Wednesday, 17 Syawwal 1443 / 18 May 2022

Lira Turki Terpuruk, Presiden Erdogan Ambil Langkah Ini

Sabtu 03 Apr 2021 19:08 WIB

Red: Elba Damhuri

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan

Foto: Turkish Presidency via AP
Presiden Erdogan mengambil tiga langkah berani dalam memperkuat lira Turki

REPUBLIKA.CO.ID --- Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menghadapi masalah serius terkait pelemahan nilai tukar lira terhadap dolar AS. Presiden Erdogan pun memerintahkan perpanjangan pemotongan pajak bagi hasil dan bunga tabungan untuk menekan pelemahan lira Turki. 

Pengurangan pajak ini berlaku untuk pajak bunga deposito dan berlaku hingga akhir Mei 2021. Hal ini disampaikan Presiden Erdogan dalam sebuah keputusan yang diterbitkan dalam Lembaran Resmi pada Kamis.

Baca Juga

Erdogan mengurangi pajak pada September 2020 setelah lira jatuh ke rekor terendah 7,85 per dolar. Lira Turki telah merosot selama dua minggu terakhir setelah Erdogan memecat dan menggantikan gubernur bank sentral Turki. 

Mata uang tersebut diperdagangkan naik 0,3 persen pada 8,22 per dolar pada Kamis pagi, mendekati level terendah terbaru sepanjang masa di 8,58 per dolar AS, yang dicapai pada awal November 2020.

Dalam keputusan September lalu, Erdogan mengurangi pajak atas bunga deposito lira lebih dari satu tahun menjadi nol persen dari 10 persen. Erdogan menyetujui pemotongan pajak atas bunga deposito antara enam bulan dan satu tahun menjadi 3 persen dari 12 persen, dan untuk deposito sampai enam bulan menjadi 5 persen dari 15 persen.

Suku bunga rata-rata deposito lira lebih dari satu tahun mencapai 15,3 persen pada 19 Maret, menurut data bank sentral. Angka ini tak jauh beda inflasi harga konsumen tahunan sebesar 15,6 persen.

Suku bunga deposito antara tiga bulan enam bulan rata-rata 16,95 persen dan deposito antara enam bulan dan satu tahun sebesar 17,94 persen.

Selain memperpanjang pengurangan suku bunga deposito dalam mata uang lira, Erdogan juga terlebih dahulu memecat Gubernur Bank Sentral Turki Naci Aqbal. Aqbal dituding tidak menjalankan konsep dan kebijakan versi Erdogan dalam menata moneter Turki ke arah lebih baik.

Erdogan sangat membenci kenaikan suku bunga karena menurut dia itu penyebab utama kenaikan inflasi. Namun, untuk memperkuat lira, Aqbal menaikkan suku bunga bank acuan dua hari sebelum dia dipecat Erdogan.

Aqbal menaikkan suku bunga sebesar 200 basis poin menjadi 19%, lebih tinggi dari yang diharapkan, setelah inflasi mencapai hampir 15% pada Februari.

Kenaikan suku bunga besar ketiga sejak penunjukannya pada November itu tampaknya diterima dengan sangat baik oleh pasar. Kenaikan suku bunga ini meningkatkan daya tarik lira dan menunjukkan komitmen Aqbal untuk menjaga inflasi tetap pada jalurnya.

Meski kebijakan kenaikan suku bunga itu disukai pasar dan investor,  namun langkah itu dibenci Erdogan. Padahal, Aqbal ingin mengembalikan independensi bank sentral Turki ke arah yang benar.

Independensi bank sentral menjadi sangat penting bagi semua negara untuk mengambil kebijakan-kebijakan moneter yang benar dan tepat sasaran. Akibatnya, Aqbal pun dipecat. 

Langkah ketiga Pemerintahan Erdogan untuk mengembalikan kekuatan lira dan ekonomi Turki secara umum adalah dengan menyiapkan reformasi ekonomi.

Turki berkomitmen untuk menerapkan reformasi ekonomi, kata menteri keuangan negara itu Lutfi Elvan kepada utusan Uni Eropa (UE) pada Jumat.

Pada sebuah konferensi video, Menkeu Turki Elvan memberikan pengarahan kepada para duta besar dan perwakilan negara anggota UE tentang reformasi ekonomi yang diumumkan oleh Presiden Recep Tayyip Erdogan pada 12 Maret.

Elvan juga menginformasikan kepada mereka tentang kebijakan makroekonomi dan struktural yang merupakan bagian utama dari reformasi ekonomi.

Setelah pertemuan tersebut, Elvan mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa Turki bertekad untuk melaksanakan reformasi ekonomi.

"Setelah Presiden Erdogan mengumumkan reformasi ekonomi, kami menerima permintaan pertemuan dari para investor dan perwakilan-perwakilan luar negeri mengenai isi dari program reformasi," ujar dia.

Selain itu, kebijakan Turki di bidang disiplin fiskal keuangan publik akan memerangi inflasi, memperkuat sektor keuangan, mengurangi defisit neraca berjalan, dan mendorong lapangan kerja, ungkap Elvan.

Stabilitas makroekonomi adalah prioritas utama Turki, sebut dia. Elvan mengatakan pertemuan tentang reformasi ekonomi Turki akan berlanjut dalam beberapa hari mendatang.

 

sumber : Reuters/Anadolu/Sabah
Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA