Jumat 02 Oct 2020 10:03 WIB

Tingkat PHK di Amerika Serikat Tetap Tinggi

Sekitar 25 juta orang di Amerika Serikat bergantung pada bantuan pengangguran.

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Nidia Zuraya
Data PHK akibat pandemi Covid-19. ilustrasi
Foto: Infografis Republika.co.id
Data PHK akibat pandemi Covid-19. ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Jumlah orang Amerika Serikat yang mencari tunjangan pengangguran turun pada pekan lalu ke level 837 ribu, seperti dilansir di AP, Kamis (1/10). Tren ini menjadi bukti, ekonomi terbesar dunia itu sedang berjuang untuk mempertahankan pemulihan tentatif yang dimulai pada musim panas ini.

Secara keseluruhan, bantuan pengangguran telah menyusut dalam beberapa pekan terakhir, bahkan saat sekitar 25 juta orang bergantung pada bantuan ini. Hilangnya pendapatan tersebut kemungkinan akan melemahkan tingkat konsumsi dan perekonomian dalam beberapa bulan mendatang.

Baca Juga

Cek federal 600 dolar AS tiap minggu diberikan Kongres dalam paket bantuan ekonomi musim semi lalu. Bantuan ini tersedia bagi para penganggur, di samping tunjangan pengangguran masing-masing negara bagian. Tapi, tunjangan ini sudah berakhir pada akhir Juli.

Sementara itu, tunjangan 300 dolar AS tiap pekan yang ditawarkan oleh Presiden Donald Trump hanya berlangsung sampai pertengahan September. Habisnya tunjangan pengangguran ini mengakibatkan pendapatan dan pengeluaran orang Amerika menurun atau melambat.

Total tunjangan pengangguran yang dibayarkan turun lebih dari setengah pada Agustus, menurut Departemen Perdagangan. Hal ini mengakibatkan, pendapatan orang Amerika turun pada bulan yang sama sebesar 2,7 persen. Apabila tren ini terus berlanjut, pertumbuhan ekonomi dapat melemah.

Belanja konsumen memang naik satu persen pada Agustus, namun melambat dari kenaikan 1,5 persen pada Juli. Di sisi lain, sebagian dari peningkatan belanja dikarenakan beberapa konsumen memanfaatkan tabungan mereka.

Ekonom di Oxford Economics Gregory Daco mengatakan, tingkat konsumsi masyarakat tergantung pada dua hal, yakni ketersediaan pekerjaan dan stimulus dari pemerintah. "Kecuali pertumbuhan lapangan kerja meningkat atau bantuan pemerintah diperpanjang, belanja konsumen berisiko melambat secara dramatis selama fase kedua pemulihan," katanya.

Indikator ekonomi AS lainnya mengirimkan sinyal beragam. Kepercayaan konsumen melonjak pada September, didorong optimisme di antara rumah tangga berpenghasilan tinggi, meskipun masih di bawah tingkat sebelum pandemi.

Sementara itu, indikator penjualan rumah yang tertunda naik pada Agustus ke rekor tertinggi. Realisasi ini terangkat oleh suku bunga hipotek yang sangat rendah.

Tapi, beberapa indikator menunjukkan, pertumbuhan telah kehilangan momentum dengan pandemi Covid-19 yang masih menekan banyak pengusaha. Khususnya, pengecer kecil, hotel, restoran dan maskapai penerbangan.

Dalam laporan klaim pengangguran pada Kamis, Departemen Tenaga Kerja mengatakan, jumlah orang yang terus menerima tunjangan turun menjadi 11,8 juta. Ini memperpanjang penurunan yang stabil sejak musim semi. Tren tersebut menunjukkan, banyak pengangguran ditarik kembali ke pekerjaan lama mereka.

Tapi, penurunan tersebut juga mencerminkan fakta, puluhan ribu orang Amerika yang menganggur telah menghabiskan tunjangan pengangguran mereka. Kebanyakan di antara mereka sedang dalam proses transisi ke perpanjangan program bantuan yang memberikan tunjangan selama tiga bulan tambahan.

Klaim pengangguran pada masa pandemi ini berada di level tertinggi yang dicapai setelah Great Recession 2008-2009. Tapi, pekan lalu, ekonom Gold Sachs mencatat dari data pemerintah lainnya, tingkat Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) telah turun di bawah level Great Recession.

Kenyataannya, di lapangan, banyak perusahaan besar mengumumkan PHK lebih lanjut. Pada pekan ini, Disney mengumumkan pemangkasan 28 ribu pekerjaan di California dan Florida sebagai konsekuensi dari berkurangnya permintaan pada masa pandemi.

Maskapai penerbangan AS, pada Kamis, mulai memberhentikan lebih dari 32 ribu karyawan karena bantuan federal untuk maskapai telah berakhir. American Airlines dan United Airlines mengatakan, mereka akan memulai merumahkan 32 ribu karyawan setelah anggota parlemen dan Gedung Putih gagal menyetujui paket bantuan pandemi yang akan memberikan bantuan kepada maskapai.

sumber : AP
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement