Wednesday, 12 Muharram 1444 / 10 August 2022

90% Bahan Baku Obat Impor, Jokowi Sentil Industri Farmasi

Kamis 05 Nov 2020 11:54 WIB

Rep: Sapto Andika Candra/ Red: Nur Aini

Presiden RI, Joko Widodo

Presiden RI, Joko Widodo

Foto: BPMI
Jokowi menilai impor bahan baku obat memboroskan devisa

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta organisasi profesi apoteker untuk ikut andil dalam menjalankan reformasi sistem kesehatan nasional. Hal itu dilakukan demi menekan ketergantungan industri farmasi dalam negeri terhadap bahan produk dan bahan baku obat impor. 

Jokowi mengungkapkan, saat ini sekitar 90 persen produk obat dan bahan bakunya masih diimpor dari luar negeri. Hal itu merupakan bukti bahwa industri farmasi nasional masih belum sepenuhnya mandiri.

Baca Juga

"Padahal negara kita sangat kaya dengan keberagaman hayati baik di daratan maupun di lautan. Hal ini jelas memboroskan devisa negara, menambah defisit neraca transaksi berjalan, dan membuat industri farmasi dalam negeri tidak bisa tumbuh dengan baik," ujar Presiden Jokowi dalam pembukaan Rakornas dan Pertemuan Ilmiah Tahunan Ikatan Apoteker Indonesia, Kamis (5/11). 

Jokowi menyebutkan, pandemi Covid-19 yang terjadi sejak awal 2020 memberi teguran bahwa kemandirian obat dan alat kesehatan sangat perlu diwujudkan di Indonesia. Satu-satunya jalan yang harus ditempuh adalah sinergi antarseluruh pihak, termasuk apoteker, ilmuwan, profesional yang terlibat, dan industri farmasi sendiri. 

"Pandemi ini telah membangkitkan rasa krisis kita dalam dunia farmasi. Untuk memacu kegiatan riset, untuk mengembangkan inovasi untuk merevitalisasi industri bahan baku obat di dalam negeri, untuk memperkuat struktur manufaktur industri farmasi kita," kata presiden. 

Peluang membangun industri farmasi nasional yang berdikasi sebenarnya terbuka lebar. Jokowi menyebutkan, keragaman hayati di Indonesia sangat memungkinkan industri bahan baku menyerap sumber daya alam hayati yang ada. Dengan begitu, ketergantungan bahan baku obat impor bisa dikurangi. 

"Keragaman hayati harus dimanfaatkan untuk memperkuat ketahanan masyarakat di bidang kesehatan. Obat fitofarmaka perlu difasilitasi untuk melewati uji klinik dan standardisasi sehingga menjadi pilihan pengobatan promotif dan preventif," ujarnya. 

Kebangkitan industri farmasi dalam negeri, ujar presiden, diharapkan mempu mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional. Hal ini juga mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja, baik di sektor hulu dan hilir farmasi. 

"Yang saya harapkan juga ikut meningkatkan kesejehtaraan para petani dan UMKM," kata Jokowi. 

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA