Wednesday, 10 Rabiul Akhir 1442 / 25 November 2020

Wednesday, 10 Rabiul Akhir 1442 / 25 November 2020

Tanda Kiamat Budak Wanita Lahirkan Tuannya, Maksudnya?    

Rabu 21 Oct 2020 20:09 WIB

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Nashih Nashrullah

Di antara tanda kiamat adalah ketika budak wanita lahirkan tuannya. Hari Kiamat (ilustrasi)

Di antara tanda kiamat adalah ketika budak wanita lahirkan tuannya. Hari Kiamat (ilustrasi)

Foto: pulsk.com
Di antara tanda kiamat adalah ketika budak wanita lahirkan tuannya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Tak ada yang tahu kapan hari kiamat akan terjadi. Bahkan Nabi Muhammad SAW pun tidak mengetahuinya. 

Menariknya, dalam sejumlah hadits, ketika Rasulullah SAW ditanya kapan kiamat, justru beliau mengalihkan menjawab pertanyaan itu dan memilih cukup menjawab dengan tanda-tanda kiamat. 

Ini misalnya terlihat dalam hadits riwayat Muslim dari Umar bin Khattab RA yang cukup populer.    

Baca Juga

عن عمر بن الخطاب رضي الله تعالى عنه قال:... فأخبرني عن الساعة قال: ما المسئول عنها بأعلم من السائل قال : فأخبرني عن أماراتها قال أن تلد الأمة ربتها وأن ترى الحفاة العراة العالة رعاء الشاء يتطاولون في البنيان 

"Lelaki itu berkata lagi, "Beritahukan kepadaku kapan terjadinya Kiamat." Nabi SAW menjawab, "Yang ditanya tidaklah lebih tahu daripada yang bertanya." Dia pun bertanya lagi, "Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya!" Nabi menjawab, "Jika budak wanita telah melahirkan tuannya, jika engkau melihat orang yang bertelanjang kaki, tanpa memakai baju (miskin papa) serta penggembala kambing telah saling berlomba dalam mendirikan bangunan megah yang menjulang tinggi." (HR Muslim)

Dilansir di Rumah Fiqih Indonesia, Ustadz Ahmad Sarwat menjelaskan, salah satu ciri akan terjadinya hari kiamat sughra (kecil) adalah jika budak wanita telah melahirkan tuannya. Dia mengakui bahwa ucapan yang disampaikan Nabi SAW tersebut agak aneh terdengar, bahkan untuk para ahli hadits sekalipun.

"Tentunya lafal ini adalah kalimat yang bisa punya makna sesungguhnya, tetapi bisa jadi sebuah idiom atau ungkapan khas, yang barangkali di masa nabi SAW cukup dipahami dengan mudah maknanya. Namun buat kita yang tidak hidup di sana, cukup bingung juga memahaminya," tuturnya.

Ustadz Ahmad memaparkan, ada beberapa penafsiran terkait hal itu dari para ulama hadits melalui banyak karyanya.  

Paling tidak ada empat makna yang saling berbeda yang seringkali diungkapkan para ulama. Satu versi melihat dengan positif dan tiga versi melihat dengan pandangan negative. 

Pertama, tanda bahwa sudah semakin tersebarnya agama Islam. Bila disebut bahwa para budak wanita telah melahirkan orang-orang yang jadi tuannya, artinya adalah perbudakan telah hilang dari muka bumi. Karena para budak itu tidak lagi melahirkan budak, melainkan telah melahirkan orang-orang yang merdeka.

Kondisi demikian menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang telah berhasil membebaskan perbudakan dan perbudakan menjadi hilang dari permukaan bumi ini. Manusia pada akhirnya tidak lagi mengalami perbudakan. "Maka ungkapan bahwa budak melahirkan tuannya dalam pendapat ini menjadi sesuatu yang bersifat positif," paparnya.

Pandangan kedua, ungkapan bahwa budak telah melahirkan tuannya sekadar menjadi ungkapan, yang bermakna bahwa anak-anak akan menjadi durhaka kepada orangtuanya, terlebih kepada ibunya. Ibarat ibu yang menjadi budak, dan anak menjadi tuan yang memperbudak ibunya sendiri.

"Dalam pandangan ini, gambarannya malah terbalik, bukan gambaran yang bersifat optimis melainkan bersifat apatis. Tanda-tanda kiamat dihiasi dengan semakin hilangnya rasa hormat kepada orang tua," lanjut Ustadz Ahmad.  

Pandangan ketiga, tersebarnya kebodohan dan hinanya syariah Islam. Dalam pandangan ini, berarti bahwa apa yang disampaikan Nabi merupakan simbol dari kebodohan yang dialami oleh umat Islam. Selain kebodohan, juga terhinanya umat Islam.

Pandangan keempat, tersebarnya zina dan nikah syubhat. Penafsiran ini menyampaikan bahwa Kiamat akan didahului dengan tersebarnya zina di mana-mana, sampai para wanita budak melahirkan anak dari orang yang merdeka, lewat perzinaan yang melanggar syariat Islam.

"Atau zina sudah menjadi sebuah fenomena massal dan kebiasaan masyarakat sehari-hari. Di mana-mana kita temui zina, bahkan di kampung sendiri. Sesuatu yang di masa lalu masih tabu kita dengar, tapi hari ini di layar kaca, sinetron kita selalu menayangkan bagaimana selingkuh dan perzinaan berubah dari tontonan menjadi tuntunan," jelas Ustadz Ahmad. 

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA