Saturday, 3 Zulhijjah 1443 / 02 July 2022

Mendag: Target Jadi Negara Maju Berpacu dengan Bonus Demografi

Kamis 16 Dec 2021 06:28 WIB

Red: Ratna Puspita

Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi menilai target Indonesia untuk menjadi negara maju harus berpacu dengan umur bonus demografi yang dimiliki saat ini. (Foto: Muhammad Lutfi)

Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi menilai target Indonesia untuk menjadi negara maju harus berpacu dengan umur bonus demografi yang dimiliki saat ini. (Foto: Muhammad Lutfi)

Foto: ANTARA/Muhammad Adimaja
Mendag mengatakan, dari perhitungan, bonus demografi diperkirakan habis pada 2038. 

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi menilai target Indonesia untuk menjadi negara maju harus berpacu dengan umur bonus demografi yang dimiliki saat ini. Dari perhitungan, bonus demografi diperkirakan habis pada 2038. 

“Artinya dalam 18 tahun ke depan Indonesia harus mampu mencapai 3 kali lipat PDB per kapitanya," kata Lutfi saat jadi pembicara kunci dalam dialog "Ekonomi Bangkit Tahun 2022" yang digelar oleh Kadin Jawa Tengah di Semarang, Rabu (15/12).

Baca Juga

Menurut dia, produk domestik bruto (PDB) Indonesia saat ini berada pada angka 4.030 dolar AS per kapita. Untuk masuk dalam.kategori negara maju, maka besaran PDB yang harus dicapai sebesar 12.500 dolar AS per kapita.

"Jika bonus demografi habis, peluang kita menjadi negara maju juga habis," katanya.

Karena itu, kata dia, terdapat dua upaya yang bisa dilakukan, yakni mendorong investasi infrastruktur dan transfer teknologi. "Tanpa dua ini, kita tidak akan pernah keluar dari jebakan kelas menengah," tambahnya.

Saat ini, menurut dia, Indonesia memiliki 25 juta anak usia sekolah, di mana sekitar 10 juta anak di antaranya merupakan pelajar SD yang menempuh pendidikannya hingga lulus SMA. Sementara 15 juta sisanya, kata dia, belum masuk dalam kriteria sistem pendidikan di Indonesia.

Karena itu, lanjut dia, perlu dilakukan upaya untuk menggali potensi generasi emas Indonesia. "Edukasi dikerjakan dalam platform digital. Bukan bikin sekolahnya yang sulit, namun bikin guru yang berkualitas itu memakan waktu," katanya.

Ia menegaskan penggunaan platform digital di masa yang akan datang tidak bisa dielakkan."Bagaimana pun kita akan masuk, kapan pun itu," ujarnya.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA