak hanya dari pengemasan, Okwi Food juga dapat membantu mengurus produk hingga pemasaran.

Kisahnya tak singkat. Diawali dengan pertemuan dengan Deputi BRIN saat Musyawarah Daerah se-Jawa Tengah. Kakak Okta yang menikah dengan pemilik usaha kepala manyung, ditawari untuk membuat produk kalengan.

Melihat potensi yang besar namun tidak memiliki modal yang cukup untuk membeli mesin, ia pun ditawari untuk bekerjasama memanfaaatkan mesin yang ada di BRIN, Kabupaten Bogor. 

Mesin yang sudah ada dua tahun di BRIN itu, berkapasitas 3.500 kaleng per batch. Menurut Okta, jumlah tersebut terlalu besar untuk digunakan seorang diri. Maka, ia pun membawa para UMKM sebagai syarat masuk ke bawah BRIN.

“Kita buat one village one product, karena banyak potensi makanan di Indonesia, terkait package (pengemasan)-nya gimana biar awet. Misal opor, tongseng, yang pakai santan. Jadi menyediakan makanan daerah Indonesia yang bisa dinikmati dengan rasa yang sama, tapi di manapun,” kata Okta dikutip dari kanal Youtube JagaLilin.

Dengan teknologi sterilisasi, makanan bisa diawetkan tanpa pengawet sedikitpun. Kedua, pengalengan makanan heterogen. Lisensinya juga dibeli di BRIN.

“Misalnya gudeg, krecek, telor ayam, cabai, bisa dimasukkan bareng, di-retouch 21 derarjat, bisa mateng bareng. Makanan santan nanti bertahan 18 bulan,” paparnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, Okwi Food juga mengurus produk UMKM dari nol sampai pemasaran. Dimulai dari persiapan produk, cocok dengan kaleng ukuran mana, berapa lama masaknya, bagaimana komposisinya, apakah cocok untuk dikalengkan, berikut juga perizinannya.

Dengan total dana Rp 50 juta, pelaku UMKM bisa mendapatkan 2.000 kaleng produk, izin, konten, dan lainnya yang dapat dicicil. Serta ada juga program Rp 3 juta dapat 200 kaleng.

“Mimpi saya UMKM Indonesia maju bersama-sama. UMKM bangkit, jaya, naik kelas. Kita butuh teman-teman di luar sana untuk maju bareng-bareng,” ujarnya.

Untuk kisah selengkapnya, simak di video berikut: 

 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA