Wednesday, 10 Rabiul Akhir 1442 / 25 November 2020

Wednesday, 10 Rabiul Akhir 1442 / 25 November 2020

Kemendikbud Sebut tidak Ada Program Studi yang Suram

Jumat 02 Oct 2020 02:50 WIB

Red: Reiny Dwinanda

Jurusan kuliah favorit calon mahasiswa baru (ilustrasi). Kemendikbud mengingatkan bahwa Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) bukan satu-satunya penentu kesuksesan mahasiswa setelah lulus dari kuliah.

Jurusan kuliah favorit calon mahasiswa baru (ilustrasi). Kemendikbud mengingatkan bahwa Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) bukan satu-satunya penentu kesuksesan mahasiswa setelah lulus dari kuliah.

Foto: mgrol101
Kemendikbud menyerukan mahasiswa perguruan tinggi vokasi tak rendah diri.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Wikan Sakarinto mengatakan, tidak ada program studi yang suram. Hal itu ia sampaikan dalam Kuliah Umum Mahasiswa Baru STP Trisakti 2020/2021 di Jakarta, Kamis.

"Di dunia ini tidak ada program studi yang suram. Segala sesuatunya harus dilakukan dengan passion. Bahkan, masuk Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada pun, kalau tidak passion akan menjadi suram," ujar Wikan.

Oleh karena itu, Wikan meminta agar mahasiswa baru yang masuk ke pendidikan vokasi maupun perguruan tinggi vokasi tidak merasa rendah diri dengan rekan-rekannya yang masuk perguruan tinggi akademik. Jika mahasiswa ingin keberadaannya naik maka harus dibuktikan dengan kompetensi kemampuan nonteknis yakni bisa bicara, berempati, kemampuan komunikasi yang baik, menerima perbedaan, dan berpikir kritis.

"Yang paling penting adalah berani berinovasi, tidak takut melakukan kesalahan," kata dia.

Dalam kesempatan itu, Wikan mengungkapkan bahwa Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) bukan satu-satunya penentu kesuksesan mahasiswa setelah lulus dari kuliah. Kompetensi yang utama adalah kompetensi nonteknis.

Sejumlah perusahaan bahkan mengeluhkan bahwa banyak lulusan perguruan tinggi yang kurang tahan menghadapi tekanan dalam dunia kerja. Lulusan perguruan tinggi juga disebut ada saja yang kurang dapat bekerja sama dalam sebuah tim, kurang dapat berkomunikasi lisan dan tulisan, serta kurang inisiatif, dan mudah bosan.

"Di dunia industri yang dibutuhkan adalah kemampuan nonteknis," cetus dia.

Kemendikbud, menurut Wikan, merancang konsep "pernikahan massal" antara pendidikan vokasi dan industri, dunia usaha dan dunia kerja. Program tersebut bukan hanya sekadar tanda tangan saja, namun lebih dalam dan erat.

Program itu mulai dari penyusunan kurikulum, pelatihan, magang, dosen tamu hingga pemberian beasiswa. Melalui program tersebut, maka semakin tinggi minat industri untuk merekrut lulusan pendidikan vokasi.

Ketua Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Trisakti, Fetty Asmaniati, mengatakan pihaknya melakukan sejumlah perubahan untuk mahasisw angkatan baru. Mulai tahun akademik 2020/2021, pihaknya menerapkan kebijakan Kemendikbud, yakni Kampus Merdeka.

Untuk pembelajaran, STP Trisakti mengutamakan teori lebih dulu baru kemudian praktik begitu kondisi pandemi Covid-19 mulai melandai. Fetty berharap, melalui kuliah umum yang diselenggarakan kampusnya, wawasan maupun pengetahuan mahasiswa baru dapat bertambah.

"Mudah-mudahan kalian akan memahami setelah lulus mau kemana," kata Fetty.

Ketua Yayasan Trisakti, Bimo Prakoso, berharap mahasiswa baru dapat beradaptasi dengan dunia perkuliahan dengan baik. Bimo berpesan agar mahasiswa menjauhi narkoba dan mampu berkolaborasi dengan sesamanya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA