Wednesday, 14 Jumadil Akhir 1442 / 27 January 2021

Wednesday, 14 Jumadil Akhir 1442 / 27 January 2021

Ketika Ibnu Hajar Kritik Kerumunan Doa Bersama Saat Pandemi

Sabtu 05 Dec 2020 16:55 WIB

Rep: Muhyiddin/ Red: Nashih Nashrullah

Kerumunan selama pandemi wabah sangat berbahaya menurut Ibnu Hajar. Ilustrasi kerumunan massa pandemi

Kerumunan selama pandemi wabah sangat berbahaya menurut Ibnu Hajar. Ilustrasi kerumunan massa pandemi

Foto: ANTARA//M Ibnu Chazar
Kerumunan selama pandemi wabah sangat berbahaya menurut Ibnu Hajar

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Pentingnya 'social distancing' saat terjadinya pandemi wabah sangat ditekankan ulama Abad Pertengahan al-Hafiz Ibnu Hajar al-Asqalani (1372- 1449) dalam kitabnya berjudul Badzlu al Maun Fi Fadhli al Thaun.   

Al-Asqalani menegaskan, taun sangat berbahaya dari segi penyebarannya. Oleh karena itu, dianjurkannya untuk menghindari kerumunan. Hal ini dalam pemahaman sekarang dinamakan sebagai sosial distancing. knanya, tetap harus ada ikhtiar untuk melindungi diri, keluarga, dan sesama warga dalam menghadapi wabah.

Kitab Badzlu juga menganjurkan umat Islam untuk mengonsumsi makanan bergizi serta rutin menjalani pola hidup sehat. Pesan al-Asqalani itu dapat diartikan sesuai dengan konteks zaman kini. Misalnya, melakukan vaksinasi (bila ada) atau meminum suplemen vitamin. Poinnya adalah, kita diwajibkan untuk berusaha.

Baca Juga

Taun yang dibicarakan dalam Badzlu menyebar luas ke banyak wilayah. Tidak hanya Eropa, melainkan juga Jazirah Arab bahkan Cina. Jutaan orang meninggal dunia karena wabah tersebut. Ini jauh lebih banyak daripada wabah pada zaman Khalifah Umar bin Khattab yang, dalam catatan al-Asqalani, menyentuh angka 25 ribu orang korban jiwa. Di dalam kitab Badzlu, al-Asqalani mengungkapkan daerah-daerah yang terdampak taun, seperti Baghdad, Aljazair, dan Mosul (Irak). 

Korban taun pada saat itu abad ke-14 jumlahnya tidak sedikit. Dalam satu-dua hari saja, yang wafat bisa mencapai 70 ribu orang. Taun ini juga menyebar ke Yaman dan Negeri Hijaz. Kemudian, di Mesir, yang meninggal dalam 10 bulan, banyak. Setiap harinya itu seribu orang. Jadi, sekali lagi, itu bukan satu hal yang bisa dianggap enteng oleh kita. 

Salah satu bab di dalam Badzlu diberi judul Hal-hal yang disyariatkan pengamalannya setelah mewabahnya Taun. 

Al-Asqalani antara lain mengkritik ritual doa bersama yang dilakukan  warga Damaskus ketika taun mewabah di sana pada tahun 749 H. Sebagai ahli sunnah Rasulullah SAW, al-Asqalani menegaskan praktik keagamaan semacam itu pada saat terjadinya wabah adalah per buatan bidah. Mengutip al-Manbaji (wafat 785), ia juga memberikan contoh betapa fatalnya membiarkan kerumunan saat wabah menyeruak. 

Di jantung negeri Suriah itu, para pembesar mengajak seluruh masyarakat untuk sama-sama keluar dari rumah masing-masing dan menuju tanah lapang. Di sanalah mereka semua bermunajat dan melakukan istighatsah bersama. 

Praktik ini mirip dengan prosesi sholat minta hujan (istisqa'). Sependapat dengan al-Manbaji, Hajar al-Asqalani pun mengingkari perkumpulan massa ini. Faktanya, menurut laporan yang ada, jumlah penderita taun pun meningkat tajam usai acara doa bersama tersebut. 

Ibnu Hajar al-Asqalani juga menuturkan kasus di Mesir pada 27 Rabi'ul Akhir 833 H. Mulanya, di tengah situasi wabah jumlah penderita yang wafat tidak sampai 40 orang. Waktu itu, Muslimin setempat banyak yang mengamalkan puasa sunnah di rumah masing-masing. Namun, para tokoh kemudi an menyerukan warga pada tanggal 4 Jumadal Awal untuk sama-sama menuju tanah lapang. 

Di sana, mereka berkumpul untuk melaksana kan doa bersama. Setelah itu, lanjut al-Asqa lani, angka kematian akibat wabah melonjak tajam. Bahkan, dilaporkan lebih dari seribu orang yang wafat setiap harinya. Dalam bahasa sekarang, lonjakan ini lantaran diabaikannya anjuran untuk social distancing sementara waktu hingga wabah mereda.  

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA