Thursday, 13 Rajab 1442 / 25 February 2021

Thursday, 13 Rajab 1442 / 25 February 2021

PBB Butuhkan Dana Jumbo Bantu Krisis Akibat Covid-19

Selasa 01 Dec 2020 21:55 WIB

Rep: Zainur Mahsir Ramadhan/ Red: Christiyaningsih

PBB umumkan setidaknya dibutuhkan dana sekitar 35 miliar dolar AS atasi krisis dunia. Ilustrasi.

PBB umumkan setidaknya dibutuhkan dana sekitar 35 miliar dolar AS atasi krisis dunia. Ilustrasi.

Foto: EPA
PBB umumkan setidaknya dibutuhkan dana sekitar 35 miliar dolar AS atasi krisis dunia

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengumumkan setidaknya dibutuhkan dana fantastis sekitar 35 miliar dolar AS untuk kepentingan kemanusiaan global. Dana itu juga termasuk bantuan dampak pandemi covid-19.

Koordinator bantuan darurat untuk Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa Mark Lowcock mengatakan, hal itu juga dilatarbelakangi banyaknya kelaparan yang saat ini terjadi di berbagai belahan dunia. Utamanya, karena krisis kesehatan yang melanda.

"Gambaran yang kami sajikan adalah perspektif paling suram dan tergelap tentang kebutuhan kemanusiaan yang pernah kami tentukan," katanya mengutip upi, Selasa (1/12).

Menurutnya hal itu adalah cerminan dari fakta pandemi telah melakukan pembantaian di dunia. Untuk itu, Lowcock mengatakan saat ini ada sebuah rencana dari Tinjauan Kemanusiaan Global yang dapat menjangkau 160 juta orang.

"Orang paling rentan ada di 56 negara dan mereka sepenuhnya dibiayai dengan 35 miliar dolar yang dibutuhkan," katanya.

Mengutip UNOCHA, sejauh ini dilaporkan ada rekor sekitar 235 juta orang akan membutuhkan bantuan kemanusiaan dan perlindungan pada 2021. Jumlah itu diklaim meningkat hampir 40 persen dari tahun 2020.

"Jumlah itu didorong hampir seluruhnya dari Covid-19," kata Lowcock dalam sebuah pernyataan.

Menurut gambaran umum, negara dengan jumlah penduduk yang membutuhkan bantuan terbesar adalah Yaman (24,3 juta), Ethiopia (21,3 juta), Kongo (19,6 juta), Afghanistan (18,4 juta), Sudan (13,4 juta), Suriah (13 juta), dan Pakistan (10,5 juta). Banyak dari negara tersebut menghadapi kekerasan yang berkelanjutan karena perang dan kekerasan lainnya selain dari dampak nyata pandemi.

"Kami kewalahan dengan masalah, seperti yang Anda tahu, tetapi hanya skala kebutuhan dan skala krisis sedemikian rupa sehingga upaya untuk mengantisipasi hal-hal ini membuat segalanya menjadi sedikit lebih baik daripada yang seharusnya. Namun mereka tetap ada di situasi yang mengerikan dan putus asa," kata dia.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA