Thursday, 11 Rabiul Akhir 1442 / 26 November 2020

Thursday, 11 Rabiul Akhir 1442 / 26 November 2020

Emil Jadi Relawan Vaksin Covid-19 untuk Kurangi Hoaks

Selasa 11 Aug 2020 16:39 WIB

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Gita Amanda

Presiden Jokowi bersama Ketua Pelaksana KPCPEN Erick Thohir, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, dan Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir menyaksikan uji klinis vaksin covid di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung, Jawa Barat, Selasa (11/8).

Presiden Jokowi bersama Ketua Pelaksana KPCPEN Erick Thohir, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, dan Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir menyaksikan uji klinis vaksin covid di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung, Jawa Barat, Selasa (11/8).

Foto: KCPEN
Keikutsertaan Emil diharapkan menambah keyakinan masyarakat terkait vakis Covid-19

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Sejumlah kepala daerah turut berpartisipasi dalam uji klinis calon vaksin Covid-19 dari China. Satu yang sudah resmi terdaftar adalah Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Ridwan Kamil pun, mengemukakan alasannya menjadi relawan kepada Presiden RI Joko Widodo. Menurutnya, ia mendaftar menjadi relawan untuk mengurangi hoaks.

"Kita harus mengurangi hoaks tentang vaksin Covid-19, saya daftar sebagai relawan untuk menurunkan provokasi yang tak perlu," ujar Ridwan Kamil yang akrab disapa Emil, Selasa (11/8).

Emil pun menyambut baik, kunjungan Presiden Jokowi ke laboratorium Bio Farma dan melihat langsung masyarakat yang akan menjadi relawan. "Agenda Bapak, simbol yang penting karena Provinsi Jabar bisa memproduksi alat perang melawan Covid-19. APD diproduksi disini melimpah, PCR portable dan sekarang vaksin, kebetulan pabriknya ada di Bio Farma di Bandung," paparnya.

Menurut Emil, saat ini ia masih menunggu hasil keputusan apakah dia lolos menjadi relawan atau tidak. “Saya sudah mendaftarkan didaftarkan oleh tim kesehatan saya secara online, jadi kwitansi, receive online atau tanda buktinya sudah ada, nanti saya posting juga,” katanya.

Alasan keinginannya ikut serta dalam uji klinis sebagai relawan diharapkan bisa menambah keyakinan masyarakat terkait upaya pembuatan vaksin Covid-19 diproses secara ilmiah.

“Jadi tidak ada istilah ‘oh rakyat dikorbankan, pemimpinnya aja nggak yakin, masa rakyatnya harus ikutan’. Nggak. Semuanya juga ikutan. Makanya Gubernur juga ikutan dalam proses ini. Dan kalau berhasil nanti saya sampaikan berhasil untuk diproduksi, dan kalau tidak berhasil ya saya sampaikan kurang berhasil tapi terus kita ikhtiar,” ujar Emil melanjutkan.

Ia berharap proses uji klinis dan pendaftaran relawan bisa berjalan lancar. Jika hasil tim uji klinis menyatakan dirinya lulus masuk kategori sebagai relawan, maka setiap prosedur dalam tahapannya akan dilakukan dengan maksimal.

“Mudah mudahan lancar, kalaupun iya (lolos jadi relawan), saya laksanakan sesuai prosedur tidak ada keistimewaan, kalaupun tidak ya saya permaklumkan mungkin ada faktor faktor kesehatan yang diperhatikan,” katanya.

Sementara menurut Direktur Indonesia Political Research & Consulting (IPRC) Iman Soleh, keterlibatan kepala daerah itu bisa menambah harapan rakyat, bahwa jalan keluar dari pandemi ini akan ditemukan dalam waktu dekat.

"Ini hal yang positif menurut saya, keterlibatan kepala daerah bisa menjadi motivasi bagi rakyat, bahwa obat atau vaksin dari Covid-19 akan segera ditemukan. Ini merupakan hal yang membanggakan," kata Iman saat dihubungi, Selasa (11/8).

Kendati begitu, ia menegaskan agar kepala daerah yang terlibat dalam uji klinis calon vaksin corona ini tak membalut isu ini dengan kepentingan politis. Artinya, projek kemanusiaan ini jangan disangkutpautkan dengan perolehan suara.

"Jangan sampai uji klinis ini dianggap sebagai bagian dari kontestasi penanganan Covid-19. Harus berasal dari hati yang murni untuk menjadi sukarelawan untuk tujuan kemanusiaan," kata Iman.


BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA