Thursday, 7 Zulqaidah 1442 / 17 June 2021

Thursday, 7 Zulqaidah 1442 / 17 June 2021

Munajat Rasulullah SAW Kala Terusir dari Kota Suci Makkah

Rabu 10 Feb 2021 06:18 WIB

Rep: Imas Damayanti/ Red: Nashih Nashrullah

Rasululllah SAW memanjatkan munajat saat terusir dari Kota Suci Makkah. Ilustrasi Masjidil Haram di Makkah, Arab Saudi.

Rasululllah SAW memanjatkan munajat saat terusir dari Kota Suci Makkah. Ilustrasi Masjidil Haram di Makkah, Arab Saudi.

Foto: Sacredsites.com
Rasululllah SAW memanjatkan munajat saat terusir dari Kota Suci Makkah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Ketika Rasulullah, Muhammad SAW diusir kaum kafir Quraisy dari Makkah, hatinya luruh. Betapa tidak? 

Makkah adalah tanah kelahiran Nabi, kampung halamannya, tempat sanak-keluarganya berada. Dan hanya ke Satu tempatlah Rasulullah meminta.

Baca Juga

Syekh Aidh Al-Qarni dalam kitab La Tahzan menjelaskan, ketika Rasulullah diusir dari Makkah, beliau segera menghadap ke kiblat. Beliau mengadu kepada Allah SWT, bersimpuh, dan lalu bersyukur atas apa yang diterima. Rasulullah pun berdoa: 

اللّهُمّ إلَيْك أَشْكُو ضَعْفَ قُوّتِي ، وَقِلّةَ حِيلَتِي ، وَهَوَانِي عَلَى النّاسِ، يَا أَرْحَمَ الرّاحِمِينَ ! أَنْتَ رَبّ الْمُسْتَضْعَفِينَ وَأَنْتَ رَبّي ، إلَى مَنْ تَكِلُنِي ؟ إلَى بَعِيدٍ يَتَجَهّمُنِي ؟ أَمْ إلَى عَدُوّ مَلّكْتَهُ أَمْرِي ؟ إنْ لَمْ يَكُنْ بِك عَلَيّ غَضَبٌ فَلَا أُبَالِي ، وَلَكِنّ عَافِيَتَك هِيَ أَوْسَعُ لِي ، أَعُوذُ بِنُورِ وَجْهِك الّذِي أَشْرَقَتْ لَهُ الظّلُمَاتُ وَصَلُحَ عَلَيْهِ أَمْرُ الدّنْيَا وَالْآخِرَةِ مِنْ أَنْ تُنْزِلَ بِي غَضَبَك  أَوْ يَحِلّ عَلَيّ سُخْطُكَ، لَك الْعُتْبَى حَتّى تَرْضَى وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوّةَ إلّا بِك 

“Allahumma inni asykuu ilaika dhu’fa quwwati wa qillata hiilati wa hawaani ala an-naasi, anta arhama ar-raahimina wa rabbul-mustadh’afin, anta Rabbi, ila man takiluni? Ila qaribin yatajahhamani, aw ia aduwwin mallaktahu amriy, in lam yakun bika alayya ghadhabun falaa ubaali, ghaira anna aafiyataka hiya awsa’u liy, audzu binnuri wajhika alladzi asraqat lahuaz-zhulumaatu wa shaluha alaihi amri ad-dunya wal-akhirati, an yanzilabi sakhatuka, laka al-utba hatta tardha, wa laa haula wa la quwwata illa bika.” 

Yang artinya: “Ya Allah, kepada-Mu kuadukan lemahnya kekuatanku, kekuranganku, siasatku, dan ketidakberdayaanu menghadapi manusia. Wahai Dzat Yang Mahapengasih di antara pengasih, Tuhan orang-orang yang lemah. Engkau Tuhanku, kepada siapa hendak Kau serahkan diriku? Kepada saudaraku yang bermuka masam padaku? Atau kepada musuh yang Kau kuasakan urusanku padanya?”

“Jika engkau tidak marah kepadaku, maka aku tidak peduli (apapun sikap orang kepadaku). Hanya saja ampunan-Mu lebih luas bagi diriku. Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang menyinari semua kegelapan, sehingga dengannya menjadi baik urusan dunia dan akhirat, dari kemarahan-Mu kepadaku atau tidak terima-Mu atas diriku. Milik-Mu lah keridhaan hingga Engkau ridha. Tidak ada daya upaya selain dengan-Mu.”   

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA