Wednesday, 17 Rabiul Akhir 1442 / 02 December 2020

Wednesday, 17 Rabiul Akhir 1442 / 02 December 2020

Presiden Kirgizstan Siap Mundur Setelah Pemilu Ulang

Kamis 15 Oct 2020 16:36 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Nur Aini

Warga Kirgizstan yang memprotes hasil pemilihan parlemen menjebol kantor pemerintah. Ilustrasi.

Warga Kirgizstan yang memprotes hasil pemilihan parlemen menjebol kantor pemerintah. Ilustrasi.

Foto: EPA
Kirgizstan diguncang unjuk rasa yang menuntut pemilihan parlemen baru.

REPUBLIKA.CO.ID, BISHKEK - Presiden Kirgizstan Sooronbay Jeenbekov, mengatakan bahwa dia akan siap mundur, Rabu (14/10) waktu setempat. Keputusannya mundur akan dia lakukan setelah pemilihan parlemen ulang diadakan dan pemilihan presiden diumumkan.

Dilansir Andolu Agency, pernyataan Jeenbekov dikeluarkan melalui sekretaris persnya Tolganay Stamaliyeva, menyusul pertemuannya dengan Perdana Menteri Sadyr Zhaparov. Jeenbekov menekankan, bahwa menurutnya untuk saat ini tidak tepat untuk meninggalkan jabatannya. Sebab, hal itu dapat memicu skenario yang tidak dapat diprediksi terhadap negara.

Zhaparov adalah mantan anggota parlemen yang dibebaskan pekan lalu dari penjara oleh para pendukungnya selama protes terhadap hasil pemilu pada 4 Oktober untuk memilih 120 anggota baru parlemen. Zhaparov mengatakan, pihaknya akan menuntut pengunduran diri Jeenbekov besok.

Baca Juga

Parlemen Kirgizstan mengangkat perdana menteri Zhaparov pada Sabtu lalu. Berkumpul di Kediaman Negara Ala Archa di ibu kota Bishkek, 63 anggota parlemen saat ini dengan suara bulat menyetujui jabatan baru Zhaparov dan kabinetnya.

Protes di Kirgizstan meletus awal bulan ini. Para pengunjuk rasa membobol parlemen dan gedung lainnya bahkan bentrok dengan polisi. Mereka menuntut pemilihan parlemen baru. Otoritas pemilu kemudian membatalkan hasil pemilu 4 Oktober tersebut.

Sebelumnya, otoritas pemilu mengumumkan bahwa hanya empat dari 16 partai yang berhasil melewati ambang batas 7 persen untuk masuk parlemen. Sejak Ahad, pendukung partai yang gagal mencapai ambang batas mengumumkan penolakan mereka terhadap hasil pemilu, dengan alasan proses pemilu tidak adil.

Bentrokan antara pengunjuk rasa dan pasukan keamanan menyebabkan satu orang tewas dan 590 lainnya terluka.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA