Senin 24 Aug 2020 17:59 WIB

Serangan Bom di Filipina Selatan Dikhawatirkan Berlanjut

Pemerintah Filipina menyatakan ada ancaman serangan bom bunuh diri

Rep: Lintar Satria/ Red: Nur Aini
Petugas berjaga di lokasi pengeboman di Filipina Selatan
Foto: SONNY ABBING SPIO / HANDOUT/EPA
Petugas berjaga di lokasi pengeboman di Filipina Selatan

REPUBLIKA.CO.ID, MANILA -- Bom yang diduga dipasang pemberontak menewaskan 11 tentara dan warga sipil di selatan Filipina. Pemerintah mengatakan keamanan di wilayah itu sudah diperketat karena pemberontak yang berafiliasi dengan ISIS mengancam akan menggelar serangan bom bunuh diri.

Pemerintah Filipina melaporkan serangan itu juga melukai hampir 40 tentara, polisi dan warga sipil. Komandan daerah militer Letnan Jenderal Corleto Vinluan mengatakan serangan pertama menewaskan lima orang tentara dan empat warga sipil.

Baca Juga

Serangan tersebut terjadi ketika bom yang dipasang di sebuah sepeda motor meledak di dekat dua truk tentara yang diparkir di depan di sebuah toko kelontong dan komputer di kota Jolo, Provinsi Sulu. "Bom rakitan yang dipasang di kendaraan itu meledak saat pasukan kami sedang melakukan pemasaran," kata Vinluan, Senin (24/8).

Bom kedua yang tampaknya bom bunuh diri yang dilakukan seorang perempuan meledak satu jam kemudian. Militer Filipina mengatakan bom tersebut menewaskan pelaku dan seorang tentara serta melukai sejumlah orang. Dalam laporannya militer mengatakan pelaku berjalan keluar dari toko makanan ringan dan mendekati tentara yang sedang menjaga katedral Katolik Roma.

"Tiba-tiba meledakan dirinya sendiri," kata militer Filipina dalam laporan mereka.

Demi mencegah serangan susulan, militer Filipina menempatkan penembak jitu di sekitar lokasi kejadian. Sementara para korban sudah dibawa dengan ambulan. Juru bicara militer Filipina Letnan Kolonel Ronald Mateo mengatakan serangan bom tersebut juga menewaskan tentara ketujuh.

Namun Mateo tidak menjelaskan keterangannya lebih lanjut. Bom ketiga yang tidak meledak dilaporkan ditemukan di sebuah pasar. Insiden itu membuat kota Jolo segera ditutup oleh polisi dan tentara. Itu menjadi serangan bom paling mematikan di Filipina pada tahun ini.  

Serangan ini terjadi saat Filipina dan negara-negara Asia Tenggara lainnya masih dicengkram pandemi virus corona. Juru bicara kantor kepresidenan Filipina Harry Roque mengutuk serangan bom tersebut 'dalam istilah yang sekuat mungkin'.

Sebuah foto menunjukkan seorang tentara menggendong laki-laki dari lokasi ledakan. Sementara korban lainnya tergeletak di tengah jalan. Terlihat sepeda motor yang hancur dan potongan bagian tubuh.  

Bom pertama dilakukan di dekat alun-alun kota dan gereja katedral di provinsi mayoritas muslim. Wilayah selatan Filipina itu adalah rumah dari minoritas muslim di negara mayoritas Katolik. Selama berpuluh-puluh tahun wilayah tersebut didera pemberontakan muslim.

Belum ada kelompok yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. Tapi militer Filipina menyalahkan komandan kelompok milisi Abu Sayyaf,  Mundi Sawadjaan. Pada pekan lalu perwira militer mengatakan Sawadjaan merencanakan serangan bom bunuh diri yang dilaksanakan oleh dua orang perempuan.

 

sumber : AP
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement