Tuesday, 6 Syawwal 1442 / 18 May 2021

Tuesday, 6 Syawwal 1442 / 18 May 2021

Sikap Muhammadiyah Soal Pembakaran Alquran di Swedia

Selasa 01 Sep 2020 14:37 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Muhammad Hafil

Sikap Muhammadiyah Soal Pembakaran Alquran di Swedia. Foto: Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir memberikan paparan pada Sidang Pleno Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VII di Pangkal Pinang, Kepulauan Bangka Belitung, Kamis (27/2).

Sikap Muhammadiyah Soal Pembakaran Alquran di Swedia. Foto: Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir memberikan paparan pada Sidang Pleno Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VII di Pangkal Pinang, Kepulauan Bangka Belitung, Kamis (27/2).

Foto: Republika/Putra M. Akbar
Kerusuhan di Swedia dipicu pembakaran Alquran.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengecam keras tindakan pembakaran Alquran dan penghinaan kepada Nabi Muhammad SAW yang dilakukan kelompok yang menamakan diri Stop Islamization of Norway. Terjadi di Swedia dan Norwegia.

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir mengatakan, aksi demonstrasi yang mengusung anti-Islam di Norwegia dan telah berakhir ricuh itu menunjukkan sikap Islamofobia yang sangat buruk. Apalagi, dilakukan pada era modern.

"Yang semestinya menjunjung tinggi perbedaan agama, ras, suku bangsa dan golongan apapun," kata Haedar lewat rilis yang diterima Republika, Selasa (1/9).

Apalagi, lanjut Haedar, aksi tersebut dilakukan di negara yang dikenal sangat toleran. Terlebih, Swedia merupakan negara asal Alfred Nobel, yang memberikan penghargaan kepada pihak yang berkontribusi menjaga perdamaian.

PP Muhammadiyah menghargai negara-negara Islam dan pihak-pihak lain yang menyampaikan protes atas tindakan anarkis tersebut. Meski begitu, tetap mengimbau umat Islam tidak terpancing dan menjunjung tinggi perdamaian.

Muhammadiyah menghimbau dan mengajak masyarakat Muslim di dunia Islam, khususnya di Indonesia, agar tetap tenang dan dewasa menyikapi peristiwa di Norwegia itu. Yaitu, senantiasa secara damai, proporsional, dan elegan.

"Seraya menghindari reaksi berlebihan dan tindakan yang tidak mencerminkan karakter Islam yang menjunjung tinggi perdamaian dan misi rahmatan lil alamin," ujar Haedar. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA