Thursday, 11 Rabiul Akhir 1442 / 26 November 2020

Thursday, 11 Rabiul Akhir 1442 / 26 November 2020

Ekstremis Supremasi Kulit Putih Amerika Serikat Jiplak ISIS?

Selasa 25 Aug 2020 21:23 WIB

Rep: Dea Alvi Soraya/ Red: Nashih Nashrullah

Riset terbaru ungkap ekstremis supremasi kulit putih Amerika Serikat Jiplak ISIS. Kelompok supremasi kulit putih

Riset terbaru ungkap ekstremis supremasi kulit putih Amerika Serikat Jiplak ISIS. Kelompok supremasi kulit putih

Foto: wikipedia
Riset terbaru ungkap ekstremis supremasi kulit putih Amerika Serikat Jiplak ISIS.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON— Sebuah studi terbaru menyebutkan aksi ekstremis sayap kanan Amerika Serikat dan kelompok supremasi kulit putih mengadopsi cara yang biasa digunakan ISIS untuk merekrut anggota secara daring. 

Di masa kepemimpinan Trump, kelompok ekstremis sayap kanan dan nasionalis kulit putih telah tumbuh dan lebih berani muncul dalam forum publik. Mereka juga mulai menduplikasi cara para jihadis untuk menjaring anggota baru.

“Meskipun ISIS adalah kelompok yang mapan dan terpusat dengan struktur organisasi hierarkis, [taktik, teknik, dan prosedur] yang mereka manfaatkan untuk mengatur, merekrut, menghasut tindakan, dan menyebarkan informasi online tampaknya telah diadopsi beberapa radikal domestik yang muncul di Amerika Serikat,” kata laporan baru dari perusahaan analisis data Babel Street yang dikutip di Nextgov, Selasa (25/8). 

Baca Juga

Peneliti melihat beberapa kelompok dengan berbagai kepercayaan, struktur, dan intensitas, termasuk Divisi Atomwaffen, kelompok neo-Nazi yang cukup tertutup, dan Koalisi Not Fucking Around, atau NFAC, adalah kelompok yang bersenjata berat, anti-pemerintah dengan kekuatan yang kuat, dan pemimpin karismatik yang memproduksi podcast dan pesan harian untuk anggota. 

"Mereka bertolak belakang dengan Boogaloo Bois, sebuah gerakan desentralisasi tanpa kepemimpinan yang kuat, yang memiliki keyakinan bersama bahwa ketegangan sosial di Amerika Serikat di sepanjang garis ras dan ekonomi akan menyebabkan pergolakan kekerasan dan perang saudara," tulis Patrick Tucker, salah satu Editor bidang teknologi Babel Street dalam penelitian tersebut. 

Setelah setahun meninjau konten yang diposting di seluruh halaman, forum, dan di dalam saluran milik grup, Babel Street menemukan hal signifikan yang tumpang tindih antara anggota, dan serangkaian taktik dan prosedur umum untuk berbagi konten dan gambar. Banyak dari teknik ini dipelopori ISIS, yang memulai gelombang rekrutmennya secara online melalui media sosial konvensional. 

"Cara ini pula yang menciptakan kelompok dan jaringan yang lebih kecil dan lebih aktif. Saat ISIS semakin terdesak dari platform seperti Facebook, mereka mendorong anggota grup ke saluran terenkripsi di aplikasi seperti Telegram," sambung Tucker.  

Meski begitu, Tucker Holmes, spesialis solusi senior di Babel Street mengatakan bahwa konten yang dibagikan oleh kelompok ekstrimis sayap kanan sangat berbeda dengan konten ISIS. Ketika ISIS lebih banyak menyebarkan gambar berbau kekerasan, mereka justru lebih banyak membagikan meme dan menggunakan situs populer, dibandingkan forum yang lebih privat seperti yang digunakan ISIS.  

“Mereka membuat meme ini, menyebarkannya di media sosial, dan kemudian meme ini mengarahkan orang yang membagikannya untuk menemukan kelompok yang berbagi konten serupa. Dari sana, mereka mungkin menemukan outlet kecil atau kelompok lain di mana orang-orang berbicara lebih terbuka. Dengan cara itu mereka perlahan-lahan ditarik ke dalam komunitas," jelas Holmes.  

“Anda mungkin memiliki sekelompok orang yang mengikuti satu akun dan kemudian akun itu akan berkata, 'Hai. Saya membuat saluran di Discord. Atau saya membuat saluran di Telegram. Jika Anda tertarik, daftar. 'Dari sana, mereka akan mendorong orang-orang ke platform lain di mana mereka dapat yakin untuk terus membaca konten grup," sambung Holmes. 

Konten tersebut dapat berupa apa saja mulai dari propaganda atau lebih banyak meme secara global, hingga berbagi deskripsi senjata dan atau perlengkapan taktis dalam kelompok di tingkat yang lebih kecil. Sejauh suatu kelompok memiliki pemimpin, seperti koalisi NFAK, ancaman deplatforming dapat berfungsi sebagai percepatan untuk bergabung dengan kelompok-kelompok yang lebih kecil dalam jaringan. 

"Anggota didorong secara khusus untuk bergabung dengan saluran Telegram atau papan pesan tambahan untuk tetap berhubungan setelah pemblokiran," kata Holmes.

Semua grup yang disurvei Babel Street tampaknya menunjukkan kesadaran bahwa mereka telah menarik perhatian penegak hukum, yang memengaruhi perilaku mereka dengan berbagai cara. Divisi Atomwaffen sangat berhati-hati untuk menghindari perekrutan terbuka, kata Holmes. "Mereka pernah dihabisi di masa lalu, dan karenanya mereka mengambil pendekatan akar rumput yang terdesentralisasi," ujarnya.  

Saat Facebook, Youtube, dan Twitter mulai berhasil membersihkan diri dari konten jihadis, Facebook juga mulai mengambil langkah untuk menghalau konten yang berhubungan dengan Boogaloo Bois dan kelompok sayap kanan, meski tidak seefektif saat mereka menyapu konten ekstremis Islam.  

Holmes menjelaskan, para Jihadis biasanya akan berbagi video spesifik yang sama. Setelah salah satu moderator perusahaan media sosial menangkapnya, mereka dapat membubuhkan hash digital ke gambar dan membagikannya dengan perusahaan lain sehingga citra dapat dideteksi secara otomatis dan dihapus segera setelah diposting, mirip dengan metode kepolisian perusahaan media sosial. 

Namun konten ekstremis sayap kanan memiliki berbagai bentuk dan hanya sebagian yang secara tegas berisi kekerasan. Seseorang yang berbagi foto sejarah Nazi atau gambar yang terkait dengan Konfederasi bisa jadi seorang ekstremis atau hanya berdiskusi netral tentang sejarah, atau berbagi artikel berita terkini. Dan, tentu saja, individu yang berbagi konten semacam itu mungkin saja individu non-kekerasan yang bersimpati pada tujuan sayap kanan.  "Di situlah tantangan nyata untuk menghentikan penyebaran bahasa kebencian di media sosial," katanya.

Menurut Patrick Tucker, CEO Facebook Mark Zuckerberg telah keliru di sisi apa yang dia gambarkan dalam pidatonya pada bulan Oktober di Universitas Georgetown sebagai ekspresi bebas, menjadi sebuah sikap yang mengundang kritik dari koalisi kelompok hak-hak sipil seperti NAACP dan Anti-Defamation League. 

Upaya legislatif untuk menangani jaringan sayap kanan telah diserap oleh pertarungan yang lebih besar mengenai apakah platform seperti Twitter dan Facebook harus kehilangan perlindungan karena mencoba melarang kelompok tertentu. 

Meski Facebook menyatakan tidak keberatan kehilangan bisnis dari beberapa Jihadis. Namun kehilangan kantong besar kaum konservatif Amerika, yang tak banyak melakukan kekerasan tapi memupuk rencana penganiayaan kolektif, menjadi pertimbangan berbeda. 

Sumber: https://www.nextgov.com/it-modernization/2020/08/right-wing-extremism-and-islamic-extremism-spreads-online-similar-ways-new-study-says/167924/

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA