Sabtu 23 Oct 2021 16:28 WIB

Delta AY.4.2 Kemungkinan tidak Timbulkan Sakit Parah

Virus sub varian Delta AY.4.2 hingga kini masih dalam pantauan.

Virus subvarian Delta AY.4.2 hingga kini masih dalam pantauan.
Foto: Pixabay
Virus subvarian Delta AY.4.2 hingga kini masih dalam pantauan.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UKHSA) pada Jumat (22/10) mengonfirmasi bahwa subvarian Delta (Delta AY.4.2) ditetapkan sebagai varian dalam penyelidikan (VUI) pada 20 Oktober 2021 dan resmi dinamai VUI-21OCT-01. UKHSA mengatakan, penetapan itu dibuat lantaran subvarian tersebut menjadi semakin sering ditemukan di Inggris dalam beberapa bulan terakhir.

Ada sejumlah bukti awal bahwa mutasi itu kemungkinan memiliki tingkat perkembangan yang tinggi di Inggris ketimbang Delta. Hingga 20 Oktober tercatat 15.120 kasus terkonfirmasi subvarian Delta di Inggris sejak pertama kali ditemukan pada Juli. 

Baca Juga

Subvarian tersebut menyumbang sekitar 6 persen dari total kasus selama sepekan terakhir. Kasus dikonfirmasi lewat pengurutan genom di sembilan kawasan Inggris. 

UKHSA mengatakan sedang mengawasinya secara cermat, meski varian Delta versi asli masih sangat dominan di negara tersebut, yakni hampir 99,8 persen dari total kasus. Meski bukti masih bermunculan, sejauh ini subvarian tersebut tampaknya tidak menyebabkan penyakit menjadi lebih parah atau membuat vaksin yang digunakan saat ini menjadi kurang ampuh.

"Virus kerap bermutasi secara acak, dan tidak disangka bahwa varian-varian baru akan terus muncul selama pandemi berlangsung, terutama saat angka kasus masih tinggi," kata CEO UKHSA Dr Jenny Harries, dilansir dari xinhua, Sabtu (23/10).

Berdasarkan data terkini, lebih dari 86 persen orang berusia 12 ke atas di Inggris sudah mendapatkan dosis pertama vaksin dan sekitar 79 persen telah menerima dosis kedua. Untuk kembali pada kehidupan normal, negara-negara seperti Inggris, China, Jerman, Rusia dan Amerika Serikat berpacu dengan waktu untuk meluncurkan vaksin Covid-19.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement