Wednesday, 4 Rabiul Awwal 1442 / 21 October 2020

Wednesday, 4 Rabiul Awwal 1442 / 21 October 2020

Pakar: Brucellosis tidak Menular Antarmanusia

Jumat 25 Sep 2020 09:20 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Reiny Dwinanda

Pemusnahan hewan ternak yang terinfeksi bakteri Brucella sp, penyebab penyakit Brucellosis.

Pemusnahan hewan ternak yang terinfeksi bakteri Brucella sp, penyebab penyakit Brucellosis.

Foto: EPA
Pada manusia, Brucellosis bisa diatasi dengan pemberian antibiotik.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Pekan lalu, ribuan orang di China terserang penyakit infeksi bernama Brucellosis yang diduga kuat dikarenakan kebocoran pabrik biofarmasi. Kondisi ini mengkhawatirkan karena dunia khawatir penyakit ini menular seperti Covid-19.

Pakar zoonosis (penyakit yang ditularkan hewan) Fakultas Kedokteran Hewan UGM Prof. I Wayan Tunas Artama menjelaskan, Brucellosis penyakit yang disebabkan bakteri Brucella sp. Selama ini, kejadiannya belum pernah dari orang ke orang.

"Sangat jarang sekali, biasanya penularan dari hewan ternak seperti kambing, domba, sapi, dan babi ke manusia atau produk hewani seperti susu kambing yang tidak disterilisasi atau pasteurisasi," kata Wayan di Yogyakarta, Kamis (24/9).

Wayan menilai, Brucellosis mewabah di China karena penanganan yang tidak layak dalam industri vaksin untuk hewan. Sebab, mereka memakai desinfektan yang sudah kedaluarsa, sehingga bakteri menyebar ke lingkungan dan menginfeksi 3.000 orang.

Ada beberapa gejala yang muncul bila manusia terinfeksi bakteri dari hewan ternak ini. Penderitanya akan merasakan demam, sakit di sendi, pusing, hingga gangguan yang sangat fatal di hati, yang dapat mengakibatkan kematian kepada orang penderitanya.

"Pencegahannya bisa dengan vaksinasi ke ternak dan orang yang sakit dapat diobati dengan antibiotik," ujar Wayan.

Belajar dari kasus merebaknya Covid-19 dan Brucellosis di China, menurut Wayan, ancaman zoonosis harus diwaspadai karena memang ada di depan mata. Banyak pemangku kepentingan dan masyarakat kewalahan mengantisipasi penyebaran penyakit itu.

"Karena kita tidak tahu kapan akan muncul di wilayah kita. Itu sangat terkait globalisasi, transportasi modern, keamanan pangan, industrialisasi, ledakan penduduk di muka bumi ini, dan ditambah perubahan iklim," kata Wayan.

Menurut Wayan, penerapan one health menjadi salah satu solusi menyelesaikan masalah penyakit zoonotik. Sebab, kejadian penyebaran penyakit yang bersumber hewan selama ini sebenarnya tidak lepas dari kelalaian manusia.

"Karena ulah manusia, biosecurity dan biosafety yang tidak dilaksanakan sebagaimana mestinya," ujar Wayan.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA