Monday, 15 Rabiul Akhir 1442 / 30 November 2020

Monday, 15 Rabiul Akhir 1442 / 30 November 2020

AS Masukkan Entitas China ke Daftar Hitam

Selasa 20 Oct 2020 07:38 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Nur Aini

Bendera China-Amerika

Bendera China-Amerika

Foto: washingtonote
Dua warga dan enam entitas asal China masuk daftar hitam AS karena transaksi Iran

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Amerika Serikat (AS) kembali memasukkan dua warga China dan enam entitas asal Beijing ke daftar hitam, Senin (19/10). Mereka dituduh telah berurusan dengan perusahaan pelayaran Iran, Islamic Republic of Iran Shipping Lines (IRISL) dan dalam beberapa kasus membantunya menghindari sanksi AS.

“Hari ini, kami mengulangi peringatan kepada para pemangku kepentingan di seluruh dunia: Jika Anda berbisnis dengan IRISL, Anda berisiko terkena sanksi AS,” kata Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, dalam pernyataannya.

Departemen Luar Negeri AS entitas perusahan yang masuk daftar hitam tersebut adalah Reach Holding Group (Shanghai) Company Ltd ., Reach Shipping Lines, Delight Shipping Co., Ltd., Gracious Shipping Co. Ltd., Noble Shipping Co. Ltd., dan Supreme Shipping Co. Ltd. Sedangkan, dua warga China yang ditargetkan adalah Eric Chen atau juga dikenal sebagai Chen Guoping, kepala eksekutif Reach Holding Group (Shanghai) Company Ltd., dan Daniel Y. He, juga dikenal sebagai He Yi, presiden perusahaan itu. 

Baca Juga

Dengan masuk ke dalam daftar Warga Negara yang Ditunjuk Khusus dari Departemen Keuangan AS, aset perusahaan dan individu yang berada di bawah yurisdiksi AS dibekukan. Warga AS pun dilarang berurusan dengan mereka.

Departemen Luar Negeri menuduh enam entitas tersebut menyediakan barang atau jasa signifikan yang digunakan dengan sektor perkapalan Iran. AS juga menuduh Reach Holding Group dan unit Reach Shipping Lines membantu IRISL dan anak perusahaannya menghindari sanksi AS.

Sanksi tersebut adalah yang terbaru diberlakukan oleh AS setelah keputusan Presiden Donald Trump pada 2018 untuk meninggalkan kesepakatan nuklir 2015 yang dibuat Iran dengan enam negara besar. Di bawah perjanjian yang bertujuan untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir, Teheran berkomitmen untuk membatasi aktivitas nuklirnya dengan imbalan keringanan sanksi ekonomi.

Trump berpendapat kesepakatan 2015 tidak membatasi aktivitas rudal regional dan balistik Iran. Tekanan ekonomi malah akan memaksa Teheran membuat kesepakatan yang lebih luas. Iran membantah mencari senjata nuklir. 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA