Sunday, 16 Muharram 1444 / 14 August 2022

Tidur tak Berlaku untuk Allah

Rabu 06 Oct 2021 14:32 WIB

Rep: Ali Yusuf/ Red: Muhammad Hafil

Tidur tak Berlaku untuk Allah. Foto: Tulisan kaligrafi Allah SWT

Tidur tak Berlaku untuk Allah. Foto: Tulisan kaligrafi Allah SWT

Foto: republika
Allah tak mengantuk dan tidak pula tidur.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Semua makhluk di dunia tertidur kecuali Allah SWT pencipta alam semesta. Fenomena tertidur tidak berlaku bagi Allah SWT.

"Kalau seluruh makhluk hidup baik manusia maupun fauna memerlukan tidur, maka berbeda dengan pencipta alam semesta, yaitu Allah sangat tidak pantas dan tidak boleh merasa kantuk apalagi tidur," tulis tim Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an Badan Litbang Dan Diklat Departemen Agama RI Tahun 2009, dengan judul "Kesehatan Dalam Persepektif Alquran."

Baca Juga

Ayat yang menjelaskan hal tersebut ada dalam surah al-Baqarah ayat 255:

"Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Mahahidup, Yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang dihadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu  apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Mahatinggi, Mahabesar."

Tidur terjadi pada beberapa tingkatan atau fase-fase tertentu. Fase pertama, dinamakan an-nu‘as (rasa lemas, ingin tidur). Fase kedua, as-sinah, (kondisi mengantuk, sudah diambang tidur). Fase ketiga, an-naum (tidur, lelap).

Kata as-sinah maksudnya mata diselimuti oleh rasa kantuk. Sedangkan an-nu‘as dan as-sinah adalah rasa lelah yang menimpa tubuh dan ingin tidur. Pada fase ini kepala terasa berat dan kelopak mata terpaksa menjadi tertutup. Namun, itu bukanlah tidur dalam makna yang sebenarnya, sebab kondisi demikian itu adalah kondisi hampir tidur. 

Ketika hendak tidur pertama kali yang terjadi adalah annu‘as (rasa lemah, ingin tidur) baru kemudian as-sinah (rasa kantuk), sehingga membuat kepala terasa berat, baru kemudian datanglah an-naum (tidur).

"Ketiga fase ini, sama sekali tidak pantas dan tidak boleh terjadi pada pencipta alam semesta ini, yaitu Allah SWT." 

Teks ayat tersebut jelas sekali ketika menyebutkan dan menyifati diri-Nya sendiri dalam firman-Nya:

"Allah tidak ngantuk dan juga tidak tidur."

Penjelasan ayat tersebut diperkuat dan dipertegas lagi dengan hadis Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyatakan:

"Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla tidak tidur dan tidak sepatutnya bagi-Nya untuk tidur. (Riwayat Muslim)

Dalam hadits lain disebutkan: Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas bahwasanya Bani Israil bertanya kepada Nabi Musa; “Apakah Tuhanmu tidur?” Lalu Musa menjawab: “Takwalah kalian kepada Allah subhanahu wa ta‘ala.”

Selanjutnya Allah subhanahu wa ta‘ala mewahyukan kepada Musa, agar ia memerintahkan salah satu di antara mereka mengambil dua buah gelas dan masing-masing mereka memegang sebuah gelas.

Lalu, Musa memerintahkan kepada dua orang itu, agar menjaga gelas yang dipegang dan berusaha agar tidak tertidur. Di akhir cerita dikisahkan bahwa orang yang diperintahkan Musa itu pun tertidur sehingga kedua tangannya terbuka dan akhirnya kedua gelas itu pun pecah.

Dengan ilustrasi seperti ini, Allah subhanahu wa ta‘ala menjadikan perumpamaan bahwasanya Dia Zat Yang Mahahidup dan Mahakekal serta tidak pernah mengantuk apalagi tidur. Sebab jika Allah subhanahu wa ta‘ala mengantuk atau tertidur, tentulah tidak mampu mengendalikan langit dan bumi agar tidak tergelincir.

Tidur adalah bentuk perubahan seorang makhluk dari satu kondisi kepada kondisi lainnya. Sedangkan Allah ‘Azza wa Jalla tidak pernah berubah, karena Dia adalah Zat yang Mengubah dan Dia tidak pernah berubah.

Dari ayat dan hadits di atas dapat dipahami, bahwa bagi Allah SWT sangat mustahil mengantuk apalagitidur, sebab akan menjadi fatal keadaan semesta alam raya ini, kalau Allah subhanahu wa ta‘ala mengalami ngantuk bisa berantakan dan akan kacau sistem peredaran planet termasuk bumi yang dihuni oleh manusia dan makhluk lainnya.

Ibaratnya seorang sopir yang sedang mengemudikan mobilnya, sama sekali tidak boleh mengantuk apalagi tidur, akan fatal akibatnya, membahayakan dirinya dan para penumpang darimobil tersebut.

"Demikian pula Allah subhanahu wa ta‘ala tidak mengenal mengantuk apalagi tidur dalam mengelola, mengatur dan melihara alam jagad raya ini," katanya.

 

 

 

 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA